Victim Blaming Berpengaruh Pada Psikologis

Victim Blaming Berpengaruh Pada Psikologis

  Senin, 11 June 2018 10:57

Berita Terkait

BELAKANGAN nama Via Vallen cukup menggemparkan dunia hiburan tanah air. Bukan karena karya spektakuler atau penghargaan yang diterimanya. Melainkan kasus victim blaming yang ditujukan kepadanya.

Merasa dilecehkan dengan isi pesan ‘I want you sign for me in my bed room, wearing sexy clothes’, penyanyi asal Sidoarjo ini pun berani speak up. Via mengunggah isi pesan DM-nya ke dalam Instagram stroy (IGstory) di akunnya.

Beragam respon dihadirkan netizen Indonesia yang didominasi kawula muda. Ada yang mengapresiasi tindakan Via. Namun, ada pula yang mengatakan Via terlalu lebay dalam menanggapi isi pesan tersebut.

Terlebih, Via nggak memperlihatkan secara jelas siapa ‘pengirim’ pesan tersebut. Melihat pro dan kontra yang hadir, Psikolog Klinis Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Ch.t memberi tanggapannya. Maria mengatakan seseorang harus lebih dulu mengetahui definisi victim blaming.

“Jangan sampai salah kaprah. Mungkin dalam kasus-kasus tertentu seseorang bisa langsung menyebutkan yang sedang terjadi adalah kasus victim blaming. Akan tetapi, setelah ditelaah bukan,” ujarnya.

Psikolog Rumah Sakit Kota Sultan Syarief Mohammad Alkadrie Pontianak memberi contoh ketika ada remaja perempuan menggunakan rok pendek. Kemudian tanpa sengaja ia melewati suatu tempat (gang atau komplek) dan ia diperkosa dengan laki-laki yang ada disekitar situ.

Ketika melaporkan kejadian tersebut pada pihak berwajib, remaja perempuan justru disalahkan karena menggunakan rok pendek, atau berjalan sendirian melewati tempat tersebut.

“Jika sudah begini, remaja korban perempuan murni mengalami victim blaming. Dimana ia disalahkan banyak pihak padahal bukan kesalahannya,” tambah Maria.

Atau, remaja perempuan itu menggunakan busana sopan, tapi karena terlalu cantik dan lekuk tubuhnya indah. Ia kemudian diperkosa dan disalahkan karena lekuk tubuhnya dianggap menggoda pemerkosa.

Hal ini nggak dibenarkan. Termasuk pula kasus yang dialami Via Vallen. Setiap orang memiliki pemikiran tersendiri. Dan wajar rasanya ketika mendapatkan kata-kata yang kurang pantas, ia menafsirkannya sebagai pelecehan.

Namun, definisi pelecehan yang dialami harus jelas. Perlu lagi menilai apakah bersifat bercanda, atau memang memasukkan unsur pelecehan. Harus jelas juga jika dilihat dari segi hukum.

Serta, apa maksud dan tujuan Via mengunggah isi DM dan percakapannya bersama ‘si pelaku’. Bisa saja ini sebagai bentuk membuat pelaku jera dan nggak mengulangi kesalahan. Atau, agar perempuan lebih aware terhadap isi DM seperti ini.

“Akan tetapi, apapun yang bersifat pada kata-kata melecehkan sangat nggak dibenarkan,” jelasnya.

Intinya, siapapun yang mengalami victim blaming akan mengalami gangguan pada kondisi psikologisnya. Kata-kata yang nggak pantas atau terlalu menyudutkan akan membuat seseorang, termasuk penyanyi sekelas Via Vallen merasa terganggu. Jika ia terlalu memperhatikan komentar miring yang diberikan.

Atau, sampai terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, merasa takut ketika bertemu orang, karena anggapan dan tudingan yang ada. Bisa saja, gangguan psikologis orang tersebut akan terganggu kedepannya. Sejatinya, victim blamming erat kaitannya dengan masalah psikologis. (ghe)

 

Berita Terkait