Warga Desa Kapur Diringkus Usai Sebar Hoaks

Warga Desa Kapur Diringkus Usai Sebar Hoaks

  Jumat, 5 July 2019 10:39
Tersandung Kasus ITE Tersangka: S alias BA (40) Alamat: Jalan Desa Kapur, KKR Penangkapan: Kamis (4/7), oleh Tim Siber Polda Kalbar Jenis Kasus: Menyebarkan Berita bohong mencatut nama Kapolri Motivasi: Iseng

Berita Terkait

Iseng Catut Nama Kapolri 

PONTIANAK - Jajaran Sub Direktorat Cyber Crime Polisi Daerah Kalimantan Barat meringkus S alias BA (40) karena diduga telah menyebarkan berita hoaks yang berujung pada fitnah dan melanggar Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Ia ditangkap setelah mem-posting (mengunggah) komentar kapolri mengenai berita tentang wanita yang membawa anjing masuk ke dalam masjid. 

Dalam unggahannya, S alias BA mencatut nama Kapolri, Jenderal Tito Karnavian. Pelaku mengunggah berita berjudul "Ada Wanita Membawa Anjing Masuk Masjid, Polri: Itu Hal Biasa Jangan Dibesar-besarkan, Anjing juga Ciptaan Allah". Polisi memastikan bahwa berita tersebut adalah hoaks. Kapolri atau pihak Polri tidak pernah menyampaikan pernyataan sebagaimana yang di-posting.

Dalam berita hoaks tersebut juga terdapat foto Kapolri, Jendral Pol Tito Karnavian, dan sebuah komentar menyindir bertuliskan, "Cobe gak babi di bawa ke rumah die ni kire2 marah gak ye. Kan babi juga ciptaan Allah". 

Seperti diketahui, peristiwa wanita membawa anjing masuk ke masjid memang sempat menghebohkan. Insiden itu terjadi di Masjid Al-Munawaroh, Sentul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (30/6) lalu. 

Direktur Reskrimsus Polda Kalbar, Kombes Pol Mahyudi Nazriansyah menjelaskan penangkapan S alias BA berawal ketika tim siber Polda Kalbar melakukan patroli di dunia maya, Rabu (3/7).  Saat itulah ditemukan sebuah akun Facebook dengan nama Sardiman Adi yang membagikan berita hoaks. 

“Berangkat dari hasil temuan terkait postingan hoaks tersebut, tim siber kemudian melakukan berbagai rangkaian penyelidikan untuk mengetahui keberadaan pemilik akun Facebook tersebut,” kata Mahyudi, Kamis (4/7).

Setelah penyelidikan, pihaknya mendapat informasi bahwa yang bersangkutan beralamat di Jalan Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Tim lantas melakukan pengejaran ke rumah terduga pelaku penebar hoaks tersebut. 

“Sesampainya di rumah pelaku, tim kemudian mengamankan pelaku yang tak banyak melakukan perlawanan. Tim juga mengamankan handphone pelaku yang digunakan untuk mem-posting berita hoaks terkait komentar kapolri tersebut,” ujarnya.

Saat diinterogasi, BA mengakui bahwa perbuatannya itu hanya iseng. Ia meneruskan posting-an dari orang lain yang tersebar di beranda akun Facebook miliknya. Sebelum ikut menyebarkan, ia sempat menambahkan caption (catatan keterangan) pada berita tersebut.

Atas perbuatan isengnya itu, pelaku dijerat dengan Pasal 45A ayat (1), Jo Pasal 28 ayang (1) UU No.19/2016 tentang perubahan UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). “Direktorat Kriminal Khusus Polda Kalbar juga akan melakukan koordinasi dengan saksi ahli bahasa Indonesia untuk menindaklanjuti kasus ini,” pungkas Mahyudi. 

S alias BA menambah daftar panjang penyebar hoaks di provinsi ini. Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Dittipidsiber Bareskrim) Mabes Polri juga menangkap pemilik akun Instagram rif_opposite, berinisial MAM (45), di Kompleks Borobudur, Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak, Selasa (25/6). Tersangka diciduk karena diduga sebagai kreator dan penyebar hoaks serta ujaran kebencian. 

“Tersangka adalah pemilik dari akun Instagram rif_opposite yang sangat aktif melakukan unggahan gambar dan video hasil kreasi dan modifikasi dirinya sendiri di akun Instagram miliknya,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo , Senin (1/7).

Dedi menjelaskan, informasi atau berita bohong yang disebarkan tersangka adalah berupa gambar, serta video-video buatan sendiri. Tujuannya untuk menghina tokoh pemerintahan, mantan presiden, tokoh agama, institusi Polri, KPU dan lembaga yang melakukan penghitungan cepat atau quick count pemilihan umum (pemilu).

Kepada penyidik, tersangka mengaku termotivasi mem-posting konten-konten gambar dan video karena tidak suka dengan pemerintahan saat ini. Dedi melanjutkan, akun Instagram rif_oppsite memiliki 1.896 pengikut dan telah mengunggah sebanyak 2.542 buah kiriman. “Dalam satu hari, rata-rata akun rif_opposite melakukan unggahan sebanyak empat atau lima kali. Konten unggahan hampir sebagian besar mengandung unsur pidana,” ungkapnya.

Dari penangkapan ini, Polri menyita barang bukti antara lain satu telepon seluler, sim card, dan KTP milik tersangka. Kini tersangka harus mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut. “Ancaman hukuman pidana penjara paling lama penjara 10 tahun,  dan denda paling banyak Rp 1 miliar,” kata mantan Wakapolda Kalimantan Tengah ini. (sig)

Berita Terkait