Trek Menanjak Penuh Tantangan

Trek Menanjak Penuh Tantangan

  Rabu, 31 Oktober 2018 09:56
SELEBRASI: Aksi peserta penuh semangat saat memasuki wilayah Indonesia di PLBN Badau.

Berita Terkait

Bersepeda di Jantung Borneo II

Bersepeda di Jantung Borneo II memberi sensasi berbeda bagi para peserta. Gowes lintas negara (Indonesia-Malaysia) ini memiliki trek yang sangat menantang di alam Borneo yang penuh eksotisme dan keindahan kawasan konservasi. Zetizen turut mengikuti perjalanan para peserta dari Sri Aman, Sarawak hingga Lanjak, Kapuas Hulu bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober lalu. 

Syahriani Siregar, Sri Aman

Tanjakan, turunan curam dan tikungan tajam, begitulah trek yang dilewati para peserta Bersepeda di Jantung Borneo II. Trek menantang yang butuh perjuangan ini coba ditaklukkan oleh peserta. Meski dirasa berat namun peserta tetap semangat menyelesaikannya hingga titik finish. 

Menempuh jarak 141,69 km, titik start dimulai dari Seri Simanggang Hotel, Sri Aman, Malaysia, pada pukul  07:00 waktu setempat. Sebanyak 133 peserta gowes mulai mengayuh sepedanya meninggalkan kota yang dikenal dengan pusat perdagangan minyak sawit di Malaysia ini.

Memasuki 20 km pertama, wajah lelah peserta mulai terlihat. Sri Rahayu Ningsih (52) harus menyerah setelah satu jam menggowes. Kakinya terasa keram sehingga harus dinaikkan ke mobil rescue yang disediakan panitia. 

“Ini pertama kali saya ikut gowes, biasanya saya mengurusi logistik teman-teman. Tapi karena saya tidak ingin melewatkan kesempatan melintasi jantung borneo dengan sepeda jadi saya putuskan gowes. Tapi ternyata tidak mampu,” ujar peserta asal Jogja yang tergabung dalam Jogja Cycling Club ini.

Semakin siang, kondisi bersepeda semakin berat. Sinar matahari mulai menemani gowesan peserta. Ada yang berhenti sejenak dan mendorong  sepedanya, ada pula yang harus menyerah karena ban sepedanya pecah. Satu per satu peserta dan sepedanya dinaikkan ke mobil yang disiapkan panitia. Tim medis Kapuas Hulu siap siaga mengawal peserta yang tidak mampu melanjutkan bersepeda.

Sebelum masuk ke Indonesia, peserta melewati sebanyak tiga pos istirahat. Terlihat peserta mengisi ulang air minum ke dalam tumblr yang mereka bawa. Di tahun ini, pelaksanaan Bersepeda di Jantung Borneo mulai mengikuti standar Good Event, program yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Even ini memastikan penilaian dari sisi standar lingkungan, ekonomi dan sosial.

“Penyelenggaraan acara ini berusaha minim potensi sampah, mengurangi macet lalu lintas dan mengabarkan hal-hal yang baik tentang lingkungan bagi semua yang berpartisipasi. Salah satunya meminimalisir penggunaan botol mineral plastik, oleh karena itu kami minta peserta untuk bawa tumblr sendiri,” ujar Roni Wang, ketua panitia.

Setelah menempuh jarak 98 km, peserta tiba di Indonesia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau. Dengan menunjukkan paspor peserta masuk ke PLBN Badau yang menjadi pos istirahat keempat sebelum lanjut gowes ke Lanjak.

Dengan kaki yang telah diperban, Piruz Macpherson (63) tampak lelah. Ditemui di Badau, Piruz mengaku terjatuh saat masih di Sri Aman karena ada bagian sepedanya yang tidak beroperasi dengan baik. Walau cedera, Piruz memastikan ia akan lanjut gowes hingga ke Lanjak.

“Saya merasa tertantang menaklukkan trek ini,” ujar peserta dari Kuching ini. Diakui Piruz, kegiatan ini sudah sangat ditunggunya selama dua bulan terakhir dan setiap hari ia selalu mengecek perkembangannya lewat WhatsApp.

Di Badau peserta kembali dilepas untuk melanjutkan perjalanan. Pembacaan ikrar Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya bergema. Di bawah sinar matahari yang masih terik, peserta kembali menggowes. Kali ini medannya semakin ekstrem. Alam Kapuas Hulu kini menjadi   

“Badau ke Lanjak jadi trek yang paling susah. Jarak antar tanjakannya dekat dan turunannya curam. Tapi dikelilingi pemandangan alam yang indah sekali,” ungkap cowok 19 tahun asal Bojonegoro ini. Walau sempat dibawa dengan mobil tapi Daniel bisa sampai hingga ke titik finish. Daniel yang menjadi peserta termuda ini mengaku tak akan melupakan pengalaman gowesya berdua bersama ayah tercinta. 

 Trek bersepeda yang berat dan menantang ini diakui oleh Yusrizal, road captain yang memimpin rombongan pesepeda. “Intensitas latihan dan mental memang sangat diperlukan untuk menaklukkan trek seperti ini. Lelah sudah pasti, yang penting kita tahu kapan harus istirahat dan jaga fisik, yang penting stabil,” ujarnya. 

Silaturahmi Dua Negara

Bersepeda di Jantung Borneo II merupakan rangkaian dari agenda besar Festival Danau Sentarum Betung Kerihun 2018 yang melibatkan ratusan penggiat bersepeda dari Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Semarang, Garut, Blitar, Solo, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Jayapura, Berau, Bengkayang, Bojonegoro, Pontianak dan Putussibau. Tak hanya datang dari dalam negeri, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta dari mancanegara yaitu dari Kuala Lumpur, Kuching, Sibu, Sri Aman, Bintulu dan Sabah.

Ratusan peserta dari kota dan latar belakang yang berbeda berkumpul dan membaur dengan satu persamaan, hobi bersepeda. Tampak peserta saling berinteraksi dan sharing bersama. Rasa persaudaraan pelan-pelan tumbuh. Tak jarang pula berswafoto di setiap kesempatan. 

Sukadi (38), salah satu peserta asal Jayapura mengaku saat antusias. Semangatnya tampak mulai dari keberangkatan. Dari tanggal 26 Oktober, Sukadi dan teman-temannya sudah berangkat dari Jayapura. Empat kali transit pesawat dilewatinya, mulai Biak, Makasar, Jakarta, Pontianak dan akhirnya sampai ke Sri Aman untuk gowes. Dengan semangatnya, ia menjadi salah satu peserta yang menyelesaikan misi gowesnya seratus persen dan menjadi peserta pertama yang sampai ke titik finish. Ia sangat merasakan manfaatnya bersepada.

“Karena sepeda kita bisa kenal teman-teman dari seluruh Indonesia dan Malaysia. Untuk itu kami mengajak untuk memasyarakatkan sepeda. Di samping sehat dan mengurangi polusi udara, kita juga bisa dapat banyak saudara, tak hanya satu negara tapi juga beda negara,” ujar peserta yang tergabung dalam Jayapura Cycling Club ini. (*)

GOWES: Peserta gowes dengan dikelilingi panorama jantung borneo yang indah, menanjak dan menantang.

PENGOBATAN: Tim medis siap siaga memberikan pertolongan pertama kepada peserta yang cedera.

 

Berita Terkait