Warga Adukan YIARI ke Ombudsman

Warga Adukan YIARI ke Ombudsman

  Kamis, 12 July 2018 10:00
MENGADU KE OMBUDSMAN: LSM Peduli Kayong saat mengadukan keluhan masyarakat kepada Ombudsman RI Perwakilan Kalbar, beberapa waktu lalu di Pontianak. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Orangutan Pusat Rehabilitasi Kerap Lepas

KETAPANG – Sejumlah warga di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, mengeluhkan seringnya orangutan lepas dari tempat rehabilitasi mereka di Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI). Orangutan yang lepas tersebut, diakui warga, masuk ke kebun dan merusak tanaman milik warga. Bahkan beberapa waktu lalu primata langka tersebut masuk dan mengacak-acak asrama mahasiswi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Alhaudl Ketapang.

Meski tidak ada korban jiwa dan terlaku, warga berharap pegelolaan tempat tehabilitasi orangutan tersebut dapat dibenahi, agar kasus orangutan lepas dan masuk ke permukiman warga tidak terulang lagi. "Yang lebih dikhawatirkan lagi jika sampai terjadi konflik fisik antara warga dengan orangutan," kata Kepala Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan, Rusli, kemarin (11/7).

Rusli menjelaskan, kasus orangutan lepas dan masuk ke kebun dan permukiman warga sudah beberapa kali terjadi. Hal ini tentu membuat mereka khawatir. Mereka khawatir jika orangutan tersebut lepas dan sampai melukai melukai warga. "Beberapa waktu lalu kasus orangutan yang lepas itu sampai mengejar warga," jelasnya.

Dia juga mengaku tidak tahu kenapa orangutan yang direhabilitasi oleh IAR kerap lepas? Warga yang merasa khawatir hanya bisa melaporkan hal itu kepada IAR. Masyarakat tidak bisa berbuat banyak ketika orangutan masuk ke kebun atau permukiman. Warga takut terkena sanksi hukum jika sampai melukai atau membunuh orangutan.

"Masyarakat dilema. Satu sisi mereka takut diserang orangutan dan kebun dirusak. Sementara satu sisi kalau memukul atau menyerang orangutan khawatir menjadi masalah. Makanya banyak warga melapor soal ini," ungkapnya.

"Sempat dilakukan rapat antara pihak desa dengan puluhan warga desa. Warga desa juga meminta IAR untuk tidak melakukan operasional di wilayahnya jika memang tidak bisa menjamin orangutan tidak lepas lagi, terlebih lagi jika sampai kerap terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," tambah Rusli.

Untuk itu, dia berharap agar IAR dapat melakukan langkah-langkah agar orangutan tersebut tidak terlepas lagi. Karena sebagai kepala desa tentu dia memikirkan keselamatan serta kenyamanan warganya. "Kalau keberadaan IAR malah memicu seringnya orangutan lepas, maka lebih baik IAR pindah atau tidak beroperasional di wilayah sekitar kami. Apalagi selama ini kami tidak pernah tahu apa yang dibangun IAR, aktivitas apa saja yang mereka lakukan karena tidak pernah mereka menyampaikan kepada kami," paparnya.

Ketua LSM Peduli Kayong, Suryadi, membenarkan mengenai keluhan masyarakat di Desa Sei Awan Kiri. Bahkan, dirinya sudah membantu menyampaikan keluhan masyarakat dengan melaporkan persoalan ini ke Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Barat (Kalbar) serta ke Polda Kalbar khususnya dibidang Kasubdit IV Dirkrimsus Polda Kalbar.

"Kita sudah sampaikan apa yang menjadi persoalan dan keluhan warga, bahkan dari pengaduan kita persoalan akan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait. Kita berharap ada sanksi jika memang ada kelalaian, karena ini menyangkut kenyamanan dan keselamatan masyarakat juga," ujarnya. (afi)

Berita Terkait