Wadir Narkoba Polda Kalbar Ditangkap Bawa Sabu

Wadir Narkoba Polda Kalbar Ditangkap Bawa Sabu

  Senin, 30 July 2018 10:00

Berita Terkait

Dicopot, Terancam Pecat dan Pidana

JAKARTA - Institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali tercoreng. Salah satu perwira menengah (pamen)  yang bertugas di Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat (Kalbar) diduga terlibat narkoba. 

Wakil Direktur Reserse Narkoba (Wadirresnarkoba)  Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hartono ditangkap petugas keamanan bandara (Aviation Security/Avsec) di Terminal 1 A Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), di Tangerang, Banten, Sabtu (28/7) sekitar pukul 6.20. 

Hartono diamankan karena kedapatan membawa narkoba jenis sabu seberat 2,38 gram. Setelah diamankan, Hartono diserahkan kepada Kepolisian Resor (Polres) Bandara Soetta. 

Polda Kalbar membenarkan informasi adanya penangkapan AKBP Hartono oleh petugas Avsec Bandara Internasional Soekarno-Hatta. "Benar. Memang ada informasi penangkapan terhadap yang bersangkutan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Kombes Pol Nanang Purnomo, kemarin.

Hanya saja, menurut Nanang, dirinya belum mendapat konfirmasi secara resmi dari kesatuan tempat AKBP Hartono bertugas. "Saya sudah hubungi Direktur Narkoba, tapi belum diangkat. Sekarang saya lagi di Jawa, sedang perjalanan menuju Pontianak," katanya.

Saat ini pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari penyidik yang menangangani perkaranya. "Kita tunggu saja apa hasilnya," ujar dia.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol M Iqbal membenarkan adanya oknum anggota polisi yang diamankan karena kedapatan membawa narkoba berupa sabu-sabu (SS) seberat 2,38 gram di Bandara Soekarno-Hatta. 

Iqbal menyebut oknum itu adalah AKBP Hartono yang merupakan Wadiresnarkoba Polda Kalbar. “Saat ini yang bersangkutan sudah dicopot dari jabatannya. Kita juga akan proses pelanggaran kode etik profesi dan pidananya,” katanya kemarin (29/7).

Jenderal bintang satu tersebut juga menegaskan, Polri pasti akan memberikan tindakan tegas kepada oknum anggota Polri yang melakukan pelanggaran atau pidana apapun. “Saat ini yang bersangkutan sudah kita amankan dan diperiksa di Divisi Propam Mabes Polri,” terangnya.

Pencopotan terhadap AKBP Hartono tersebut juga sudah tertuang dalam surat telegram (TR) Kapolri tertanggal 28 Juli 2018. Dalam TR tersebut, AKBP Hartono dicopot dari jabatannya dan dimutasikan sebagai Pamen Yanma Polri dalam rangka pemeriksaan.

Kapolres Bandara Soekarno-Hatta AKBP Victor Togi Tambunan menambahkan, Hartono baru saja mendarat di Bandara Soetta setelah menumpangi pesawat Lion Air JT-722 dari Bandara Juanda ke Soekarno-Hatta. Dia diamankan saat berada di Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu lalu (28/7).

“Yang bersangkutan dari Surabaya dan akan menuju ke Kendari. Tapi pesawatnya transit dulu di Jakarta,” jelasnya, Minggu (29/7). Namun, sesaat setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta persisnya saat melalui pemeriksaan di Security Check Point (SCP) 2 Terminal 1A, petugas Avsec menemukan sebungkus plastik kecil berisikan serbuk putih yang diduga sabu-sabu di saku celana belakangnya.

“Karena itu, petugas Avsec pun langsung menyerahkan yang bersangkutan berikut barang buktinya ke Polres Bandar Soekarno-Hatta. Dan saat ini kasus tersebut sedang didalami Paminal Mabes Polri,” terangnya.

Asisten Sumber Daya Manusia (SDM) Polri Inspektur Jenderal (Irjen) Arief Sulistyanto juga memastikan bahwa Kapolri Jenderal Tito Karnavian langsung memutasi yang bersangkutan. Menurutnya, pimpinan Polri tidak memberikan toleransi atas dugaan keterlibatan anggota dalam kasus narkoba. "Pimpinan Polri akan memberikan tindakan tegas," kata Arief menjawab Pontianak Post, kemarin (29/7). 

Mantan Kapolda Kalbar itu menegaskan bahwa yang bersangkutan tidak hanya terancam sanksi etik. Bila terbukti bersalah, maka bisa dipidana dan pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) alias pecat. "Sanksinya kode etik, PTDH atau pecat, dan proses pidana," ungkap alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1987 ini. 

Arief mengatakan, saat ini yang bersangkutan masih dalam proses pemeriksaan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri. Karena itu, Arief mengatakan nantinya Propam yang akan memeriksa indikasi lebih jauh keterlibatan yang bersangkutan. "Itu tugas Propam yang periksa. Saya tidak memeriksa," kata mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipideksus) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, itu.(arf/ody/cuy/jpnn)

Berita Terkait