Waspada Uang Palsu Jelang Lebaran

Waspada Uang Palsu Jelang Lebaran

  Kamis, 23 May 2019 10:44
DISKUSI: Kepala BI Kalbar Prijono saat berdiskusi dengan jurnalis di kantornya soal perkembangan perekonomian provinsi ini.

Berita Terkait

PONTIANAK –Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat meminta masyarakat waspada terhadap peredaran uang palsu pada bulan Ramadan saat ini dan pada Idulfitri nanti. Kepala Perwakilan BI Kalbar, Prijono mengatakan peredaran uang palsu kerap menyelip pada Ramadan dan Idulfitri.

Pasalnya transaksi pada momen-momen tersebut sangat tinggi, sehingga kewaspadaan masyarakat kerap berkurang terhadap peredaran uang palsu. “Kami mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai peredaran uang palsu pada Ramadan dan Idulfitri ini,” ujarnya saat berdiskusi dengan sejumlah jurnalis, kemarin (22/5).

Meskipun demikian, menurut dia, peredaran uang palsu di Kalbar relatif lebih rendah dibanding provinsi lainnya. “Kebanyakan pecahan Rp 100 ribu dan 50 ribu,” ucapnya. Namun dia berharap masyarakat dapat berhati-hati dalam bertransaksi. Terutama adalah cermat melihat keaslian uang. “Masyarakat harus mengecek ciri-ciri uang seperti dilihat, diraba, dan diterawang. Kenali ciri-ciri rupiah supaya tak jadi korban,” pungkasnya.

 Dia menyebut, kebanyak penyebaran uang palsu dilakukan di daerah, bukan di perkotaan. Keseriusan BI terus mengantisipasi peredaran uang palsu ini agar masyarakat tidak dirugikan. Prijono mengatakan, teknologi para pencipta uang palsu di Indonesia dari masa ke masa semakin canggih. 

Tidak hanya menggunakan mesin printer biasa saja, lanjut dia, para pembuat uang tidak sah tersebut juga memalsukan pita magnetik pada uang kertas. “Bahkan, para pembuat uang palsu juga sudah mampu membuat tanda air bergambar pahlawan dengan cara melukis gambar itu di uang. Walaupun itu bukan tanda air dan tidak sempurna,” imbuhnya.

Sementara itu, dia menjelaskan kebutuhan uang tunai selama Ramadan dan Idulfitri akan tembus Rp4,1 triliun. “Kebutuhan uang tunai (outflow) periode Ramadhan dan Idul Fitri 1440 H sebesar Rp 4,1 triliun,” ujarnya.

Proyeksi ini sendiri sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Persediaan ini dinilai sangat mencukupi dalam memenuhi proyeksi kebutuhan uang periode Ramadhan dan Idul Fitri 1437 H, baik dari sisi jumlah total maupun jumlah per pecahan. 

Menurut dia, tingkat penggunaan masyarakat pada bulan Ramadhan dan Idulfitri akan tinggi, lantaran pada masa tersebut, kebutuhan rumah tangga akan lebih banyak dari pada bulan-bulan biasanya. Sehingga Bank Indonesia patut mengantisipasi hal tersebut dengan stok uang yang lebih banyak.

Apalagi, pada bulan Ramadan akan ada dua pembayaran besar-besaran, yaitu gaji ke 13 untuk pegawai negeri sipil dan tunjangan hari raya bagi karyawan perusahaan. “Jumlah PNS di Kalbar juga lumayan banyak. Belum lagi THR untuk karyawan. Kalbar memiliki perusahaan perkebunan sawit yang cukup banyak,” pungkas dia. (ars)

Berita Terkait