Waspada Peredaran Uang Palsu, Pelaku Bertransaksi Malam Hari

Waspada Peredaran Uang Palsu, Pelaku Bertransaksi Malam Hari

  Selasa, 22 Agustus 2017 10:00
UANG PALSU: Abdul, pedagang kaki lima sedang menunjukkan uang kertas palsu pecahan Rp50 ribu. Uang tersebut didapat dari seseorang yang membeli rokok di kiosnya di Jalan Gajah Mada. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Para pelaku usaha sebaiknya lebih waspada dan cermat dalam melakukan transaksi Saat ini tengah marak peredaran uang palsu. Hal ini dialami oleh Abdul (35), pedagang kaki lima di simpang tiga Jalan Gajah Mada, Pontianak.

Dua hari lalu, pada 19 Agustus 2017 sekitar pukul 03.00, Abdul didatangi oleh dua laki-laki mengendarai sepeda motor. Laki-laki tersebut membelanjakan uang kertas pecahan Rp50 ribuan untuk membeli sebungkus rokok. 

Oleh Abdul, karena harga rokok sebesar Rp20 ribu, maka ia mengembalikan sisanya sebesar Rp30 ribu. Awalnya ia tidak curiga. Uang kertas pecahan Rp50 ribu yang diterima dari pembeli itu langsung disimpan di tempat penyimpanan uang. 

Hal itu baru ia sadari pada pagi harinya, saat akan belanja. Salah satu uang kertas pecahan Rp50 ribu tersebut palsu. 

"Waktu malam tidak kelihatan. Sepintas kalau dilihat dari fisiknya tidak ada yang aneh. Tapi pagi harinya saat mau belanja, baru ketahuan. Uangnya palsu," kata Abdul kepada Pontianak Post, kemarin.

Diakui Abdul, sebelumnya ia juga mendapatkan kasus yang sama. Yakni, kira-kira setengah bulan yang lalu. 

"Dulu, sekitar setengah bulan yang lalu juga sama. Uang palsu juga. Dia (pelaku) membelanjakan rokok," katanya.

Untuk mengelabuhi para korbannya, pelaku selalu melakukan aktivitas transaksi pada malam atau dini hari. 

"Kalau malam sulit dikenali. Apalagi kami tidak ada alat untuk mendeteksi, apakah itu palsu atau tidak. Anehnya, uang yang dipalsukan ini uang baru," paparnya. 

Akibat peristiwa tersebut, saat ini ia lebih waspada dan cermat dalam melakukan transaksi, terlebih jika malam hari. 

"Mau nggak mau, kami harus lebih waspada lagi. Karena ini merugikan," lanjutnya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar Kombes Pol Mashudi mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan terkait peredaran uang palsu di wilayah hukum Kalimantan Barat.

Hanya saja, kata Mashudi, pihaknya telah menerima pelimpahan temua uang palsu dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat.

"Kalau laporan belum ada. Tapi saat ini kami menerima pelimpahan dari BI," kata Mashudi kepada Pontianak Post, kemarin.

Menurut Mashudi, dari pelimpahan temuan uang palsu itu, Direktorat Reserse  Kriminal Khusus Polda Kalbar tengah mendalami perkaranya.

"Kami masih dalami. Jika jumlahnya besar kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut. Karena yang terjadi saat ini, BI menemukan uang palsu di saat transaksi. Jadi ada orang yang nyetor ke BI, setelah diskaning, ternyata ada yang palsu," paparnya.

"Tapi tetap akan kami dalami," tegasnya.

Terkait modus peredaran uang palsu, lanjut Mashudi, biasanya pelaku melakukan transaksi pada waktu-waktu lengang, seperti malam hari dan di tempat yang rawan, seperti warung kaki lima atau tempat lain.

"Biasa mereka membelanjakan uangnya di tempat-tempat yang dianggap potensial. Memilih waktu lengang seperti malam hari," pungkasnya. (arf)

Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan berdasarkan data yang ada jumlah temuan uang palsu sejak Januari hingga saat ini, di Kalbar berada pada peringkat ketiga terbesar di Indonesia dengan total 1.435 lebar. 

 “Ini menempatkan Kalbar sebagai provinsi nomor tiga dengan temuan uang palsu terbanyak,” ujarnya.

Dipaparkan dia, dari jumlah yang ada, penemuan uang palsu paling banyak ditemukan di Kota Pontianak dengan total 1.280 lembar. Setelah itu baru disusul oleh Kota Singkawang sebanyak 91 lembar. Selanjutnya disusul Kabupaten Kubu Raya sebanyak 64 lembar. Sementara itu, dari kategori jenis uang kertas yang dipalsukan didominasi oleh uang kertas dengan nominal Rp50.000 dan Rp100 ribu.

Dia mencontohkan seperti temuan pada April 2017 di mana ada sebanyak 216 lembar Rp50.000 yang dipalsukan dan uang Rp100 ribu sebanyak 33 lembar. Pada Mei 2017 ini juga semakin meningkat ditemukan sebanyak 617 lebar uang palsu dengan nominal Rp50.000, 91 lembar untuk uang Rp100 ribu dan 2 lembar untuk uang Rp20.000.

Sehubungan dengan meningkatnya jumlah temuan uang palsu ini, dia mengimbau kepada masyarakat dan perbankan untuk segera melapor kepada pihak berwenang apabila menemukan uang yang terindikasi palsu. Ditegaskan kembali bahwa meskipun tidak ada penggantian terhadap uang palsu, namun temuan tersebut harus segera dilaporkan. Perbankan juga diminta untuk tidak mengembalikan kepada nasabah bila menemukan uang yang terindikasi palsu.

Menurut Undang Undang Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang, orang yang memalsukan dan menyimpan fisik Rupiah dapat dipidana sampai 10 tahun penjara dan denda sampai Rp10 miliar. Sedangkan bagi orang yang mengedarkan dan/atau membelanjakan Rupiah yang diketahuinya merupakan Rupiah Palsu dapat dipidana sampai 15 tahun penjara dan denda sampai Rp50 miliar. (arf) 

Berita Terkait