TKI Waspada Paham Radikal

TKI Waspada Paham Radikal

  Kamis, 21 January 2016 08:56
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

PONTIANAK - Badan Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak mulai mengantisipasi gerakan radikal yang menargetkan warga negara Indonesia untuk diajak bergabung sebagai anggota.

Kepala Seksi Penempatan BP3TKI Pontianak, AS Syafii mengaku telah mengambil melakukan langkah antisipasi terhadap calon pekerja migran yang akan bekerja ke luar negeri dengan memberikan pemahaman tentang gerakan radikal.Untuk mencegah pekerja tidak bergabung dengan gerakan radikal apapun di luar negeri selama bekerja, lanjut dia, pemberian pemahaman ini diberikan pada saat pekerja mengurus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) di BP3TKI Pontianak dalam bentuk Pembekalan Akhir Pemberangkatan.

“Jadi pemahaman-pemahaman keagamaan, aturan lainnya dijelaskan kepada TKI, agar paham dan tidak terkontamisasi ketika berada di negara tempat bekerja,” kata, Syafii, Rabu (20/1).Dia menjelaskan, pemerintah pusat pun telah mengeluarkan kebijakan melalui Kementerian Tenaga Kerja mengeluarkan Keputusan Menteri nomor 260 tentang penghentian dan pelarangan penempatan pekerja migran pada pengguna perseorangan di negara – negara kawasan Timur Tengah. “Sehingga praktis sejak 1 Juli 2015 tidak ada lagi penempatan TKI sektor informal ke negara – negara di Timur Tengah,” ucapnya.

Dia menjelaskan terdapat 19 negara yang ditutup untuk penempatan tersebut diantaranya Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Irak, Kuwait, Libanon,  Libya, Maroko, Mauritania, Mesir, Oman, Palestina, Qatar, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab, Yaman dan Yordania.Agar tidak ada warga yang berangkat secara non prosedural di negara-negara tersebut, dia menambahkan melalui wilayah perbatasan Kalbar khususnya embarkasi Entikong, Kabupaten. Sanggau dan Aruk, Sambas melalui telah melakukan pengetatan terhadap upaya calon pekerja yang akan berangkat ke luar negeri. “Bekerjasama dengan Polsek dan Pamtas TNI, hasilnya  2015 lalu berhasil kita cegah sebanyak 208 orang,” ungkapnya.

Merebaknya isu gerakan radikal terutama sepak terjang gerakan radikal Islamic State Iraq and Syria (ISIS) yang semakin berkembang di Timur Tengah dan diisukan menjalar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia memicu kekhawatiran, pasalnya cukup banyak warga negara Indonesia, khususnya warga Kalbar yang bekerja ke luar negeri.Dia menjelaskan, dari datang yang ada, pada 2014, 68 pekerja migran asal Kalbar yang ditempatkan di negara Timur Tengah, diantaranya 67 orang di Arab Saudi dan satu oran di Qatar, sementara pada 2015 sebanyal 27 diberangkatkan, yakni 24 orang di Arab Saudi dan satu orang di Qatar, serta dua orang di Oman.

Dia menuturkan, pihaknya khawatir dengan kondisi pekerja migran yang saat ini berada di luar negeri khususnya yang bekerja di Timur Tengah, jangan sampai mereka ikut dalam gerakan ISIS tersebut. “Untuk mengantisipasi ada TKI yang bergabung, kami terus berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah di negara-negara penempatan terus ditingkatkan untuk memastikan keberadaan TKI di negara mereka bekerja,” kata, Syafii, Rabu, (20/1).

Syafii mengatakan meski sampai saat ini belum ada laporan yang diterima baik itu dari perwakilan RI maupun pekerja migran atau keluarganya terkait keterlibatan pekerja  asal Kalimantan Barat di gerakan radikal yang ada di luar negeri namun, pihaknya berharap kepada pekerja untuk fokus bekerja dan tidak terlibat dalam gerakan radikal apapun selama bekerja di luar negeri. (adg)

Berita Terkait