Titip Bayi Orangutan di Warung

Titip Bayi Orangutan di Warung

  Sabtu, 18 June 2016 11:06
SELAMATKAN : Bayi orangutan, Didik, diselamatkan pihak YIARI dan BKSDA setelah sebelumnya dititipkan di warung oleh orang yang tak dikenal. YIARI FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG - Yayasan Iniasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber DayaAlam Seksi Konservasi Wilayah I (BKSDA SKW I) Ketapang, kembali melakukan penyelamatan orangutan di Desa Sandai Kiri Kecamatan Sandai pada Rabu (15/6).

Penyelamatan ini ini berawal dari laporan Pendeta Olke, bahwa ada bayi orangutan yang perlu diselamatkan di Sandai. Menurut informasi yang didapatkan di lapangan, orangutan ini tiba-tiba diserahkan orang yang tidak jelas identitasnya kepadapemilik warung di daerah Sandai Kiri.

"Waktu saya sedang mengurus orang kecelakaan, tiba-tiba ada orang yang menyerahkan orangutan kepada saya, tidak tau siapa dan darimana, setelah itu dia pergi begitu saja," ujar pemilik warung, Cuan.

Karena kasihan, orangutan yang diberi nama Didik ini dirawat oleh Cuan sembari mencari informasi di mana bisa menyerahkan orangutan tersebut. "Sudah tiga malam dia di sini, selama itu orangutan ini saya beri minum susu formula," tambahnya.

Drh. Karmele Llano Sanchez, dokter hewan sekaligus direktur program YIARI yang ikut serta dalam kegiatan ini segera memeriksa kondisi bayi orangutan. Kondisi Didik cukup memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering dan terlalu kecil untuk orangutan seusianya. "Badannya memang masih kecil, tapi orangutan ini sudah berumur kira-kira satu tahun setengah. Kita bisa tahu dari formulasi giginya," katanya.

Selain mengalami malnutrisi, di tubuhnya juga ditemukan sebutir peluru senapan angin yang bersarang di pundak kanannya. Hal itu mengakibatkan kelenjar di dada kanannya membengkak.  "Kemungkinan besar induknya juga tertembak, bahkan mungkin sudah mati. Tidak jarang pada saat orangutan dewasa ditembak mati, anaknya ikut tertembak juga," jelasnya.

Menurutnya, untuk satwa seperti orangutan, kehilangan Induknya membuat mereka sangat trauma karena mereka melihat secara langsung kematian dari Induknya. "Pengalaman traumatik ini membuat Didik juga kelihatan sedih dan depresi," ujar Karmele.

Manager operasional YIARI Ketapang, drh Adi Irawan, turut mengucapkan terimakasih kepada warga yang terlibat aktif dalam upaya penyelamatan ini. "Kami tidak bisa melakukan ini tanpa bantuan dari warga seperti Pendeta Olke. Sebelumnya dia juga pernah membantu YIARI menyelamatkan orangutan pada tahun 2010 silam," ucapnya.

Saat ini Didik sudah dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Nantinya Didik akan direhabilitasi untuk menyembuhkan traumanya.

Trauma ini memerlukan waktu yang lama sebelum bisa disembuhkan. Dalam proses rehabilitasi yang bisa berlangsung bertahun-tahun ini, Didik akan bergabung dengan teman-temannya untuk mempelajari kemampuan bertahan hidup sebelum dikembalikan ke habitatnya. (afi)

Berita Terkait