UncleOng Minta Dihukum Tembak

UncleOng Minta Dihukum Tembak

  Kamis, 22 September 2016 10:13

Berita Terkait

MINTA dihukum mati dengan cara ditembak. Itulah permintaan terdakwa Ong Bok Seong alias Uncle Ong (67), terdakwa penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 11,254 kilogram kepada majelis hakim PN Sanggau.

 
Apakah majelis hakim yang diketuai hakim Didit Pambudi akan mengabulkan permintaan tersebut?  Sidang pembacaan putusan oleh majelis hakim atas perkara penyelundupan sabu-sabu seberat 11,254 kilogram dari Malaysia baru akan dibacakan Jumat (23/9) mendatang.

Yang menarik dinanti adalah putusan majelis hakim, apakah  mengabulkan permintaan itu atau akan memutuskan hukuman lain bagi warga negara asing asal Malaysia tersebut.

Uncle Ong, merupakan satu dari dua terdakwa dalam kasus diatas. Dia pernah mengungkapkan keinginannya itu didepan majelis hakim pada saat persidangan di Pengadilan Negeri Sanggau. Lebih jauh, terdakwa bahkan menyebut minta ditembak pada kedua dadanya sebagai hukuman mati atas dirinya.

Meski penasehat hukum terdakwa, Munawar Rahim tetap berupaya melakukan pembelaan agar Uncle Ong dibebaskan dari tuntutan hukuman mati yang diajukan Jaksa Penuntut Umum, namun terdakwa sepertinya bersikukuh dengan keinginannya tersebut dengan alasan keselamatan baik dirinya dan juga keluarganya yang berada di Jiran.

Sebagaimana diketahui, didalam persidangan pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum pada Rabu (7/9) lalu, jaksa menuntut Uncle Ong dengan hukuman mati mengingat jumlah barang bukti mencapai 11,254 kilogram atau bernilai lebih dari Rp11 milyar. Selain itu, kasus ini merupakan kasus internasional dan tidak ada hal-hal yang dapat meringankannya.

Terdakwa Uncle Ong sepertinya memang sudah pasrah atas kasusnya tersebut dan memilih agar dirinya dijatuhi hukuman mati saja. Pria tua yang tidak bisa berbahasa indonesia dan inggris itu bahkan mengakui telah beberapa kali menyelundupkan sabu-sabu tanpa terdeteksi oleh petugas di perbatasan.

Meski terdakwa pasrah dengan nasib. Penasehat hukumnya, Munawar justru melihat adanya kelemahan dalam tuntutan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum. Menurutnya, dia tidak sependapat dengan tuntutan jaksa dengan dakwaan subsidair pasal 114 ayat 2 junto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dimana jaksa menuntut terdakwa dengan hukuman mati.

Menurutnya, dari fakta persidangan, bahwa terdakwa Uncle Ong bukan merupakan bandar narkotika seperti yang dituntut oleh jaksa penuntut umum. Selain itu, terdakwa hanya seorang pembawa barang yang disuruh oleh seseorang bernama Apo dari Malaysia untuk disampaikan ke Pontianak.

Barang haram tersebut, lanjut dia, bukan milik terdakwa Ong Bok Seong. Terdakwa juga hanya menerima bayaran sebesar 7000 Ringgit Malaysia. Dan antara Uncle Ong dan terdakwa lainnya, Abang Hendry Gunawan sebelumnya tidak pernah saling kenal.

Atas fakta ini, dia meminta kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan jaksa penuntut umum karena tidak terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan menjual, membeli atau menjadi bandar sabu dan atau percobaan pemufakatan jahat melalui tindak pidana narkotika.

Kasus 11,254 kilogram sabu ini menjadi perhatian publik di Sanggau. Masyarakat menunggu babak akhir dari kasus sabu bernilai fantastis ini. Sejumlah pihak bahkan berpendapat bahwa hukuman mati layak diberikan kepada Uncle Ong mengingat kasus yang dilakukannya sangat tidak dapat ditolerir dan berdampak besar bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

Tuntutan mati terhadap Uncle Ong menjadi yang pertama di Sanggau. Jika dikabulkan oleh majelis hakim maka ini menjadi sejarah bagi Kabupaten Sanggau mengingat belum pernah ada vonis mati sebelumnya.

Masyarakat Sanggau kini dibuat penasaran dengan vonis yang akan dijatuhkan oleh majelis hakim kepada terdakwa Ong Bok Seong alias Uncle Ong pada persidangan selanjutnya Jumat (23/9) mendatang dengan agenda pembacaan putusan. [sugeng]

Berita Terkait