Waspadai Anak Salahgunakan Gadget

Waspadai Anak Salahgunakan Gadget

  Rabu, 9 March 2016 10:34

Baik langsung maupun tidak, kemajuan teknologi ada pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian seseorang. Remaja sangat rentan terhadap resiko-resiko yang ditimbulkan. Sekarang pun, remaja sudah banyak terpengaruh pada perilaku yang bertentangan dengan budaya ketimuran.

Oleh : Marsita Riandini

Remaja saat ini dihadapkan pada kemajuan teknologi yang terus berinovasi. Bahkan mereka dijuluki sebagai generasi Z, yakni generasi yang terlahir dari generasi X dan Generasi Y. Generasi Z terlahir dan dibesarkan di era digital. Beragam teknologi dengan fasilitas aplikasi yang canggih, seperti sosial media yang semakin bertambah. Sebut saja IPAD, PDA, MP3 player, BBM, internet, dan aneka perangkat elektronik lainnya.

Pengaruh positifnya, generasi Z ini akan terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Tak sekadar sibuk mengerjakan tugas, mereka bisa sambil mendengarkan musik, dalam waktu bersamaan mereka bisa berselancar, berkomunikasi dengan orang-orang dengan jarak dekat maupun jauh. Lewat suara maupun video. Semua termudahkan oleh teknologi.

Lantas bagaimana pengaruh negatifnya? Baik langsung maupun tidak, ada pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian seseorang. Jika tak mendapatkan pemahaman secara tepat, maka mereka akan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada perilaku yang tidak wajar. Salah satu contohnya pada kasus akun Ina Si Nononk yang merebut perhatian publik. Dari foto syur yang diunggah, terlihat usia mereka masih sangat belia.

Demikian yang disampaikan oleh Armijn Chandra Santosa Besman, S.IP, S. Psi, Psikolog kepada For Her.  Armijn mengatakan, kasus Ina Si Nononk ini hanya satu dari sekian banyak kasus-kasus serupa. Remaja sekarang tak segan untuk memposting foto-foto hingga video yang tak layak mereka lakukan. Ini menjadi semacam fenomena yang terjadi pada generasi kita. Ada beragam faktor penyebabnya, mulai dari pemanfaatan media teknologi yang tidak tepat, hingga adanya pengalaman buruk yang menimpa anak-anak. “Apakah itu dia sebagai korban, lalu menjadi perilaku, bisa pula karena korban kekerasan, baik fisik maupun seksual. Dan banyak lagi penyebab lainnya,” jelas dia.

Masa remaja adalah masa mereka mencari jati diri. Mungkin saja mereka menganggap dengan memposting foto-foto tersebut, maka keberadaannya diakui. “Mereka ingin menunjukkan ini lho saya, jika ini dibiarkan, maka masa depannya akan hancur,” ulasnya.

Lambat laun, kata Armijn, ada pergeseran nilai budaya. Remaja tak lagi berpegang pada norma ketimuran yang dianut bangsa Indonesia. Justru mereka mengadopsi nilai budaya negara lain yang bertentangan dengan hal itu. “Jika terus dibiarkan, maka remaja tak segan menganggap seks bebas itu hal biasa, LGBT hal yang lumrah. Padahal ini jelas bertentangan dengan budaya kita. Bahkan di Inggris saja, remaja wanitanya sudah mulai menjaga virginitasnya. Padahal negara ini dulu cukup parah seks bebasnya. Lah kenapa kita yang malah mau ikut-ikutan, sementara mereka sudah mau memperbaikinya,” timpal Armijn.

 

Jadi Teman Bagi Anak

Siapa yang bertanggung jawab pada hal ini? Jelas semua orang, terutama orang-orang dewasa. Baik orang tua maupun orang-orang disekeliling remaja. Mereka harus bisa memberikan informasi yang tepat kepada remaja, terutama dalam pemanfaatan teknologi. “Kadang remaja itu dibiarkan mencari informasi sendiri, kemudian menerjemahkan sendiri. Jika menerjemahkannya salah, maka perilakunya pun akan bertentangan dengan norma,” ungkap dia.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang dewasa? Menurut Armijn, berikan pemahaman yang tepat kepada anak. Jelaskan kepada mereka apa yang menjadi resiko dari perilaku tersebut. “Menjelaskan ini kepada anak, maka orang tua maupun orang dewasa di sekitar anak harus memiliki pemahaman pula agar mudah menjelaskan dampak buruk dari perilaku tersebut,” jelasnya.

Marah kepada anak, hanya membuat anak menjadi takut. Akan lebih baik jika anak menjadi sadar tentang baik buruknya sesuatu, termasuk penggunaan gadget. “Kadang ada orang tua yang langsung memarahi anak. Langsung menuduh anak melihat video porno dan sebagainya. Anak akan takut, tetapi dibelakang orang tua anak akan melakukannya lagi,” ungkap dia.

Setiap harinya, orang tua memang dituntut untuk belajar. Sering kali Armijn mengatakan bahwa tak ada pendidikan khusus untuk menjadi orang tua. Dia mengingatkan apapun kondisi anak, mereka tak meminta dilahirkan. “Disinilah tanggung jawab besar orang tua. Bagaimana menjalankan perannya demi masa depan anak-anaknya,” ucap dia.

Satu-satu cara yang tepat saat ini, Armijn menyarankan, orang tua mau menjadi teman bagi anak-anaknya. Ketika orang tua menerapkan pola asuh otoritas dengan bersikap otoriter, maka anak hanya menjadi takut saja. Ketika ada masalah, enggan bercerita. “Orang tua harus bisa memposisikan dirinya sebagai teman bagi anak-anaknya. Ketika anak ada masalah, bukan meminta saran dengan temannya, melainkan langsung kepada orang tua. Apalagi saat ini pengaruh teman sebaya cukup besar bagi perilaku anak,” pungkasnya. **