Yuni Penuhi Target Angkatan

Yuni Penuhi Target Angkatan

  Minggu, 13 May 2018 08:24

Berita Terkait

Batal Training Camp ke Luar Negeri Lagi

JAKARTA - Lifter Merah Putih menunjukkan hasil memuaskan pada tes angkatan bulanan keempat di Mako Pasmar 2 Kwini kemarin. Sri Wahyuni Agustiani, lifter putri kelas 48 kg mampu memenuhi target angkatan. Sementara, lifter andalan kelas 62 kg putra Eko Yuli Irawan mampu memperbaiki total angkatannya sebanyak 3 kg dari tes sebelumnya.

Pelatih angkat besi Supeni nampak sumringah anak didiknya itu mampu mengangkat total beban 205 kg. Rinciannya, angkatan snatch 89 kg dan clean and jerk 116 kg. Menurut dia, Yuni mampu menunjukkan kualitasnya. Dengan raihan tersebut, Yuni membuka harapan untuk bisa meraih medali emas di Asian Games 2018 Agustus mendatang.

Meski begitu, Peni masih belum puas. Dia masih harus menjaga berat badan Yuni supaya tidak overweight. ”Itu yang masih pelatih perhatikan. Menjaga power dan berat badan supaya seimbang,” ucapnya kepada Jawa Pos.

Di bagian putra, performa Eko menunjukkan peningkatan setiap bulan. Peraih medali perak Olimpiade 2016 Rio itu sukses mencatatkan angkatan snatch 138 kg serta clean and jerk 172 kg dengan total 310 kg. Lebih baik dari tes yang dilakukan di Padepokan Gajah Lampung bulan lalu, yakni 307 kg.

Namun, Eko masih memiliki pekerjaan rumah dengan menurunkan berat badannya. Saat ini berat badan lifter asal Metro, Lampung itu mencapai 67,55 kg. Padahal batas toleransi berat badan untuk kelas 62 kg adalah 65,1 kg.

”Dengan sisa waktu tiga bulan akan saya kurangi bertahap. Puasa tentu menjadi momen bagus untuk mendukung diet saya,” terangnya. Menurut dia, penurunan berat badan yang drastis dengan diet ketat akan mempengaruhi kekuatan ototnya untuk mengangkat beban. ”Kekuatan ditunjang nutrisi, itu yang saya perhatikan juga. Setidaknya pada bulan Juni nanti berat badan saya bisa ideal,” katanya. 

Semantara itu, Wakil Ketua Umum PB PABBSI Joko Pramono untuk kedua kalinya membatalkan training camp timnas angkat besi ke luar negeri. Sebelumnya, Eko Yuli dkk batal berlatih di Jepang April lantas diganti dengan berlatih di Padepokan Gajah Lampung. Kini, rencana menjalani pemusatan latihan di Tiongkok pada bulan Juli mendatang pun batal dan akan kembali berlatih di padepokan milik Imron Rosadi itu.  

Peningkatan angkatan dan efisiensi dana menjadi alasan purnawirawan TNI Angkatan Laut tersebut. ”Hasil tes bulan lalu di Lampung jauh meningkat. Dengan latihan di sana, juga akan menghemat anggaran. Dana sisa TC akan dialokasikan untuk pembinaan pemain pelapis,” jelasnya.

Memang, di atas kertas hasil angkatan meningkat drastis. Namun, perlu diingat, peralatan dan fasilitas yang ada di Lampung jauh di bawah standar dengan yang ada di pelatnas Kwini saat ini. Fasilitas seperti tempat sauna, gym, dan massage tidak ada. Jumlah dan kondisi barbel tidak memenuhi kebutuhan atlet pelatnas. Sehingga latihan terkesan tidak efisien.

Beberapa lifter sempat menyampaikan keluh kesahnya. Lifter kelas 69 Triyatno menyebut, dirinya harus bergantian dan menunggu untuk berlatih mengangkat beban. ”Apa mau padepokan mengeluarkan alat yang baru?nggak mas,” ucapnya.

Nurul Akmal, lifter kelas +75 kg merasa tidak cocok berlatih di Lampung. Cuaca yang panas, gersang, dan tempat latihan di area terbuka cukup mengganggu konsentrasinya. ”Penat Amel -sapaan Nurul- di sana. Antara otak, hati, dan fisik nggak menyatu di sana,” ungkapnya. Eko dan Yuni juga mengamini pernyataan rekan-rekannya itu. Tentu menjadi sebuah ironi lantaran angkat besi merupakan cabang olahraga prioritas emas. (han)

Berita Terkait