Wisata Menyenangkan Bersama Buah Hati

Wisata Menyenangkan Bersama Buah Hati

  Rabu, 8 November 2017 09:57

Berita Terkait

Berwisata ke suatu tempat kerap menjadi pilihan orangtua dalam menghabiskan waktu luang bersama sang buah hati. Banyak momen bahagia diperoleh. Tercipta suasana ceria, rasa senang, dan adanya proses pembelajaran. Berwisata juga membawa manfaat untuk perkembangan jiwa maupun raga anak, seperti toleransi, kesabaran, hingga kesehatan tubuh.  

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Berwisata bersama anak jadi momen terindah bagi orang tua, terlebih bagi yang kurang memiliki waktu bersama karena padatnya aktivitas. Orang tua tak hanya hanya membuat anak berinteraksi dengan banyak orang saat bepergian bersama, melainkan juga mengajarkan buah hati mengenali lingkungannya. Momen ini sangat baik bagi perkembangan anak yang sedang mulai banyak bertanya. 

Psikolog di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong, Yuni Djuachiriaty, S. Psi, M. Si, Psikolog mengatakan berwisata dapat meningkatkan kosa kata dan kemampuan bahasa anak. Jika selama ini orang tua hanya sekadar melafalkan dan menggambarkan sekadarnya, di tempat wisata bisa menjelaskan dan memperlihatkan secara visual pada anak. Misalnya, ketika berwisata ke kebun binatang, anak bisa melihat binatang-binatang dengan nyata.

“Anak juga bisa bersosialisasi. Perlu diketahui, anak yang kerap bersosialisasi akan cenderung mandiri, tidak mudah cemas dan takut,” ujar Yuni. 

Yuni menuturkan berwisata juga membuat anak lebih mudah peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Semakin sering anak diajak bersosialisasi dan mengamati lingkungan sekitarnya, anak akan semakin peka. Contohnya, saat berjalan bersama orang tua ke daerah yang akan dituju, anak akan melihat lingkungan sekitar, seperti penjual koran, penyapu jalanan, pengemis dan lainnya. 

“Anak pun dapat belajar bahwa hidupnya jauh lebih baik. Anak akan bertanya dan orang tua bisa mengajarkan kepekaan terhadap anaknya,” tutur Yuni.

Tidak ada batasan baku dalam membawa anak (balita) bepergian, baik wisata ke taman hiburan maupun pusat perbelanjaan. Namun, orang tua wajib peka dalam menjaga daya tahan tubuh anak. Lingkungan yang ramai serta cuaca yang tidak dapat diprediksi, membuat virus dan bakteri mudah menyebar lewat udara. Tidak dipungkiri, virus dan bakteri ini dapat menular dan menyerang daya tahan tubuh anak.

Orang tua bisa melakukan kegiatan wisata bersama ketika anak menginjak usia 1,5 tahun, walau tidak menutup kemungkinan ada juga orang tua yang sudah berpergian dengan usia anak dibawah itu. Agar anak lebih banyak belajar dan mengenal lingkungan, orang tua tak hanya bisa membawanya ke satu tempat hiburan saja. Misalnya, membawa sang anak bermain ke pusat perbelanjaan. 

Kebanyakan, bukan orang tua yang menemani anak, tapi anak yang menemani orang tua. Anak hanya sekadar jadi pengikut, sedangkan orang tuanya sibuk berbelanja. Tidak jarang banyak anak yang hilang dari pandangan dan pengawasan orang tua. Ketika mengajak jalan, orang tua harus benar-benar memberikan kesenangan untuk anak sesuai dengan yang diminati dan disukai anak.

Yuni menyarankan orang tua tidak mementingkan kegiatan pribadi (bermain gadget atau rumpi) dan membiarkan anak bermain tanpa pengawasan. Sebaiknya, juga terlibat di permainan anak. Sehingga, ketika terjadi rebutan mainan antara anak dengan teman sebayanya, orang tua bisa memberi pemahaman agar mereka bisa saling berbagi mainan. Problem solving  akan terbentuk dengan sendirinya. 

“Orang tua bisa memberikan waktu pada anak untuk bermain beberapa menit, lalu gantian dan memberikan pada anak-anak lainnya,” tambahnya.

Selain itu, orang tua juga harus kreatif dalam menentukan tempat wisata anak. Misalnya berpergian ke kolam renang, kemudian beberapa minggu selanjutnya mengunjungi kebun binatang, area outbond anak, area bermain di pusat perbelanjaan, dan menonton bioskop bersama. Biasanya, orang tua kerap memaksakan keinginan dan kehendaknya pada anak dalam menentukan film yang akan ditonton. Padahal, orang tua seharusnya mengalah dan memilih film khusus anak. 

“Anak jangan diajak nonton film hantu atau cinta. Inilah yang membuat anak jadi mudah takut dan memahami percintaan lebih awal pada usia yang belum matang,” pungkasnya.**

Berita Terkait