Waspada TB Kelenjar Getah Bening

Waspada TB Kelenjar Getah Bening

  Jumat, 14 September 2018 10:00

Berita Terkait

Indonesia termasuk negara dengan penderita tuberkulosis (TB) terbanyak. Tak hanya orang tua, penyakit tuberkulosis dapat menyerang anak-anak, remaja, hingga dewasa. Tuberkulosis tak hanya menyerang pada bagian paru-paru. Namun, juga dapat menyerang bagian tubuh lain. Salah satunya tuberkulosis kelenjar getah bening. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri 

Tuberkulosis tergolong penyakit endemik yang kerap menyerang negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian besar kasus tuberkulosis hanya terjadi di paru-paru. Namun, infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) ini dapat menyerang bagian tubuh lainnya. Kondisi ini sering disebut TB extrapulmonary atau TB di luar paru.

TB kelenjar getah bening adalah salah satu TB di luar paru. Getah bening adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia. Kelenjar yang berada di bagian leher ini berfungsi membantu melawan infelsi yang dapat menyerang tubuh, baik disebabkan oleh bakteri, virus, atau lainnya. Ketika terjadi infeksi, kelenjar getah bening akan membengkak untuk memberikan tanda. 

Pada dasarnya, penularan TB kelenjar getah bening sama seperti TB paru-paru. Dokter spesialis penyakit dalam, Luh Yuariawantini, M.Kes mengatakan kebanyakan penularan disebabkan dari tak sengaja menghirup udara yang telah terkontaminasi. Contohnya, ketika penderita TB tak sengaja bersin di taman kota. Bakteri di dalam tubuh keluar dan membaur dengan udara. 

Ketika ada orang lain yang menghirup udara di tempat sama, bakteri yang membaur akan masuk ke dalam tubuh tersebut. Tanpa disadari ia terjangkit bakteri TB. Sejatinya, penularan tuberkulosis bersifat droplet infeksi. Bakteri yang tak sengaja masuk akan mengikuti arah saluran nafas dan membentuk apex primer di dalam paru-paru.

Bakteri TB akan sulit menyebar jika tubuh seseorang dalam kondisi sehat. Hal ini dikarenakan tubuh lebih cepat merespon sesuatu yang asing di dalam tubuh. Sehingga, bakteri yang dapat menginfeksi paru-paru tersebut dapat segera dicegah. Namun, ada beberapa hal yang terjadi. Bisa saja apex primer telah sembuh, tapi bakteri masih tetap bersarang di dalam tubuh.

“Bakteri akan berdiam di dalam organ-organ tertentu,” ujarnya.

Dokter yang bertugas di RS Kharitas Bhakti ini menuturkan bakteri TB dapat hidup di dalam tubuh manusia dalam kondisi tertidur dengan rentang waktu yang panjang. Bakteri akan terbangun ketika kondisi tubuh mengalami perubahan. Misalkan, sistem imunitas tubuh menurun dan tubuh dalam kondisi tak baik (drop). Bakteri akan bangun dan mencari letak bagian tubuh untuk dihinggapi.

“Hal inilah yang membuat bakteri TB dapat menyerang bagian tubuh lain, seperti TB kelenjar getah bening,” tutur Luh.

Untuk memastikan benar atau tidaknya terjangkit TB kelenjar getah bening, dokter menyarankan untuk melakukan biopsi atau videl aspirasi. Nantinya, akan dilihat melalui bronkoskop. Dokter patologi anatomi akan membaca bentukan pembesaran kelenjar limfe yang disebabkan oleh bakteri TB atau disebut dengan limfe denistis TB (karena ada peradangan). 

Pengobatan yang dilakukan pada penderita TB kelenjar getah bening layaknya TB paru-paru, yakni memberikan obat antituberkulosis (OAT). Rentang waktu pemberian obat selama enam sampai sembilan bulan. Biasanya, setelah mengonsumsi OAT, pembengkakan di bagian leher (kelenjar getah bening) akan mengecil secara perlahan.

“Tetapi, tetap saja pengobatan tuberkulosis tergolong dalam jangka waktu panjang,” jelasnya. 

Meski begitu, dokter bisa saja mengambil langkah melakukan pembedahan jika setelah meminum obat tak ada perubahan atau bengkak di leher semakin membesar dan pecah. Dokter akan melihat apakah kelenjar limfe perlu dibersihkan dan dibuang untuk mempercepat proses penyembuhan lukanya. 

Umumnya, TB kelenjar getah bening tak dapat menyebabkan komplikasi. Kecuali TB dalam kondisi pecah atau bakteri menginfeksi bagian tubuh lainnya. Dikhawatirkan ketika TB pecah, luka akan terbuka dan membentuk ulkus. Luh tak menampik bisa saja ada penderita TB kelenjar getah bening yang meninggal dunia. 

“Namun, meninggalnya bukan disebabkan oleh TB kelenjar getah bening, melainkan disebabkan oleh penyakit lainnya,” pungkasnya.**

Berita Terkait