Waspada Hipertensi Picu Komplikasi

Waspada Hipertensi Picu Komplikasi

  Jumat, 1 March 2019 10:41

Berita Terkait

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan jenis penyakit yang harus diwaspadai. Jika dibiarkan, bisa memicu berbagai macam komplikasi yang berbahaya bagi tubuh. Komplikasi apa saja yang dapat disebabkan oleh hipertensi? Bagaimana cara mengatasinya?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 milimeter merkuri (mmHG). Hampir semua orang berpotensi mengalami tekanan darah tinggi. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), penderita hipertensi terus meningkat secara global. Pengidap hipertensi yang didominasi orang-orang dewasa diprediksi melonjak hingga 29 persen pada tahun 2025. 

Peningkatan penderita hipertensi juga terjadi di Indonesia. Dari data riset kesehatan dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan bahwa 25,8 persen penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Hipertensi juga dikenal sebagai salah satu penyakit ‘pembunuh diam-diam’. Hal ini karena hipertensi tak menyebabkan gejala jangka panjang. 

Banyak penderita yang tak bisa merasakan gejala atau bahkan tak tahu jika ia dinyatakan menderita hipertensi. Karena hipertensi bisa muncul tanpa gejala fisik, yang diam-diam merusak pembuluh darah dan menyebabkan ancaman kesehatan yang serius.

Ketika hipertensi menyerang, penderita akan merasakan tanda atau gejala seperti sakit kepala, lemas, nyeri dada, sesak nafas dan lainnya. Faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang menderita hipertensi adalah sudah berusia di atas 65 tahun, kelebihan berat badan, memiliki keluarga dengan hipertensi (genetika atau turun temurun), dan lainnya. 

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan, Prof. DR. Dr. Ganesja Harimurti, SP.JP (K) mengatakan hipertensi dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yakni penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan lainnya. Penyakit jantung disebabkan karena tekanan darah yang terlalu tinggi, sehingga terjadi pengerasan dan penebalan arteri dinding pembuluh darah. Penebalan dinding darah ini disebut dengan aterosklerosis.

Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah yang pada akhirnya memicu penyakit jantung, karena kurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Kondisi ini cukup sering berkembang menjadi serangan jantung bagi penderitanya. Hipertensi juga bisa menyebabkan penderita mengalami gagal jantung.

Gagal jantung disebabkan oleh dampak dari otot jantung yang dipaksa untuk bekerja lebih keras saat tekanan darah meninggi. Otot jantung akan menebal dan menyebabkan jantung kesulitan untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Komplikasi gagal ginjal disebabkan karena tekanan darah yang terlalu tinggi menyebabkan penyempitan pembuluh darah ke ginjal.

Tekanan darah yang tak terkontrol dapat memicu pembuluh darah di seputar ginjal menjadi lemah dan menyempit. Komplikasi hipertensi bisa memicu kematian. Tingginya tekanan darah seseorang bisa menyebabkan pembuluh darah melemah dan melebar. Jika dibiarkan terjadi secara terus-menerus, maka pembuluh darah bisa saja pecah dan menyebabkan kematian. 

Ganesja mengungkapkan pasien kerap bertanya, “Apakah mengonsumsi obat tekanan darah tinggi secara terus menerus dapat ginjal?” Menurutnya, justru obat tekanan darah tinggi yang dikonsumsi bersifat melindungi ginjal dari kerusakan.

“Ketika seseorang dinyatakan menderita hipertensi, maka dirinya sudah menanda tangani kontrak untuk mengonsumsi obat seumur hidup,” ujarnya saat ditemui di Aula Rumah Dinas Walikota Pontianak, Minggu (20/1) lalu.

Dokter yang aktif di Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (The Indonesian Society of Interventional Cardiology) ini menjelaskan jumlah obat yang dikonsumsi penderita hipertensi bergantung pada panel tekanan darah tinggi. Umumnya, penderita mengonsumsi lebih dari satu obat.

Dokter yang menempuh pendidikan di Tokyo Women’s College of Cardiology ini ingin menekankan pada penderita agar tak berhenti mengonsumsi obat hipertensi. Terkadang ada penderita yang menghentikan karena merasa tekanan darahnya sudah normal. Padahal, normalnya tekanan darah penderita dikarenakan mengonsumsi obat tersebut. 

“Begitu obat diberhentikan, tekanan darah akan naik lagi,” tutur Ganesja.

Perempuan yang aktif di Perhimpunan Gagal Jantung Indonesia (Indonesian Society of Heart Failure) World Heart Failure Society (WHFS) ini mengungkapkan sebagian besar penderita sering tak merasakan gejalan hipertensi. Bahkan, saat tekanan darahnya mencapai angka 170/90 mmHG, ia merasa biasa-biasa saja. Hal ini justru sangat berbahaya karena bisa menyebabkan stroke atau kematian. **

 

Berita Terkait