Tiga Napi Teroris Ditahan di Kalbar, Polda Perketat Pengamanan

Tiga Napi Teroris Ditahan di Kalbar, Polda Perketat Pengamanan

  Selasa, 15 May 2018 10:08
PEMERIKSAAN KETAT: Aparat kepolisian daerah Kalimantan Barat melakukan pemeriksaan terhadap warga yang akan masuk ke Mako Polda Kalbar, kemarin. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya tindak terorisme. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Kepolisian Daerah Kalimantan Barat belum menemukan adanya jaringan terorisme di wilayah ini. Kendati demikian, Polda mengakui ada tiga narapidana terorisme yang ditahan di beberapa lapas di Kalbar, yaitu di Singkawang, Ketapang dan Pontianak.

"Jaringan-jaringan atau sel-sel teroris di Kalbar, kami belum temukan. Namun kita tetap waspada untuk segala kemungkinan," kata Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Nanang Purnomo.

Terkait bom di Surabaya yang menyasar rumah ibadah, dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak takut berlebihan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. “Salah satu daripada target teroris adalah membuat suasana orang takut. Oleh sebab itu, rasa takut ini kita lawan. Namun tetap kita lakukan langkah kewaspadaan,” katanya.

Dia juga mengajak masyarakat serta instansi lainnya untuk bekerjasama melawan dan memerangi terorisme tanpa rasa takut. Sebab, jika masyarakat takut maka salah satu target dari aksi terorisme telah tercapai. Hingga saat ini, situasi di Kalbar dikatakan masih aman terkendali.

Sementara itu, menyusul aksi bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5) pagi, seluruh Polda di Indonesia meningkatkan kewaspadaan, termasuk di jajaran Polda Kalbar. Peningkatan kewaspadaan dimulai dari level polda sampai pada level paling bawah, termasuk pospol.

Karo Ops Polda Kalbar, Kombes Pol Jayadi mengatakan, selain memperketat penjagaan di markas, pihaknya juga menginstruksikan anggota di lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan. "Kita terapkan body system. Tidak ada anggota yang melaksanakan tugas secara sendiri-sendiri. Tetapi secara berkelompok," katanya. Body system ialah satu polisi dijaga oleh satu polisi yang memegang senjata.

Dalam pengamanan markas, lanjut Jayadi, pihaknya memiliki SOP (prosedur standar operasi). Setiap tamu atau pengunjung yang datang ke markas kepolisian, baik di tingkat Polda maupun Polres akan diperiksa. 

"Kalau mobil boks, boksnya dibuka dan dilakukan pemeriksaan. Jangan sampai ada barang-barang yang mencurigakan," lanjutnya. 

Tidak hanya itu, Polda Kalbar juga menyiapkan satu buah kendaraan taktis lapis baja yang terparkir tidak jauh dari pos penjagaan yang disertai dengan pemasangan portal. Pihaknya pun menyiagakan personel di rumah ibadah dan tempat-tempat keramaian, misalnya mal dan pasar. 

Sementara itu DPRD Kalimantan Barat meminta aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan di Kalimantan Barat. “Aparat di Kalbar harus meningkatkan pengamanan,” kata Krisantus, anggota Komisi I DPRD Kalbar, kemarin. Menurutnya, aparat jangan sampai lengah sedikit pun supaya Kalbar tidak menjadi sasaran teroris.

“Di Surabaya itu, setelah bom pertama sudah Siaga Satu. Kurang siaga apalagi di sana. Itu pun pagi tadi Polrestabes-nya dibom,” ucapnya. Menurut Krisantus, peningkatan pengamanan dapat dimulai dengan semakin rutin merazia kontrakan atau indekos yang sangat mungkin menjadi tempat persembunyian teroris. 

“Peranan RT/RW mesti dioptimalkan dalam memantau pendatang baru. Ronda malam juga harus dihidupkan kembali. Kewaspadaan seperti ini sangat penting. Sebab kita tidak mengetahui mana yang teroris dan bukan,” ujarnya.

Pengamanan di jalur perbatasan pun hendaknya jangan sampai luput, bahkan harus lebih diperketat. Sebab tak menutup kemungkinan mereka dari luar Kalbar masuk melalui negara tetangga seperti Malaysia.

Khusus untuk terorisme, Krisantus berpendapat bahwa pelaku harus ditindak sangat tegas. Menurutnya, teroris bukanlah manusia. “Mereka adalah binatang,” geramnya.

Ia juga mengatakan, dalam menerapkan Undang-Undang (UU) Terorisme terhadap terduga teroris, isu Hak Asasi Manusia (HAM) hendaknya tidak dikedepankan. Sebab, pelakunya merupakan pelanggar HAM berat. “Hukuman yang pantas buat teroris adalah tembak di tempat,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Kalimantan Barat, Suriansyah juga menyampaikan belasungkawa sekaligus mengutuk keras pengeboman gereja di Surabaya, Minggu (13/04). Aksi teror tersebut dinilai sangat keji dan tidak boleh berkembang di bumi Nusantara yang damai.

“Harapan kami kepada aparat kepolisian bertindak cepat dan tepat, menyelidiki termasuk menindak siapa dalang di balik aksi teror ini,” ungkapnya.  (arf/den) 
 

Berita Terkait