Yovita dan Emiryzard; Nasabah Istimewa Manulife Indonesia

Yovita dan Emiryzard; Nasabah Istimewa Manulife Indonesia

  Selasa, 21 May 2019 11:41
NASABAH ISTIMEWA: (Dari kiri) Novita J Rumngangun, Hans De Waal, Jonathan Hekster, dan Apriliani Siregar, diabadikan bersama dua nasabah istimewa Manulife Indonesia, Yovita Gunawan dan Emiryzard Shah Khaled Hilman, Senin (20/5).

Berita Terkait

Puas Dapat Layanan Terbaik, Nasabah Ini Miliki 29 Polis

Menjaga kepercayaan nasabah bisa menjadi kunci sukses sebuah perusahaan. Hal itu jugalah yang terjadi pada perusahaan asuransi jiwa PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia). Kinerja positif yang diraih tiap tahunnya, tidak lepas dari keberhasilan perusahaan menjaga kepercayaan nasabah.

“NASABAH harus menjadi yang terutama. Jangan lihat dari hasil laba dulu, tetapi pikirkan dulu apa yang diperlukan nasabah,” ujar Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Manulife Indonesia Jonathan Hekster, saat memberikan apresiasi kepada dua nasabah Manulife Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Hekster yang didampingi jajaran direksi Manulife Indonesia lainnya, memberikan tanda apresiasi kepada Yovita Gunawan (41) dan Emiryzard Shah Khaled Hilman (18). Kedua nasabah itu merupakan nasabah unik Manulife Indonesia. Yovita merupakan nasabah yang memiliki polis Manulife terbanyak yakni 29 polis; sementara Emir, sapaan akrab Emiryzard, adalah pemegang polis termuda di Manulife Indonesia.

Hekster menjelaskan, kekuatan bisnis Manulife Indonesia adalah untuk memastikan kapabilitas pembayaran klaim kepada nasabah. Sepanjang 2018, mereka membayar klaim ke nasabah sebesar Rp5,5 triliun. “Jangan sampai saat nasabah mengalami bencana, kita tambah lagi dengan ketidakpastian,” tutur Hekster.

Ternyata, apa yang disampaikan Hekster, diamini baik oleh Yovita dan Emir. Keduanya mengaku puas dengan layanan yang diberikan Manulife Indonesia, terutama dalam kepastian klaim. Bahkan, saking puasnya, Yovita membeli 29 produk proteksi Manulife untuknya dan keluarganya. Tak hanya soal klaim, layanan dan kejujuran Manulife Indonesia yang membuatnya puas. 

Yovita mengisahkan, ia memiliki polis pertamanya tahun 1998, yakni produk Darma Prodana. Produk proteksi kesehatan dan investasi itu ternyata sangat menguntungkannya. Hanya beberapa kali bayar, imbal hasilnya cukup besar didapatnya. Setelah itu ia mengambil produk lainnya. Pernah suatu ketika ia harus menjalani operasi, ternyata tidak sampai 12 hari, klaimnya cair. 

Begitu juga ketika dia masuk rumah sakit, tetapi tidak memiliki waktu klaim dan mengurus administrasi klaim di rumah sakit. Dengan dibantu agen asuransi Manulife hingga seluruhnya selesai dan klaim dibayar dalam dua pekan. “Saya bilang ke agen, Manulife bagus, kalau ada produk bagus lainnya beritahu ke saya, ternyata memang produk-produknya bagus. Sekarang ini, mungkin saya sudah punya semua produk Manulife,” ujarnya sambil tertawa.

Hal lain yang membuat ia ‘cinta berat’ dengan Manulife adalah kejujuran perusahaan asuransi asal Kanada itu. Pernah suatu ketika ia membayar premi tahunan Rp100 juta. Saat itu ia tidak tahu bahwa semestinya ia sudah selesai membayar tahapan premi. 

Ternyata, dua pekan kemudian, ia menerima uang masuk ke rekeningnya dari Manulife sebesar Rp100 juta. “Saya kaget ada uang masuk sebesar itu. Saya tanya ke agen saya, ternyata setelah diperiksa, itu premi yang saya bayarkan untuk polis yang sudah selesai masa pembayaran preminya. Ini uang besar, ternyata Manulife jujur, saya kelebihan bayar, langsung dikembalikan,” papar dia.

Sementara itu, Emir, nasabah termuda Manulife, mengaku membeli polis asuransi Manulife Indonesia karena pengalaman buruk yang dihadapi kakak sulungnya. Kakaknya berkali-kali masuk rumah sakit dan menghabiskan uang yang sangat besar. Sementara, kakaknya itu tidak memiliki proteksi asuransi. 

Belajar dari pengalaman itu, kakak keduanya ikut perlindungan asuransi Manulife Indonesia dan mendapat proteksi dengan layanan memuaskan. “Makanya, saya ikut membeli polis Manulife. Apalagi kata ayah saya, produk asuransi itu juga ada investasinya,” cerita Emir.

Emir mengaku, ia ikut urunan membayar premi bersama kedua orang tuanya dari uang sakunya bermain band. Menurut dia, adanya perlindungan jiwa berikut investasi, membuat ia lebih percaya diri untuk proteksi di masa mendatang. Apalagi, pada masa mendatang, biaya untuk perawatan di rumah sakit tentu tidak murah.

Hal itulah yang mendorong Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) meningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia. Ketua Bidang Hukum dan Kepatuhan AAJI Maryoso Sumaryono kepada wartawan, pertengahan April lalu berharap pemerintah dapat memperkuat penetrasi asuransi jiwa yang dalam beberapa tahun terakhir belum mengalami pertumbuhan signifikan. “Penetration rate asuransi jiwa di Indonesia termasuk yang terendah di Asia Tenggara,” aku Maryoso.

Berdasarkan data AAJI, penetrasi asuransi jiwa pada 2018 tercatat 1,3 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,4 persen. Penetrasi pada 2017 tercatat sebagai penetrasi tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia. (ote) 

Berita Terkait