Warga Kesal Listrik Padam, Kerap Terjadi saat Ramadan

Warga Kesal Listrik Padam, Kerap Terjadi saat Ramadan

  Kamis, 16 May 2019 09:30

Berita Terkait

PLN Sebut Layangan dan Pohon Sumber Gangguan

PONTIANAK - Lebih dari sepekan berpuasa. Kurang lebih sama waktunya masyarakat mengeluhkan pasokan listrik yang kerap biarpet semenjak Ramadan.

Biarpet terlama terjadi, kemarin. Sejak siang hari hingga tengah malah. Meskipun demikian listrik biarpet itu sudah dirasakan masyarakat sejak tanggal 5 Mei 2019. Kondisi itu kerap terjadi di Pontianak Timur dan Utara.

Asih Sukarsih, warga Kelurahan Saigon, Kecamatan Pontianak Timur merasa kesal sebab dua hari ini pemadaman listrik terjadi selama beberapa jam di rumahnya. Misalnya pada Selasa (14/5) lalu. Pemadaman listrik terjadi sejak pukul 15.00 sampai 23.30. Total lebih dari delapan jam pemadaman listrik terjadi. Yang paling membuatnya kesal, pemadaman berlangsung saat warga hendak berbuka puasa hingga selesai salat tarawih. “Buka puasa kondisi gelap. Kami tunggu-tunggu listrik tidak juga menyala,” ujarnya. 

Pemadaman listrik kembali pada Rabu (15/5). Meski tidak sepanjang pemadaman sebelumnya, pemadaman yang terjadi kemarin juga dirasa menggangu. “Kami berharap di Bulan Ramadan ini PLN tidak memadamkan listrik. Supaya ibadah bisa lebih khusuk,” harapnya. 

Hal senada disampaikan oleh Syaiful Akbary,  warga Kelurahan Parit Mayor, Pontianak Timur. Dia juga mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi cukup lama di rumahnya. Dia kesal, sebab buka puasanya terganggu pemadaman listrik. “Saat berbuka seharusnya listrik hidup. Eh ini malah padam. Saya juga punya anak bayi. Kasihan jadi kepanasan karena litrik mati,” katanya.  

Wakil Sekretaris Forum Bela Negara (FBN) Kota Pontianak, Hasan Basri, mengatakan, banyak aduan dari masyarakat terkait pemadaman listrik, khususnya di bulan Ramadan ini. “Semua mengeluh semakin seringnya pemadaman listrik terjadi,” ujarnya.

Menurut Hasan, pemadaman ini tak sejalan dengan semakin mahalnya tarif listrik. Ini yang dikeluhkan masyarakat. “Pihak PLN beralibi ini faktor layangan. Tapi saya curiga ini bukan faktor layangan. Karena pemadaman ini terjadi merata di setiap kecamatan, bahkan di kabupaten lain juga terjadi,” ujarnya. 

Menurut Hasan, alasan PLN selalu klasik. Tak menyelesaikan persoalan. Dia meminta PLN transparan terkait seringnya pemadaman listrik yg terjadi. “Ada apa sebenarnya. Jangan biarkan masyarakat selalu kecewa atas pelayanan PLN. Sudah tahunan sering terjadi pemadaman dan intesitas pemadaman sering terjadi di bulan suci Ramadan. Ini bukan kebetulan karena ini rutinitas tahunan,” kata Ketua Lembaga Perlindungan dan Penyelesaian Konsumen (LPPK) Kota Pontianak itu.

Sementara itu, Manager PLN UPL3 Pontianak Arief Prasetyo mengakui gangguan pasokan listriknya terjadi dari tanggal 5 hingga 15 Mei 2019. Gangguan itu disebutkannya akibat dari pohon yang menyentuh SUTM, kawat layangan, kabel yang menempel di tiang listrik dan kabel bawah tanah (SKTM) yang terbakar.  "Ini yang kami temukan sehingga pasokan listrik ke pelanggan terganggu," kata Ari di Pontianak, kemarin sore. 

Ari memastikan pihak bergerak cepat untuk merecoveri gangguan. Perbaikan pun dilakukan pada malam itu juga.  Gangguan akibat pohon di Desa Kapur misalnya. PLN langsung cepat memangkas dahan pohon yang mengenai jaringan listrik.  

Begitu juga dengan menempelnya kabel pada tiang besi di perempatan lampu merah Jalan Alianyang. "Kabelnya sudah kami perbaiki dan dilakukan jumper," kata Ari. 

"Kami alihkan semua beban itu pada pukul 23.15 malam, sehingga listrik pun bisa menyala," tambah Ari. 

Proses perbaikan paling lama dilakukan pada kabel tanah. Perbaikan itupun baru selesai, Rabu (15/5) siang kemarin. Tepatnya pukul 13.40. 

Ari menyebutkan pihaknya sudah menyiapkan beberapa langkah sebagai cara jitu menyelesaikan kondisi listrik yang biarpret. 

Satu cara yang akan dilakukan dengan menambahkan satu kawat di atas jaringan yang ada. Ari berharap dengan penambahan itu maka jaringan tidak terganggu kawat layangan. 

Cara lain yang akan digunakan dengan tidak menggunakan lagi kabel telanjang dan diganti menjadi kabel drone sehingga tidak tersentuh pohon. Diakuinya belum semua tempat silakan dengan cara seperti ini. Sementara ini hanya kawasan taman-taman. 

"Jadi tidak ada alasan lagi untuk pemangkasan karena kesulitan permintaan izin. Tidak lanjutnya kabel yang di atas diganti menggunakan kabel bawah tanah," imbuh Arie. 

Ari memastikan sejumlah rencana itu akan dilakukan tahun ini. Untuk penggunaan kabel GSW-nya. Proses kontrak selesai dan ia berharap segera direalisasikan. Pemasangan kabel GSW ini dikhususkan pada daerah yang rawan akan permainan layangan.

Ari mengakui gangguan terbesar yang dialami adalah akibat dari kawat layangan. Pihaknya pun sudah melakukan berbagai cara namun belum berhasil maksimal. 

"Memang gangguan terbesar itu karena kawat layangan dan itu sudah disampaikan dalam setiap sosialisasi. Termasuk melakukan razia layangan dan itu permainan layang-layang sore hari," jelas Arie.

Cara lainnya yang akan dilakukan dengan menggencarkan sosialisasi. PLN sendiri sudah turun hingga ke kelurahan mengenai penyebab gangguan pasokan listrik. 

"Semoga bisa menyampaikan ke masyarakatnya dan kami komunikasikan terus sehingga bisa membantu PLN mengatasi gangguan listrik di area Pontianak," harap Arie. (mse)
 

Berita Terkait