Waspada ‘Bencana’ pada Otak

Waspada ‘Bencana’ pada Otak

  Jumat, 30 September 2016 10:07

Berita Terkait

Stroke menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai. Tak hanya berusia lanjut, mereka berusia muda pun dapat mengalami penyakit yeng mengganggu fungsi organ tubuh manusia ini. Jika meluas dan menyinggung area pengendali vital seperti fungsi nafas dan jantung, stroke dapat  menyebabkan kematian.

Oleh : Marsita Riandini

Stroke merupakan suatu keadaan hilangnya fungsi otak (saraf pusat) secara mendadak dan dapat menyebabkan kecacatan maupun kematian. Hal ini dikarenakan adanya  bencana atau gangguan aliran darah akibat sumbatan hebat ataupun pecahnya pembuluh darah otak secara spontan. Demikian yang disampaikan Dr. Karolina Margareta, Sp.S kepada For Her.

Karolina menjelaskan pada diri manusia memiliki otak sebagai susunan saraf pusat yang memberi komando fungsi  organ tubuh maupun fungsi vital kehidupan. Otak mempunyai bagian-bagian dan fungsi spesifik seperti memori, berbahasa, emosi, penglihatan, gerak atau motorik seperti berjalan, menelan, mengatur sensibilitas rasa, dan banyak hal lainnya. Otak diliputi oleh banyak pembuluh darah melintasi jantung bersirkulasi ke otak. 

“Stroke merupakan bencana pada otak. Contoh apabila pecah pembuluh darah atau ada sumbatan hebat di area tertentu otak yang mengendalikan fungsi spesifik, seperti motorik, maka yang terlihat lumpuh adalah anggota gerak, baik tangan kaki maupun fungsi menelan,” jelas Staf Medik Fungsional Ilmu Penyakit Saraf RSUD Pemangkat, Sambas ini.

Apabila bencana aliran darah otak yang terjadi di area bahasa, penderita stroke tidak  mampu  berkata-kata. Apabila stroke luas menyinggung area pengendali vital seperti fungsi nafas dan jantung, akan menyebabkan kematian.

Otak memiliki fungsi spesifik di area-area tertentu. Jika  pecah pembuluh darah otak ataupun terjadi sumbatan pada area kendali emosi, maka manifestasi yang tampak adalah penderita stroke menjadi mudah marah, depresi, sedih gelisah bahkan sulit tidur. “Masih banyak lagi dampak lain dari stroke, termasuk salah satunya pikun,” tambahnya. 

Stroke dapat diderita oleh siapa saja. Umur, jenis kelamin, ras, keturunan atau genetik, serta gaya hidup seperti merokok, mengonsumsi alkohol, penggunaan obat terlarang, dan pola makan tidak sehat dapat menjadi faktor risiko terkena penyakit stroke. 

“Pemakaian kontrasepsi pil KB, obesitas atau  kegemukan dan riwayat penyakit berisiko seperti darah tinggi, kencing manis, kolesterol, penyakit jantung dan asam urat pun memiliki faktor risiko yang tinggi,” ungkapnya. 

Stroke cenderung berulang dan berpotensi kambuh kembali apabila penderita acuh terhadap pola hidup sehat, pengendalian faktor risiko, maupun penyakit dasar yang dimiliki. Misalnya, kadar gula yang tidak terkontrol pada penderita diabetes, malas mengukur tekanan darah secara berkala, dan menghentikan sendiri obat darah tinggi tanpa berkonsultasi dengan dokter. 

“Hal yang sangat fenomenal adalah penderita malas kontrol dan mengkonsumsi obat-obatan prevensi stroke seperti pengencer darah,” katanya. 

Karolina mengatakan menusuk bagian ujung jari dengan jarum sebagai langkah awal penanganan stroke bukanlah tindakan yang tepat. Menurut dia, tidak ada relevansinya pembuluh darah tepi dengan bencana pembuluh darah di saraf pusat (otak). 

“Termasuk pula dengan diurut dan dipijat, juga tidak ada relevansinya karena bencana di area motorik otak bukan di regional otot. Komando fungsi  motorik gerak letaknya pada saraf pusat,” paparnya.  

Ia menambahkan hal yang harus dicatat dan dipahami adalah stroke tidak ada yang ringan. Hanya manifestasi tampak kecacatannya yang ringan. Kondisi bencana pembuluh darah  otak tetap bahaya dan dapat mengakibatkan kematian. 

“Makanya kami dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia cabang Kalimantan Barat sedang menggalakkan kampanye waspada stroke di Kota Pontianak. Acara akan diselenggarakan pada 30 Oktober 2016 dalam even car free day  pukul 07.00. Tepatnya di halaman depan kantor Kepala Dinas Kesehatan kota Pontianak,” jelas Karolina sembari menjelaskan bahwa acara akan diisi dengan kegiatan skrining faktor risiko seperti pemeriksaan gula darah, kolesterol dan rekam jantung, deteksi dini kepikunan konsultasi gizi, dan senam otak. **

Berita Terkait