Warga Blokade Jalan Simba Raya

Warga Blokade Jalan Simba Raya

  Rabu, 13 February 2019 09:06
JALAN RUSAK: Seorang siswi SMP sedang melintasi “tol” darurat yang dibuat oleh warga agar memudahkan pengendara motor melintasi jalan rusak berlumpur. Bagi masyarakat umum, tarif melalui jalan “tol” ini dikenakan Rp 2 ribu rupiah. Namun, khusus pelajar ataupun warga setempat, tarifnya digratiskan. AGUS PUJIANTO FOR PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Midji Sayangkan Penutupan Jalan

SINTANG - Warga Desa Simba Raya, Kecamatan Binjau Hulu, Kabupaten Sintang melakukan aksi protes dengan memblokade jalan, Selasa (12/2). Mereka menuntut agar pemerintah segera memperbaiki jalan di desa mereka yang rusak parah. Selain itu, mereka juga menagih janji Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji saat berkunjung ke desa tersebut pada 25 Januari lalu. 

Penutupan jalan oleh warga di ruas Jalan Sintang-Senaning ini mengakibatkan akses transportasi dari dua arah lumpuh sementara. Warga memblokade jalan menggunakan bambu dan tripleks yang dibentangkan membentuk portal sehingga menutupi seluruh badan jalan. 

Tak satu pun kendaraan baik roda dua maupun empat bisa melintasinya. Puluhan kendaraan yang akan melalui jalan ini, baik dari arah Senaning maupun sebaliknya terpaksa berhenti berjam-jam. Warga mulai membangun portal sejak pukul 08.00 WIB. 

Pembongkaran portal baru dilakukan setelah ada kesepakatan antara warga dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sintang, Murjani yang datang ke lokasi. Portal dibuka sekitar pukul 13.20 WIB.

BLOKADE: Warga Desa Simba Raya, Kecamatan Binjai Hulu memblokade ruas jalan Sintang-Senaning dengan pagar triplek dan bambu. 

Remigius, koordinator aksi blokir Jalan Desa Simba Raya mengatakan aksi ini dimaksudkan untuk mendesak pemerintah agar segera memperbaiki jalan yang rusak parah di desa mereka. Remigius merasa iri dengan kondisi jalan di desa sebelah yang mulai diperbaiki. Sementara jalan di desanya tidak kunjung mendapat perhatian pemerintah. “Kami mendesak pemerintah agar segera memperbaiki Jalan Simba karena ini di pinggir kota. Desa Dak Jaya sudah diaspal, di sini kok masih tanah berlumpur,” katanya kesal. 

Kepala Desa Simba Raya, Sugiono mengaku bangga akan perjuangan masyarakat desanya. Meski sempat menyebabkan tranportasi terhambat, aksi tersebut dinilai dapat menarik perhatian pemerintah agar mau mengabulkan tuntutan mereka. 

“Saya bangga kepada masyarakat Simba dan desa sekitar yang mendukung aksi ini. Aksi ini bukan menghambat. Aksi ini malah memperlancar urusan masyarakat, jalan untuk masyarakat, karena sebelum ada aksi ini, tidak ada perhatian khusus dari instansi terkait,” kata Sugiono. 

Kerusakan Jalan Simba dinilai Sugiono sangat parah. Tidak hanya berlobang, tetapi juga dipenuhi kubangan air berlumpur. Kondisi itu menyulitkan akses masyarakat hingga pelajar yang hendak pergi ke sekolah. Selain itu, jalan yang hancur juga menyebabkan distribusi pertanian tak maksimal. 

“Mau mengantar anak sekolah saja harus jatuh bangun. Bagaimana masyarakat bisa pintar kalau mau pergi sekolah saja susah. Bahkan sampai ada yang harus pulang lagi ke rumah karena pakaiannya kotor. Selama ini masyarakat menahan keluh kesah luar biasa. Ada yang jadi petani mau bawa sayur ke kota, kadang tidak sampai. Dia harus balik arah dan hasil pertaniannya tidak terjual, jadi umpan sapi,” ungkap Sugiono. 

Meski jalan ditutup, dia menyebut ada pengecualian bagi sejumlah kendaraan. Mobil ambulans atau warga yang membawa orang sakit tetap diperbolehkan melintas. “Mobil perusahaan yang akan lewat juga kami tahan dulu. Saat ini ada empat mobil perusahaan kami sandera sampai ada ada tanggapan dari pemerintah,” ancam Sugiono. 

Aksi penutupan jalan juga ditujukan untuk menagih janji Gubernur Kalbar, Sutarmidji yang pada 25 Januari lalu setelah berkunjung ke desa mereka. Waktu itu, Sutarmidji menyatakan akan memanggil delapan perusahaan untuk membicarakan soal perbaikan jalan. Akan tetapi, janji itu belum ditepati. 

“Masyarakat menuntut janji gubernur yang katanya akan panggil delapan perusahaan yang ada di daerah Binjai-Ketungau untuk perbaikan jalan, tapi sampai hari ini tidak ada realisasinya. Apakah itu memang belum dipanggil, atau perusahaan yang lalai,” tanya Sugiono. 

Tariyono, perwakilan masyarakat Desa Simba Raya juga secara terang-terangan merasa tidak puas dengan keadaan jalan yang hancur bertahun-tahun. Dia berharap jalan ini segera diperbaiki. 

Pemerintah baik kabupaten maupun provinsi diberi waktu dua minggu setelah aksi penutupan jalan ini agar segera memperbaiki Jalan Desa Simba. Apabila tuntutan tidak dipenuhi, Tariyono menyebut akan ada aksi yang lebih besar. 

“Maksimal dua minggu setelah aksi ini, apabila tidak ada respon, masyarakat akan mengadakan aksi yang lebih besar. Tentunya jalan akan diblokir, semua kendaraan tidak boleh lewat. Jangka pendek minimal lobang segera diperbaiki,” desak Tariyono. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sintang, Murjani mengaku Pemkab Sintang sangat peduli dengan ruas jalan Sintang-Ketungau. Hanya saja, saat ini ruas jalan tersebut sudah menjadi wewenang pemerintah provinsi. 

“Ini masalahnya. Kami tidak menutup mata. Kami sudah berkoordinasi dengan UPJJ provinsi. Ke depan insya allah akan ditangani secara fungsional, tidak bisa langsung. Soalnya dananya harus di-tender dulu. Soal janji gubernur, malam ini kita ada pertemuan dengan delapan perkebunan,” kata Murjani di hadapan masyarakat Desa Simba Raya. 

Murjani juga menjanjikan alat berat yang saat ini ada di Sungai Risap akan diturunkan untuk memperbaiki kerusakan Jalan Simba sembari mendorong agar pihak perkebunan juga turun tangan. “Intinya kami peduli,” ujarnya. 

Kepala Unit Pemeliharaan Jalan dan Jembatan (UPJJ) Wilayah I, Irwan memastikan akan menurunkan alat berat untuk memperbaiki ruas jalan yang rusak agar bisa fungsional. “Alat berat ada di Mensiap. Kemarin kami habis memperbaiki jalan di Sejantung. Kami minta waktu dua hari untuk alat kami sampai. Mulai besok alat kami turun,” jelasnya. 

Setelah mendapatkan jawaban tersebut, warga cukup puas dan kemudian sepakat untuk membongkar portal bersama-sama. Puluhan kendaran yang sempat terhenti bisa kembali melewati ruas jalan menuju perbatasan tersebut. Aksi damai hingga pemblokiran jalan ini sempat dikeluhkan sejumlah pengendara. Khairudin, warga Desa Senaning, Kecamatan Ketungau Hulu, misalnya. 

Perjalanannya dari Sintang ke Senaning menjadi terhambat berjam-jam karena jalan ditutup. Dia dan pengguna jalan lain tidak diperkenankan melintas. “Mau bagaimana lagi. Kami tidak diperbolehkan lewat. Padahal besok ada Musrenbang di kantor kecamatan. Kalau ndak ada kepastian, mungkin saya harus putar balik, lewat Balai Karangan,” kata Khairudin. 

Agri, pengendara lainnya juga keberatan dengan aksi penutupan jalan. Namun, dia hanya bisa pasrah. Agri pun sempat berpikiran sama dengan Khairudin, ingin mengambil jalan memutar melewati Balai Karangan, Kabupaten Sanggau yang otomatis jarak tempuhnya semakin jauh. Untunglah niat itu tidak jadi dilaksanakan dan mereka bersabar menunggu sampai portal dibuka. 

Midji Sayangkan Penutupan Jalan 

Sementara itu, Gubernur Kalbar, Sutarmidji menyayangkan penutupan jalan yang dilakukan warga Desa Simba Raya, Kecamatan Binjai Hulu, Kabupaten Sintang, Selasa (12/2). Tuntutan masyarakat agar pemprov membangun jalan tersebut dinilainya tidak realistis. Sebab, dirinya baru menjabat sebagai kepala daerah sekitar empat bulan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) belum lama disahkan. 

"Penutupan jalan oleh masyarakat karena melihat kondisi jalan yang hancur saya maklumi, tapi kalau untuk menuntut janji saya itu yang tak realistis, karena saya sebagai gubernur baru menjabat empat bulan dan APBD baru berusia 40 hari," ungkap Midji sapaan akrabnya melalui pesan singkat, Selasa (12/2).

Jika masyarakat masih tetap ingin menutup jalan tersebut, kata dia, sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu secara baik-baik. Apalagi kerusakan jalan itu diakibatkan oleh kendaraan pengangkut sawit yang muatannya berlebih dan seolah tak peduli dengan jalan yang sering dilalui masyarakat setempat.

"Kalau masih lagi mau tutup, seharusnya dipikirkan dulu matang-matang. Lagi pula saya ke sana belum satu bulan dan di lapangan saya dapat data ada tujuh perusahaan sawit yang berada di lintas jalan itu yang tidak peduli. Padahal yang merusak mereka (perusahaan) yang menjejali jalan dengan muatan yang berlebih," tegasnya.

Orang nomor satu di Kalbar itu menegaskan jika setelah jalan tersebut nanti diperbaiki, pihak perusahaan sawit harus turut berpartisipasi merawatnya. Jika tidak maka operasional perusahaan sawit tidak akan diperbolehkan melalui jalan tersebut. 

"Kalau ke depan setelah diperbaiki, perusahan sawit tidak ikut menjaga maka akan ada tindakan untuk mereka. Mereka wajib buat jalan sendiri. Saya sebetulnya tidak suka dengan cara-cara seperti ini, karena saya ingin pembangunan yang berkeadilan," tuturnya.

Secara umum di tahun 2019, untuk di Kabupaten Sintang disebutkannya ada beberapa titik jalan yang akan diperbaiki pemprov. Kurang lebih ada lima titik jalan yang akan ditangani meski belum tuntas karena perbaikannya bertahap. Selain itu, proses perbaikan jalan tersebut juga harus melalui lelang yang cukup memakan waktu. 

"Perbaikan jalan itu harus di-tender dan proses tender itu cukup lama. Jadi, ke depannya jangan sedikit-sedikit cerita janji. Lihat saja perjalanan lima tahun ke depan dan jangan juga dikait-kaitkan dengan pilkada," pungkasnya.(gus/bar)

Berita Terkait