Tiga Hari Hilang, Amal Ditemukan Meninggal Dunia

Tiga Hari Hilang, Amal Ditemukan Meninggal Dunia

  Rabu, 21 February 2018 11:00
Ilustrasi

Berita Terkait

Duka di Fakultas Kedokteran Untan 

Setelah dinyatakan hilang selama tiga hari, jasad Muhammad Ikhsaunul Amal (18), mahasiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura ditemukan tim SAR gabungan dalam keadaan meninggal dunia, Senin (19/2) malam. Jasad korban ditemukan sekitar lima kilometer ke arah hilir Sungai Bandung dari lokasi awal korban tenggelam.

SEPERTI diketahui, Sabtu (17/2) sore, korban sedang mandi di sungai Desa Kali Bandung, Kabupaten Kubu Raya, bersama beberapa temannya. Tiba-tiba saja korban tenggelam. Sementara, teman korban dan warga sempat berusaha untuk membantu, akan tetapi korban terlebih dahulu terseret ke dalam sungai.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, Hery Marantika mengatakan, setelah tiga hari pencarian, akhirnya jasad korban berhasil ditemukan. 

Menurut Hery, pencarian korban tenggalam dibantu oleh Satpolair Sukalanting, Polsek Sungai Raya, Babinkantibmas Sukalanting, masyarakat setempat, keluarga dan kerabat korban. 

"Kami dan Potensi SAR serta masyarakat, keluarga dan kerabat korban berhasil menemukan adik kita Muhammad Ikhsaunul Amal ini, Selanjutnya korban kami bawa menuju dermaga kami di Pontianak untuk dibawa ke rumah duka," kata Hery. 

Sementara itu, suasana berduka menyelimuti kediaman di Jalan Tanjung Raya 1, Jalan Panglima A Rani Nomor 21, Kecamatan Pontianak Timur.

Tampak rumah duka dipenuhi oleh para rekan-rekan kuliah almarhum, pihak keluarga, serta rekan-rekan serta murid dari orangtua almarhum yang silih berganti hadir untuk memanjatkan doa dan menyampaikan belasungkawa.

Muhammad Ikhsaunul Amal merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan adik perempuan yang saat ini duduk di bangku SMA, pasangan Iwan Darmawan dan Ellyana Yuspita. Kedua orangtua almarhum merupakan guru honorer di SMA Santun Untan.

Ellyana Yuspita, ibu korban tampak tegar. Dia bersama keluarga mengaku telah ikhlas melepas kepergian anak sulungnya. Dengan tenang dan penuh kekeluargaan, dia menceritakan sosok almarhum yang merupakan anak kebanggaan keluarga tersebut.

Saat itu, almarhum dikatakannya berangkat untuk melaksanakan bhakti sosial bersama mahasiswa Kedokteran Untan pada hari Sabtu pagi, pukul 04.30, dikarenakan almarhum termasuk dalam tim penjemput relawan.

Sebelum berangkat, korban sempat pamitan disertai cium pipi kiri kanan, baru kemudian cium tangan. Namun pada hari itu berbeda, almarhum terlebih dahulu mencium tangan.

Pada pukul 08.00 lewat, dirinya mengaku masih menghubungi korban untuk menanyakan apakah sudah sampai di lokasi. Itu diakuinya merupakan komunikasi terakhir dirinya dengan anak sulungnya tersebut. (arf) 

Berita Terkait