Warga Bunut Lintasi Jalan Belum Jadi

Warga Bunut Lintasi Jalan Belum Jadi

  Senin, 4 July 2016 10:17
JALAN BARU : Ruas Jalan di Bunut yang tengah di bangun. FOTO MUSTA’AN

Berita Terkait

PUTUSSIBAU — Untuk menghemat biaya mudik lebaran, berbagai cara dilakukan masyarakat agar bisa sampai ke kampung halaman masing-masing dengan biaya yang murah. Warga kecamatan Bunut Hilir, salah satunya. Walau harus melewati medan yang berat demi menghemat biaya, mereka rela melintasi jalan lintas boyan, ruas Siawan-Nanga Bunut yang masih dalam pengerjaan kontraktor.

 
Warga Bunut Hilir, Yunus Iskandar mengatakan, meskipun Jalan Nanga danau- Nanga Bunut belum layak digunakan, masyarakat tetap memaksakan menggunakan jalan tersebut untuk mudik lebaran. Hal itu dilakukan untuk menghemat biaya transportasi mudik lebaran. Apalagi ekonomi masyarakat saat ini masih sulit.Akibat sulit matapencharian dan anjloknya harga hasil pertanian dan perkebunan.

"Mau macam mana lagi dari pada lebaran di kampung orang lebih baik pulang menggunakan sepeda motor dari jalan darat,"katanya. Dikatakannya, kondisi jalan dari Simpang Boyan sampai ke Siawan masih layak dilalui meskipun hanya jalan tanah. Namun ruas Siawan-Nanga Bunut, dibadan jalan sudah dipenuhi rumput (semak), tak hanya itu, sepanjang jalan juga terdapat banyak tanah gambut.

Yunus mengatakan, pemudik yang melintasi ruas jalan Siawan-Nanga Bunut harus membawa parang untuk memotong hutan bawas, mengingat jalan tersebut sudah tidak tampak lagi. Selain harus melewati semak belukar, sepeda motor juga sulit melaju karen amblas ditanah gambut. “Sebagian jalan itu melintasi tanah gambut, sepeda motor banyak amblasnya di jalan,” kata politisi gerindra ini.

Walaupun susah dilewati, kata Yunus,  dalam sepekan ini sudah ada sekitar 200 sepeda motor yang melintas dijalan tersebut. Hal ini dikarenakan menggunakan kendaraan bermotor roda dua lebih hemat dari pada naik speed boat jalur sungai. "Kalau pakai sepeda motor Pulang Pergi (PP) biayanya hanya Rp 100 ribu untuk beli minyak dan bisa untuk dua orang. Jadi jauh lebi hemar,” terangnya lagi.

Sebab, kata dia kalau naik speed boat satu orang tiketnya PP Rp 280 ribu, jika dua oran habiskan Rp 560 ribu. Dia mengatakan, setiap menjelang hari raya lebaran harga tiket speed boat mengalami kenaikan. Tahun lalu tarif normal Rp 100 ribu per orang, naik menjadi Rp 120 ribu per orang. Untuk tahun 2016 ini juga mengalami kenaikan. Dari Rp120 ribu per orang naik jadi Rp 140 ribu per orang.

Senda dengan Yunus, Jurnalis asal Desa Bunut Hilir, Syafari mengaku rugi naik speed boat, karena dia pulang bersama istrinya.

“Dari pada keluar biaya banyak lebih baik pakai sepeda motor. Walaupun medan yang ditempuh sangat berat, tapi biaya yang dikeluarkan tidak banyak," katanya.Menurut dia warga Kecamatan Bunut Hilir melintasi jalan tersebut saat mudik lebaran sejak Tahun 2015 yang lalu.

Bahkan, kata pria yang karib disapa Pahri ini, jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor dari jalan tersebut tidak kurang dari 300 motor. Menurutnya, dengan kondisi perekonomian seperti saat ini kemungkinan jumlah pemudik yang menggunakan jalan itu lebih banyak dari tahun sebelumnnya. “Tahun ini mungkin lebih banyak, cuaca juga mendukung, tanah sudah kering ," kata Putra Bunut ini.

Dikatakannya, biasanya jalan tersebut padat digunakan para pemudik mulai dari tiga hari menjelang lebaran.  “Warga Nanga Bunut yang tinggal di Putussibau dan jalur lintas selatan seperti Nanga Kalis, Mentebah, Semangut, Boyan Tanjung, Jongkong dan Suhaid dan Silat pasti melintasi jalan tersebut sebagai jalan alternatif mereka,” tutur pria yang baru mempersuntingkan warga asal Suhaid ini.(aan)

Berita Terkait