Tingkatkan Literasi Keuangan, Gandeng Media Lokal-Nasional

Tingkatkan Literasi Keuangan, Gandeng Media Lokal-Nasional

  Minggu, 22 April 2018 08:27
DIABADIKAN BERSAMA: Foto bersama dalam kegiatan Capacity Building OJK Kalbar yang diikuti sejumlah media lokal dan nasional di Singkawang, 18 – 19 April. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dari Kegiatan Capacity Building OJK Kalbar

Ada yang menarik, saat membandingkan angka literasi dan angka inklusi di Kalimantan Barat (Kalbar). Survei yang dilakukan OJK tahun 2016, menyebut tingkat literasi keuangan Kalbar sebesar 30,55 persen. Sedangkan angka inklusinya sebesar 65,45 persen. Itu berarti pengguna di sektor industri jasa keuangan (IJK) sejatinya tidak mengetahui sektor itu sendiri. 

SITI SULBIYAH, Singkawang

HAL ini diungkapkan oleh Mochammad Akbar, staf Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kalbar, di hadapan awak media saat kegiatan Capacity Building OJK Kalbar, Rabu (18/4) di Singkawang. “Menilik dari angka literasi dan inklusi Kalbar, ada hal yang perlu dicermati. Banyak yang menggunakan layanan di jasa keuangan, tapi literasinya rendah. Artinya masyarakat belum paham dengan industri jasa keuangan,” paparnya.

Inklusi keuangan, menurut dia, merujuk pada jumlah orang yang menjadi nasabah atau pengguna jasa keuangan. Adapun literasi keuangan, dijelaskan dia, dapat diartikan sebagai kecakapan atau kesanggupan dalam hal keuangan. 

Kondisi yang sama, diakui dia, rupanya juga terjadi pada angka nasional. Persentase 29,44 persen, menurut dia, adalah angka untuk tingkat literasi keuangan Indonesia. Sedangkan tingkat inklusi keuangannya, dia menambahkan, 67,82 persen. Namun angka ini, kata dia, sejatinya sudah lebih baik dari survei yang dilakukan sebelumnya pada tahun 2013. “Baik literasi maupun inklusi, secara nasional ada kenaikan sekitar 8 persen jika dibandingkan survei tahun 2013 dengan 2016,” katanya.

Meningkatkan literasi keuangan, diakui dia, memang tidaklah mudah. Hal itu, menurut dia, menjadi tugas bagi OJK, Bank Indonesia, hingga lembaga yang bergerak di sektor IJK, seperti perbankan, mulitifinance, teknologi finansial, maupun lembaga keuangan lainnya. Hingga tahun 2019 saja, Akbar mengatakan literasi keuangan nasional ditargetkan mencapai angka 75 persen. “Kalbar pun mestinya dapat mencapai angka tersebut,” kata dia.

Tak dipungkiri dia, masih jauh memang jika menilik target literasi keuangan di tahun 2019 mendatang, apabila dibandingkan angka literasi saat ini. Namun hal itu bukanlah tidak mungkin dicapai. Meluasnya pelayanan di sektor IKJ, menurut dia, turut mendorong peningkatan literasi keuangan. Belum lagi kemajuan zaman, yang tak dipungkiri dia, telah menghadirkan produk-produk keuangan berbasis teknologi. Adapula yang saat ini hangat diperbincangkan, disebutkan dia, yakni soal teknologi finansial (tekfin). 

“Mengingat perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikai data yang telah melahirkan terobosan internet dan teknologi mobile phone dimana teknologi ini di eksploitasi untuk meningkatkan layanan, efisiensi, inklusi, dan tentu saja literasi keuangan,” paparnya. 

Menggerek angka literasi keuangan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti melakukan intervensi di sektor pendidikan, melalui kebijakan pemerintah, hingga upaya-upaya yang dilakukan melalui sosialisasi dan kampanye di media dan berbagai kesempatan. Namun yang tak kalah penting adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap IKJ. 

“Membangun kepercayaan merupakan suatu hal yang tidak mudah, diperlukan kepastian hukum dalam pengaturan dan pengawasan industri jasa keuangan serta sistem perlindungan terhadap konsumen,” ungkap Plt Kepala OJK Kalbar, Moch Riezky F Purnomo , yang disampaikan oleh Suhermanto, kepala Sub Bagian Administrasi OJK Kalbar.

Kepercayaan itu, menurutnya, dapat terwujud dengan edukasi yang benar dan tepat kepasa masyarakat. Adapun dalam hal ini, peran media, diakui dia, tidaklah dapat dikesampingkan. Menurutnya, dibutuhkan sinergi antara media dan OJK, sehingga informasi mengenai perkembangan pengaturan dan pengawasan pada sektor jasa keuangan, guna perlindungan terhadap konsumen pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat tersampaikan secara baik.

“Dengan demikian edukasi terhadap awak media  mengenai industri jasa keuangan menjadi sangat penting. Tidak hanya untuk menyampaikan pemberitaan tapi juga menyampaikan isi dan pesan,” jelasnya. 

Jurnalis, menurut dia, merupakan mitra strategis OJK dalam mendistribusikan informasi dan mengedukasi masyarakat. Diungkapkan dia bahwa media merupakan alat yang kuat dalam memberikan pemahaman tentang seluk beluk industri keuangan secara makro maupun mikro. 

Dia pun berharap agar media lokal maupun nasional dapat memberikan kontribusinya dalam menaikkan literasi keuangan masyarakat. Semakin baik tingkat literasi masyarakat, dia yakin, akan semakin minim pula potensi penyalahgunaan layanan jasa keuangan yang dapat merugikan masyarakat. (*)

Berita Terkait