UN 2016 dalam Jebakan Kurikulum Ganda

UN 2016 dalam Jebakan Kurikulum Ganda

  Senin, 4 April 2016 13:15   4,688

SEPERTI kita tahu, Ujian Nasional (UN) 2016 berbeda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab untuk kali pertama dalam sejarah, UN dilaksanakan dalam kondisi pembelajaran yang memberlakukan dua kurikulum sekaligus, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13). Dan menariknya di tahun 2015 yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, ada perubahan konsep UN tahun 2015. Di mana, UN tidak lagi berfungsi sebagai penentu kelulusan. Hal ini dilakukan agar dapat membawa perubahan perilaku positif bagi siswa, orang tua, guru, maupun pemerintah daerah.

Tetapi ada yang menarik bagi penulis untuk melihat konsep UN tahun 2016 ini, yaitu UN 2016 dilaksanakan di tengah dualisme kurikulum. Dari media on line, penulis melihat bahwa Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) telah memublikasikan kisi-kisi UN 2016. Di situs resmi BNSP tidak secara eksplisit disebutkan, kombinasi atau komposisi soal di dalam UN 2016 yang menganut dua kurikulum tersebut. Tetapi, pemerintah melalui Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud, Ramon Mohandas mengatakan bahwa UN 2016 bakal menganut model “irisan” antara KTSP dan K-13. Model irisan ini menggunakan strategi mencari titik singgung antara materi di KTSP dengan materi di K-13. Strategi irisan yang diambil oleh pemerintah dalam pelaksanaan UN 2016 patut mendapatkan apresiasi sebagai jalan tengah mengatasi polemik dualisme kurikulum ini.

Namun demikian, bagi penulis strategi tersebut perlu dikritik secara saksama karena secara teoretis, ujian nasional yang digelar dengan berbasis dua kurikulum yang berbeda secara esensi dan metode sulit untuk dilaksanakan. Pelanggaran Dalam terminologi pendidikan, evaluasi atau lazim disebut sebagai ujian merupakan bagian pembelajaran yang harus dilaksanakan.  Evaluasi diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian (Nurgiyantoro, 2013:6). Selain untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran, evaluasi juga berfungsi mengumpulkan informasi sebagai dasar pembuatan pertimbangan, dan pengambilan sebuah keputusan. Oleh karena itu, fungsi UN tidak sekadar menguji tingkat kompetensi siswa, melainkan juga berfungsi untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia.

Lantas apakah tujuan esensial dari UN tersebut dapat tercapai pada UN 2016? Hal inilah yang penulis pertanyakan. Setidaknya ada dua pertanyaan yang patut diajukan. Pertama, apakah model irisan tersebut sudah sesuai dengan asas-asas evaluasi? Kedua, apakah hasil UN 2016 dapat digunakan untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia? Dalam buku Instructional Design Principles (Prinsip Disain pembelajaran), asas evaluasi menganut tiga asas, yaitu komprehensif, keseimbangan, dan objektivitas Asas komprehensif menerangkan bahwa evaluasi harus menyeluruh menguji semua aspek, termasuk materi atau pokok bahasan yang disajikan.

Logika penulis, materi yang diujikan harus merupakan materi yang pernah diajarkan dalam pembelajaran. Jika guru mengujikan materi yang belum pernah diajarkan dalam pembelajaran di kelas, dapat dikatakan ujian tersebut telah melanggar asas evaluasi, yaitu asas komprehensif. UN 2016 dengan model irisan KTSP dan K-13 berpotensi melanggar asas komprehensif. Bagaimana tidak, kurikulum yang digunakan dalam sekolah penulis masih menggunakan KTSP, kemudian menjelang UN muncullah kisi-kisi UN yang model irisan tadi. Misalnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang penulis ajarkan, KTSP dan K-13, yang berbeda secara materi dan pendekatan. Kurikulum 2006 berbasis komunikatif (kompetensi menyimak, membaca, berbicara, menulis, dan kesusastraan), sementara itu Kurikulum 2013 berbasis teks (genre) yang merujuk pada pembelajaran jenis-jenis teks wacana. Mencari titik singgung materi akan sulit karena berbeda materi yang diajarkan.

Juga melanggar asas keseimbangan. Sebab berpotensi menyebabkan ketidakadilan pada siswa. Seperti diketahui, KTSP berbasis mata pelajaran, Ada Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan sebagainya. Sedangkan K-13 menggunakan tematik integratif. Siswa yang setiap harinya diajar dengan tema kemudian UN-nya berbasis mata pelajaran, tentu tidak adil bagi siswa K-13. Jika ia harus memilah-milah materi berdasarkan mata pelajaran, akan menguras energi, pikiran, dan tenaganya demi menyesuaikan lagi dengan kisi-kisi berbasis mata pelajaran.

Lalu, penyusunan soal model irisan tidaklah mudah. Jika kurang teliti, boleh jadi pemerintah bakal kecolongan dengan munculnya soal-soal yang tidak akurat. Dalam hal ini berpotensi melanggar asas objektivitas. Misalnya, pengguna KTSP mengerjakan materi yang ada di dalam K-13, padahal siswa tersebut belum pernah mempelajarinya, atau sebaliknya pengguna K-13 mengerjakan materi KTSP yang ia juga belum pernah mempelajarinya. Hal ini akan berdampak merugikan siswa. UN yang berbasis dua kurikulum juga masih sulit digunakan sebagai alat untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sulit kiranya diperoleh nilai yang bagus. Apalagi sampai saat ini masih terjadi ketimpangan standar pelayan pendidikan di berbagai wilayah tanah air. Seperti, sarana dan prasarana, akses terhadap informasi, kualitas maupun kuantitas guru. Beberapa contoh kasatmata, distribusi buku K-13 sampai kini belum merata. Juga sering kita saksikan seperti sekolah yang dua jenjang kelas diajar satu orang guru, sekolah dengan atap bocor, papan tulis pecah, dan jalan akses menuju sekolah yang sulit bagi anak. Bagaimana mungkin ujian nasional bisa disebut valid sebagai alat ukur dari hasil proses pembelajaran yang berbagai aspek pendukungnya terlalu berbeda antara sekolah yang satu dengan yang lain.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa UN berbasis irisan dua kurikulum tidak ideal dan belum bisa mengukur secara komprehensif pencapaian siswa dan sulit digunakan untuk memetakan kualitas pendidikan nasional. Rekomendasi Jika pemerintah memang nantinya tetap memakai model irisan tersebut, setidaknya ada tiga hal yang sebaiknya dilakukan. Pertama, model irisan harus dibakukan terlebih dahulu. Ujian yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan pengukuran itu sendiri. Oleh karena itu, model irisan seharusnya diujicobakan terlebih dulu pada sampel yang cukup besar. Kemudian berdasarkan data yang diperoleh, diadakan analisis untuk menentukan validitas maupun reliabilitas soal secara keseluruhan. Sehingga soal pada UN irisan benar-benar bisa mengukur hasil belajar siswa. Kedua, UN model irisan ini merupakan hal baru di dunia pendidikan kita. Boleh dibilang masuk dalam kategori sebuah inovasi pendidikan. Berdasar teori Difusi Inovasi, E. Rogers (1962-1995), sebelum diimplementasikan UN model irisan, harus gencar disosialisasikan ke sekolah-sekolah, termasuk sekolah pendidik sendiri karena menggunakan kurikulum KTSP.

Pemerintah melalui dinas pendidikan setempat berkewajiban membuat pemangku kepentingan seperti guru, orang tua, dan masyarakat, tahu, paham, atau mengerti tentang UN model irisan. Sehingga pihak sekolah dapat menerima keputusan adanya UN model irisan ini. Ketiga, UN 2016 dari sudut pandang siswa dianggap sebagai hal yang rumit, maka bisa jadi berpotensi adanya ketidakjujuran. Padahal, Mendikbud sendiri bahwa UN ini sebagai indikator kejujuran dan indikator integritas. Seperti, sontek-menyontek, jual beli soal, maupun kebocoran lebih canggih, paket soal diunggah ke google drive, sehingga beberapa hari sebelum UN, banyak siswa sudah memiliki link dan mengetahui soal UN.

Untuk itu, pemerintah harus punya cara jitu untuk mengamankan soal dan kunci jawaban baik yang online maupun yang paper test dari pihak-pihak yang ingin mengambil “keuntungan”. Sebagai ikhtiar untuk menekan kecurangan di satu pihak untuk menekan sekolah berlaku jujur, indeks integritas sekolah juga masih relevan dipergunakan. Akhir kata, mudah-mudahan UN berbasis irisan dua kurikulum dengan persiapan yang matang merupakan solusi terbaik untuk memecah kebuntuan akibat kurikulum ganda.

*) Guru SMP & SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak, Kalimantan Barat

 

AGUSTINUS, S.S.

Saya adalah seorang pendidik yang tinggal di Kota Pontianak. Mengajar adalah bagian hobi dalam kehidupan saya karena dengan mengajar, saya bisa berkontribusi bagi dunia pendidikan di Kalimantan Barat. Ikut aktif juga di Sanggar Kesenian, dan menulis adalah bagian aktivitas penting dalam kehidupan saya sebagai guru. Dengan menulis, saya bisa menuangkan ide serta gagasan-gagasan yang ada di pikiran saya. Menulis layaknya mengajar Indonesia.