Tiga Klub Akan Susul Bali United ke Pasar Modal

Tiga Klub Akan Susul Bali United ke Pasar Modal

  Selasa, 18 June 2019 09:23
GO PUBLIC: Pelatih Bali United Stefano Cugurra Teco (kiri) bersama sejumlah pesepakbola Bali United melempar bola saat pencatatan perdana saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (17/6). MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

JAKARTA – Bali United resmi melantai di pasar modal. Setelah sebelumnya melakukan penawaran perdana di Bali, saham klub berjuluk Serdadu Tridatu itu masuk Bursa Efek Indonesia kemarin (17/6).

Jadilah klub yang berkandang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, itu sebagai klub pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang go public. PT Bali Bintang Tbk, perusahaan yang mengelola klub sepak bola Bali United, tercatat dengan kode saham BOLA. Dari pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO), perseroan memperoleh dana segar Rp 350 miliar.

Sebanyak dua miliar saham dilepas atau setara dengan 33,33 persen saham pada harga penawaran perdana Rp 175 per saham. Tidak hanya diminati investor pasar modal, saham Bali United juga diminati fansnya. 

Dampaknya cukup positif. Yakni, terjadi kelebihan permintaan sampai dengan 110 kali dari porsi penjatahan terpusat (pooling) saham yang ditawarkan masyarakat. Sejak melantai di pasar modal, sahamnya langsung melejit 69,14 persen ke posisi Rp 296 per saham.

Melantainya Bali United jadi trigger bagi klub sepak bola lain di Indonesia. Hal itu dikatakan Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna. Ada tiga klub yang mungkin menyusul jejak Bali United.

Ketiganya adalah Arema FC, Persib Bandung, dan Persija Jakarta. Bahkan, khusus Arema FC, pihaknya sudah melakukan pertemuan. Nantinya menyusul Persib dan Persija. ’’Arema sudah kami approach, tentunya mereka sekarang sedang konsolidasi internal dulu apa saja yang disiapkan,” jelas Nyoman kemarin di BEI.

Nyoman berharap tiga klub tersebut bisa segera menyusul Bali United ke pasar modal tahun ini. Dengan meningkatnya reputasi menjadi perusahaan tercatat akan meningkatkan kepercayaan dari fansnya. Mereka bisa mengikuti perkembangan yang terjadi, termasuk performance-nya. ’’Tidak hanya menjadi fans, mereka juga bisa memiliki sahamnya,” imbuh Nyoman.

Menurut Direktur Utama PT Kresna Sekuritas Octavianus Budianto, IPO Bali United sangat menarik dan memiliki potensi besar dari para pendukung fanatik. Antusiasme masyarakat Bali, khususnya fans, sangat besar. Sejak masa penawaran pada 10 Juni lalu, di hari kedua sudah oversubscribed. ’’Komposisi investor ritel sendiri sebanyak 41 persen dan investor institusi 59 persen,’’ jelasnya.

Pengamat ekonomi Indef Eko Listiyanto mengatakan, ini awal yang baik bagi klub bola untuk mau go public. Dengan begitu, pendanaan akan lebih variatif dan memungkinkan meningkat dalam waktu cepat. 

Syaratnya tentu saja kinerja dan prestasi tim, serta kompetisi sepak bola yang fair dan profesional. ’’Jika Bali United berhasil, dapat menjadi role model bagi klub-klub yang lain. Apalagi, penonton bola di Indonesia banyak dan fanatik,” terangnya.

Jika prestasi tim terus meningkat, terbuka peluang untuk menjaring investor potensial dari luar negeri juga. Klub yang sudah melantai di pasar modal harus disiplin dalam aspek governance, terutama soal keuangan. ’’Pasar modal menuntut adanya transparansi, sehingga aspek-aspek tata kelola keuangan harus benar-benar diperhatikan agar mendapat kepercayaan investor,” imbuhnya.

Sementara itu, CEO Bali United Yabes Tanuri mengungkapkan, melantainya Bali United ini merupakan salah satu cara untuk memiliki tim secara bersama-sama. Artinya, menjadi suporter Bali United tidak hanya mendukung klub dalam bentuk membeli tiket atau merchandise lagi, tapi juga bisa memilikinya secara utuh. 

’’Jadi, mendukungnya itu lebih. Contoh, bapak minjem motor sama nyetir motor sendiri pasti dukungannya akan lebih. Saya sebagai suporter, sebagai fans, dan pemilik. Kami merasakan senangnya untuk ke depannya sebagai pemilik,’’ paparnya.

Plt Ketua Umum PSSI Iwan Budianto juga menyambut baik apa yang sudah dilakukan Bali United. Dia menyebut, ketika sebuah klub melepas saham, itu berarti sudah mau dituntut semakin transparan dan lebih baik. ’’Itu yang kami inginkan di sepak bola Indonesia. Kalau semua klub itu punya transparansi yang sama seperti melepas saham ke bursa, pasti sepak bolanya akan lebih bagus. Baik dari segi finansial dan segi segalanya,’’ terangnya.

Bagi PSSI, masuknya klub ke bursa saham memudahkan untuk melakukan verifikasi. Saat ini, dia mengakui PSSI susah mendapatkan transparansi dana tiap klub. Misalnya, berapa belanja pemain. ’’Tapi, ketika mencalonkan di bursa, ada laporan tahunan, kami bisa baca terbuka. Punya satu lembar saham saja kami bisa tahu oh uangnya sekian ratus miliar untuk ini untuk itu,’’ tegasnya.

Masalah regulasi, pria yang akrab disapa IB itu mengatakan bahwa PSSI masih konsultasi ke FIFA. Sebab, tataran untuk melarang dari PSSI hanya sebatas cross ownership. Artinya, tidak boleh klub lain memiliki klub lainnya lagi di kompetisi Indonesia. 

’’Kami pelajari itu, apakah pemilik klub lain tidak boleh beli saham klub lainnya lagi. Kalau misalnya jumlah tidak pada saham mayoritas, yang tidak sebagai saham pengendali, boleh atau tidaknya kami sedang konsultasi ke FIFA,’’ tuturnya. (nis/rid/c17/ttg)

Berita Terkait