Ungkap Sisi Humanis Biarawati

Ungkap Sisi Humanis Biarawati

  Sabtu, 13 April 2019 10:44
BINTANG UTAMA: Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerikho menjadi bintang utama dalam film Ave Maryam yang disutradarai Ertanto Robby Soediskam.SUMMERLAND FOR JAWA POS

Berita Terkait

Ave Maryam, Cinta di Antara Tanggung Jawab Hidup Selibat

Jatuh cinta mungkin hal yang mudah bagi kebanyakan orang. Tapi, tidak demikian Maryam dan Yosef. Hati suster dan pastor itu harus bergejolak ketika saling merasakan cinta. Dalam Ave Maryam, kisah itu diceritakan. 

FILM yang disutradarai Ertanto Robby Soediskam ini berlatar sebuah susteran di Semarang pada 1989. Maryam (Maudy Koesnaedi), biarawati 40 tahun, datang ke susteran itu untuk mengabdi. Dia bertugas merawat para biarawati sepuh di sana dan mengurus kegiatan rumah tangga susteran.  

Selama masa pengabdiannya, Maryam bertemu dengan Yosef (Chicco Jerikho), pastor yang juga ditugaskan di gereja setempat. Sosok Yosef yang liberal menarik perhatian Maryam. Demikian pula Yosef yang sering mendekati Maryam yang kalem. Sebuah rasa muncul di hati mereka yang disertai kegamangan akan tanggung jawab hidup selibat.

Lewat film berdurasi 80 menit itu, Robby ingin mengangkat sisi humanis biarawati. ”Meski sudah berjanji mengabdi pada Tuhan, mereka juga manusia biasa yang bisa jatuh cinta,” terang Robby. Lewat sisi humanis itu, sang sutradara ingin membuat film yang sederhana dan jujur.

Robby membuktikan ucapannya. Jalan cerita Ave Maryam cukup sederhana dan mudah diikuti. Dengan apik, dia memaparkan bagaimana Maryam bergulat dengan perasaannya dan bagaimana Yosef sedemikian tertariknya pada Maryam. Meski minim dialog, film itu bisa memaparkan cerita dengan jelas. Penggambaran adegannya kuat serta akting para pemain yang bagus. 

Untuk membuat naskah film yang sudah tayang di beberapa festival film seperti Hanoi International Film Festival 2018, Hongkong Asian Film Festival 2018, dll itu, Robby melakukan riset selama setahun. Pada awal 2016, dia berkunjung ke Semarang dan mendatangi susteran di gereja Gedangan. Di sana, dia banyak berinteraksi dengan biarawati dan mengenal pengalaman mereka selama mengabdi. Robby juga mewawancarai seorang pastor untuk menambah bahan cerita.

Riset itu membantunya meracik naskah dengan baik. Dia bisa membentuk karakter Maryam dengan utuh dan hidup. Di beberapa adegan, penonton akan merasa tersentuh oleh kegamangan Maryam. Di adegan lain, penonton juga ikut terharu saat Maryam dan Yosef sedih karena cinta mereka terhalang kewajiban.

Akting Maudy Koesnaedi sangat matang. ”Saya butuh sosok perempuan yang kalem dan sederhana, sesuai dengan citra biarawati,” kata Robby. Itu didapatkan pada sosok Maudy.

Sang aktris mengaku senang bisa berakting sebagai Suster Maryam. Dia tidak canggung ketika harus memerankan sosok yang berbeda keyakinan dengannya. ”Saya jadi bisa mengeksplorasi kemampuan akting saya,” kata aktris 44 tahun itu. Seperti Robby, Maudy pun melakoni riset dengan dibantu para suster yang tinggal di lokasi syuting. ”Mengamati cara mereka berdoa, bertugas, dan berpakaian,” lanjutnya.

Robby menegaskan bahwa sejumlah rohaniwan Katolik mendukung filmnya. Dia tidak gentar dengan kemungkinan adanya kontroversi. ”Cerita film ini sangat manusiawi bahwa cinta bisa dirasakan siapa saja, termasuk biarawati,” jelasnya. (len/c6/jan)

Berita Terkait