From Zero To Hero

From Zero To Hero

  Kamis, 15 November 2018 00:02
Bisnis online kini bisa dikembangkan semua kalangan, termasuk mantan pecandu narkoba. (foto: eclatantedesign)

Berita Terkait

Mantan Pecandu Narkoba Geluti Bisnis Online

Ini cerita tentang mereka yang pernah terpuruk karena narkoba. Berusaha bangkit, mereka kini mengembangkan bisnis online. Usaha jasa pengiriman logistik berperan besar membantu keberhasilan mereka.

ASHRI ISNAINI, Pontianak

BANYAK yang punya bisnis online. Tapi tidak banyak yang seperti Yadi (34). Ia begitu gigih memasarkan produk-produknya lewat media sosial. Ia juga gigih mengajak teman-temannya agar mengikuti jejaknya. Lewat komunitas yang didirikannya.

Yadi pernah menghadapi situasi paling buruk: menjadi pecandu narkoba. Pernah keluar masuk penjara. Luntang-lantung. Tidak dipedulikan keluarga. Itulah masa-masa kelam yang pernah dialaminya.

Melalui bisnis online yang digelutinya, Yadi bertekad membuka lembaran baru. Mencoba bangkit dan mencari penghidupan yang lebih baik. Kenyataannya, ia kini berhasil mengembangkan usaha online-nya itu. Tidak hanya memutus rangkaian masa-masa suramnya, ia juga berhasil menghidupi keluarganya.

“Alhamdulillah. Pelanggan saya kini tersebar di seluruh Kalbar,” kata Yadi saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Jalan Putri Dara Hitam, Pontianak, Selasa (13/11) siang.

Usaha online-nya dimulai sejak 2015. Awalnya Yadi merintis usaha penjualan baju. Saat itu, bisnis online memang sedang booming. Kebetulan, laki-laki berkulit sawo matang itu juga senang membeli baju lewat online.  

“Saya pesan baju-baju dari Solo, Tanah Abang dan Bandung, lalu saya pasang di media sosial. Alhamdulillah banyak yang tertarik. Hasil penjualannya lumayan. Bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga,” ujarnya.

Kini, Yadi tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga merambah barang-barang lain. Mulai dari seprai, sarung bantal, hingga sepatu. “Yang laku dijual saya jual,” katanya.

Sebagai mantan pecandu, Yadi sulit untuk melamar pekerjaan formal. Ia pernah melamar di sebuah perusahaan, tapi ditolak. Sebab dia tak bisa menunjukkan surat berkelakuan baik dari kepolisian.

Bisnis online dipilihnya karena paling mudah, murah dan terjangkau. Juga tak perlu membuat surat lamaran pekerjaan. Untuk memulai usaha tak harus mempunyai toko dan modal yang besar. Cukup memiliki telepon genggam ia sudah bisa menjalankan bisnis. Untuk menyimpan barang pesanan dia gunakan tempat tinggalnya.

Sadar dengan masa lalu yang negatif, ia berupaya keras membangun kepercayaan pelanggannya. Upaya itu membuahkan hasil.  Hingga saat ini cukup banyak konsumen yang menjadi pelanggan setianya. Yadi pun terus mengembangkan jaringan bisnisnya agar lebih luas.

“Tidak hanya orang Kalbar, baju-baju dan seprai yang saya jual via online juga banyak dipesan orang luar, seperti dari Manado, Palembang hingga Papua,” katanya.

Untuk jasa pengiriman barang sendiri, sejauh ini Yadi menggunakan jasa JNE. Ia menilai JNE memiliki cakupan jaringan yang lebih luas. Layanan JNE dianggap sudah tersistem dengan baik secara online. “Sampainya tepat waktu. Juga terpercaya. Sehingga barang yang dipesan diterima dengan baik oleh konsumen,” ujarnya.

Selama menggunakan layanan JNE, Yadi belum pernah menerima komplain dari pelanggan. Misalnya barang hilang, rusak, atau terlambat sampai. Tak heran jika hingga saat ini Yadi tetap setia pada JNE.

Masa-masa Kelam

Masa-masa kelam yang dialami Yadi dimulai ketika dia mulai mencicipi sabu-sabu. Saat itu dia masih berseragam SMA. “Awalnya lihat teman pakai, kemudian ditawarkan. Lalu saya mulai coba-coba,” kata Yadi dengan suara pelan.

Semakin lama ia semakin terjerumus dan kecanduan. Dari hari ke hari, ‘dosis’ narkoba yang ia butuhkan semakin banyak. Singkat cerita, Yadi pun mulai pandai berbohong kepada orang tuanya. Uang jajan dan uang SPP selalu digunakannya untuk membeli narkoba. “Barang-barang di rumah pun diam-diam saya jual,” kenangnya.

Perilakunya kian memburuk. Pada akhirnya, orang tuanya tahu sepak terjangnya sebagai pecandu. Bahkan, orang tua Yadi pernah mendapati jarum suntik dan paket sabu di kamarnya. Pada 2001, ia lalu dikirim ke Bogor untuk direhabilitasi selama delapan bulan.

“Awalnya setelah direhab, saya mulai hidup normal. Namun setelah kembali ketemu kawan lama yang masih makai, saya mulai tersugesti dan mulai menggunakan barang haram itu lagi,” ujarnya.

Yadi kembali terperosok di lubang yang sama. Melihat kenyataan itu, keluarganya jelas merasa kecewa. Ia lantas tidak dipedulikan lagi. Yadi pun memaklumi perubahan sikap keluarganya itu.

Ia lalu memutuskan hijrah ke Kota Singkawang untuk bekerja. Namun, di kota berjuluk Seribu Kelenteng itu, keadaannya tidak menjadi lebih baik. Ia malah bertambah parah. Tak hanya narkoba, ia juga mulai mabuk-mabukan. “Hampir setiap hari saya minum minuman keras hingga akhirnya saya sakit. Sejak saat itu, saya mulai berpikir untuk berhenti dari kebiasaan buruk saya,” ungkapnya.

Pada 2009, Yadi kembali ke Pontianak. Ia kemudian diajak temannya untuk bergabung di salah satu yayasan kemanusiaan. Dari yayasan tersebutlah ia mulai berusaha mengubah kebiasaan buruknya.

Pada 2014, Yadi dikaruniai anak kembar perempuan. Saat melihat raut wajah anak kembarnya, tekad Yadi semakin bulat untuk bangkit dari keterpurukan. “Kalau saya terus-terusan menjadi pemakai, nantinya tidak ada yang bisa dibanggakan oleh anak saya. Alhamdulillah dengan dorongan istri dan keluarga, saya bisa melakukannya,” ujar dia.

Bentuk Komunitas

Setelah berhasil membangun bisnis online, Yadi berusaha mengajak teman-teman untuk bergabung dalam sebuah komunitas. Komunitas ini anggotanya terbuka untuk semua kalangan, terutama orang-orang yang terjerat pengaruh buruk narkoba.

“Baik dia masih pengguna aktif maupun sudah tidak lagi menggunakan narkoba bisa bergabung di sini,” ujar Yadi seraya meminta nama komunitasnya untuk tidak disebutkan. Komunitas ini bekerjasama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional) dan sejumlah instansi lain untuk memberikan penyuluhan dan edukasi ke semua anggotanya tentang bahaya narkoba. Selain itu anggota komunitas juga dibekali pengetahuan untuk memberdayakan diri secara ekonomi.

“Saya ingin mereka juga bisa berhenti menggunakan narkoba dan memulai hidup baru. Bangkit dari masa-masa kelam,” kata Yadi.

Pengalaman menyadarkannya bahwa para pecandu narkoba pun sebenarnya berhak untuk maju. Namun harus ada orang yang bisa menjadi pemandu jalan agar mereka tidak kembali tersesat. “Kalau ada yang mengarahkan, mereka (para pecandu) juga pasti mau mencoba,” ujarnya.

Yadi bersyukur, secara bertahap banyak juga anggota komunitasnya yang memutuskan untuk tidak lagi menggunakan narkoba. “Ya, tentunya semua butuh proses. Tinggal bagaimana kita melakukan pendekatan,” sebutnya.

Di komunitas itu, Yadi kerap berbagi pengalaman bagaimana trik-trik berjualan secara online. Tak sedikit anggota komunitasnya yang tertarik untuk mencoba. Beberapa di antaranya kini sudah berhasil mengembangkan usaha yang digelutinya. “Saya merasa senang jika ada rekan saya yang juga berhasil,” ujarnya.

Uni (25), seorang mantan pecandu, salah satunya. Dia kini juga sedang berjuang meninggalkan kebiasaan buruknya itu dengan menjalankan usaha online, berjualan baju-baju impor. “Ada beberapa saudara yang tinggal di Singapura. Jadi aku coba jualan online baju, sepatu dan tas. Alhamdulillah ada hasilnya,” kata perempuan yang pernah terjerat narkoba jenis putauw itu.

Uni mengaku mulai mengenal putauw saat masih duduk di kelas II SMP. Semua berawal dari sekadar coba-coba yang akhirnya membuat dirinya terjerumus semakin dalam. “Saya sampai delapan kali direhab. Karena belum bisa lepas dari pengaruh buruk teman-teman membuat saya kembali lagi menjadi pengguna aktif,” jelasnya.

Singkat kata, sekitar tiga tahun lalu saat dirinya menikah dan mulai mengandung anak pertama, Uni memutuskan untuk berubah. “Saya mulai berpikir, kalau terus-terusan menjadi pemakai, anak saya nanti mau jadi apa. Makanya saya berusaha keras untuk bangkit dan meninggalkan kebiasan buruk saya,” ujarnya.

Kini, hari-hari Uni disibukkan dengan bisnis online. Dengan kesibukan ini dia bisa mengalihkan perhatian dari hal negatif ke hal positif. Uni mengaku sangat terbantu dengan semakin bertambahnya minat orang pada penjualan online. Di sela-sela mengurusi anaknya, ia bisa menghasilkan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Jika ada pesanan dari pelanggan, Uni selalu mengirimkan barang menggunakan jasa JNE. Menurutnya, JNE memiliki banyak keunggulan. Salah satunya ketepatan waktu pengiriman, aman dan kualitas barang yang dikirim terjaga dengan baik. Bagi pelaku usaha online, hal ini menjadi prioritas utama. “Barang yang sudah dikirim juga bisa kita cek posisinya. Jadi kita bisa memantaunya,” ujar dia.

Agar terhindar dari narkoba, Uni berpesan kepada masyarakat khususnya generasi muda untuk membentengi diri masing-masing. Caranya adalah dengan melakukan kegiatan positif dan meningkatkan kualitas ibadah. "Pandai-pandailah memilih teman," ujarnya.

Tidak jarang ada teman yang sengaja mendekati kita hanya untuk mengajak dan memberikan pengaruh buruk. Uni mengaku menyesal lantaran cukup lama terjerat narkoba. “Jangan sesekali mendekati narkoba, apalagi coba-coba. Omong kosong kalau pakai narkoba semuanya akan menjadi lebih baik. Narkoba itu justru bikin masa depan dan hidup kita hancur. Itu yang benar. Jadi, kalau bisa jauhi narkoba,” pesannya.

Diacungi Jempol

Ketua Korwil Asosiasi Bisnis Development Service Indonesia (ABDSI) Kalbar, Muhammad Fahmi mengacungkan jempol untuk Yadi dan Uni. Ia menilai bangkitnya orang dari jeratan narkoba adalah hal yang luar biasa. Apalagi jika mereka kemudian mampu memperbaiki hidup dan masa depan dengan bisnis online.

Ia berharap Yadi dan Uni bisa menjadi contoh bagi rekan-rekannya yang lain untuk bersama-sama bangkit dan menata hidup yang lebih baik. Fahmi berpendapat, orang-orang seperti ini dapat dijadikan semacam duta yang diharapkan mampu mengubah pola pikir (mindset) dan memotivasi banyak orang, terutama para pecandu.

“Mereka bisa menjadi inspirasi bahwa mantan pecandu pun bisa berprestasi dan mampu berbuat banyak hal untuk memberikan kontribusi positif,” ungkapnya.

Di sisi lain, Fahmi juga menyoroti fenomena bisnis online yang digeluti mantan pecandu ini. Di tengah kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, menurutnya kebutuhan manusia terus berubah ke arah yang lebih efisien.

Dahulu pelaku usaha memerlukan upaya besar untuk bisa mencapai pelanggan, yaitu melalui metode pemasaran konvensional. Biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Sementara dengan metode online seperti sekarang, pemasaran menjadi jauh lebih efisien.

“Jalur distribusi menjadi lebih pendek. Sistem pembayaran pun semakin ringkas dan cepat,” ujarnya. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para mantan pecandu dan banyak orang lain sebagai peluang bisnis.

Maraknya bisnis online juga tak terlepas dari kiprah usaha jasa ekspedisi atau pengiriman logistik seperti JNE. Sebab, merekalah yang menjadi penghubung jalur distribusi.

Kepala Cabang JNE Pontianak, Asep Nanda Hermana menerangkan, seiring perkembangan zaman, JNE selalu berinovasi meningkatkan pelayanan kepada pelanggannya di Kalbar. Dengan slogan “Connecting Happiness”, pihaknya berharap dapat membuat produsen dan konsumen sama-sama senang, baik dari sisi pengirim maupun penerima.

“Itu harapan kami. Untuk mewujudkan itu semua, setiap saat harus selalu mengerti apa yang diinginkan masyarakat. Bagaimana caranya membuat konsumen menjadi bahagia dan puas dengan pelayanan kami,” ujarnya.

Pada Agustus 2018, JNE sudah mulai membuka titik layanan hingga ke daerah pesisir di Kalbar. JNE juga merekrut masyarakat untuk menjadi agen di sejumlah wilayah pesisir Kubu Raya seperti di Kubu, Batu Ampar dan Terentang. 

“Dengan merangkul masyarakat menjadi agen, ini membuktikan kami tidak hanya berorientasi  pada keuntungan, tetapi juga mengajak dan memberikan peluang kerja dalam meningkatkan penghasilan masyarakat,” pungkasnya. (ash)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait