Untan Siapkan SDM Industri Alumina di Kalbar

Untan Siapkan SDM Industri Alumina di Kalbar

  Senin, 16 July 2018 11:03
SEPAKAT: Rektor Untan, Prof Thamrin Usman dan Plt. Direktur Utama PT BAI, Darwin Saleh Siregar | IST

Berita Terkait

PONTIANAK - Universitas Tanjungpura (Untan) terus mengembangkan diri untuk menjawab kebutuhan dunia industri di Kalimantan Badat. Terakhir, Rektor Untan Prof Dr H Thamrin Usman DEA bersama Plt Direktur Utama PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI), Darwin Saleh Siregar ST MSi, melaksanakan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman, yang berlangsung di Ruang Rapat Rektor Gedung Rektorat Untan Lantai 2, pada Jumat (13/7) sore.

Thamrin menyambut baik kerjasama ini. Dia menuturkan, MoU ini merupakan suatu penghargaan bagi Untan dan menjadi suatu bentuk tanggungjawab berkaitan dengan bagaimana Untan memberikan hal yang terbaik untuk PT Borneo Alumina Indonesia.

“Tidak hanya berkaitan dengan community development atau pembangunan masyarakat setempat, tetapi juga dunia kerja dan tenaga ahli juga bisa kita siapkan. Kita memiliki putra putri terbaik yang ada di Kalbar ini, terutama yang ada di Mempawah, dimana PT Borneo Alumina Indonesia nanti akan menempatkan industrinya di sana,” ujarnya.

PT Borneo Alumina Indonesia merupakan anak perusahaan dari PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum, yang merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pengolahan dan peleburan Aluminium dan PLTA yang terletak di Sumatera Utara.

Sebelumnya, Untan juga telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Korea Selatan untuk industri biodiesel di Tayan.  Dalam kesepakatan itu, pihak PTPN XIII berperan sebagai tempat riset dengan penyediaan limbah cair dari Pabrik Kelapa Sawit. Sedangkan pihak Untan akan menjadikan limbah cair tersebut sebagai topik riset. Adapun pihak ILSHIN dan KIN dari Korea Selatan menyediakan alat dan anggaran. Rektor Untan mengatakan kehadiran limbah cair pabrik sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) memberikan dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup.  “Dan yang paling menjadi sorotan masyarakat dunia adalah dampak kenaikan suhu bumi akibat terbentuknya Gas Efek Rumah Kaca (Gas Methane),” papar Thamrin.

Lewat sentuhan teknologi, gas ini pada gilirannya dapat dimanfaatkan sebagai gas penggerak generator listrik utk menghasilkan listrik. Melalui teknologi yang dikembangkan oleh ILSHIN, limbah industri kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent) dapat diubah menjadi biogas, yang dengan kapasitas produksi sebesar 9.000 N㎥ per hari akan mampu menghasilkan suplai listrik sebesar 7.675 MWh per tahun.

Selain itu, lapisan minyak berkualitas sangat jelek atau Palm Acid Oil selanjutnya dapat menambah beban pencemaran air dan tanah serta bau busuk di udara. Tetapi dengan bantuan teknologi maju (Advance Technology), dapat diubah menjadi produk yang bernilai ekonomi yang tinggi. Hasil akhirnya adalah Energi Ramah Lingkungan Biodiesel sebagai pengganti BBM Solar. “Dua manfaat besar yang dapat diperoleh dari kegiatan riset ini. Pertama, mengatasi masalah limbah dengan efek pemanasan global. Ke dua, Mengubah limbah jadi produk ekonomi tinggi,” ucap dia.

Proyek ini pada gilirannya dapat diklaim sebagai Program Sawit Bersih (Palm Clean Industry Program). Hal ini menjadi kampanye kepada masyarakat dunia bahwa Industri Sawit di Kalbar Ramah Lingkungan. “Dengan demikian dapat terhindar dari embargo dari negara-negara konsumen baik di Eropa maupun Amerika dan Jepang. Tahap pertama kerja sama ini berupa Oil Recovery berdurasi satu tahun dengan masa kerjasama selama lima tahun,” pungkas Thamrin. (ars)

Berita Terkait