Tiga Bomber Satu Pengajian

Tiga Bomber Satu Pengajian

  Rabu, 16 May 2018 10:09
TERORIS: Pasukan Gegana Brimob Polda Jatim bersiap melakukan penggeledahan rumah pelaku pengeboman Mapolrestabes, Selasa (15/5). Pasukan gabungan Brimob dan Densus 88 berhasil mengamankan barang bukti bom dalam tiga kardus. JUNI KRISWANTO / AFP BURU

Berita Terkait

Tidak Hanya Ketua, Dita juga Ikut Rakit Bom

SURABAYA – Polisi akhirnya membeberkan keterkaitan lima serangan bom yang menyasar Surabaya dan Sidoarjo selama dua hari berturut-turut. Tiga keluarga yang jadi bomber itu ternyata rutin bertemu seminggu sekali. Yakni setiap hari Minggu di rumah Dita Oeprianto.

Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin menyebut keluarga Dita, Anton Febrianto, dan Tri Murtiono rutin bertemu setiap minggu selama beberapa bulan. “Pengajian rutin di rumah Dita itu,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai berapa persisnya keluarga Dita, Anton dan Murtiono mengaji bersama, Machfud belum bisa menjawab. “Yang itu masih proses,” katanya.

Jenderal asal Ketintang itu menuturkan, pengajian yang diselenggarakan tiga keluarga itu bersifat eksklusif. Tidak ada satu orang pun di luar tiga keluarga itu yang diperbolehkan ikut. Guru ngaji mereka berjumlah dua orang masih dalam pengejaran. 

Keduanya diburu langsung oleh tim gabungan Densus 88 dan Ditreskrimum Polda Jatim. Diduga kuat mereka juga termasuk pentolan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) di Jatim. “Tenang, anggota lapangan sudah bermain sekarang. Doakan saja segera tertangkap,” jelasnya.

Lantaran dipimpin guru mengaji berafiliasi JAD, konten yang diajarkan berbeda dengan pengajian pada umumnya. Majelis taklim eksklusif itu mencuci otak keluarga para pelaku. Mulai dari mempertontokan video jihad ala Timur Tengah hingga diajari merakit bom.

Fakta tersebut didapatkan setelah melakukan penggeledahan di rumah para bomber dan pemeriksaan sejumlah saksi. Dari sana polisi mendapatkan sejumlah petunjuk konkret soal praktik penyebaran radikalisme itu. Saat ditanya soal barang bukti apa saja yang disita polisi, Machfud menjawab diplomatis. “Itu masih proses,” katanya.

Dita diketahui merupakan Ketua JAD Cabang Surabaya. Dia menjadi pentolan teroris di Kota Pahlawan setelah dua pimpinannya, Zainal Anshori dan Aman Abdurrahman dicokok Densus 88.

Selain itu, dua dari tiga anak dari terduga teroris Anton diketahui tidak menempuh jalur pendidikan formal sama sekali. Faisa Putri dan Garida Huda Akbar tidak bersekolah. Mereka hanya mendapatkan pendidikan dari keluarganya saja.

Yang unik, ternyata Faisa dan Huda sudah di-setting untuk menjawab homeschooling ketika ditanyai siapapun soal jalur pendidikan yang mereka tempuh. Padahal mereka tidak menempuh jalur pendidikan informal itu. “Kalau ditanya jawabannya homeschooling, padahal nggak sekolah sama sekali,” ucapnya.

Satu anak Anton yang tidak terpapar ajaran radikal adalah Ainur Rahman. Sebab, dia kerap keluar kamar dan memilih tinggal bersama neneknya di Rusun Wonocolo Blok B No 5, Taman, Sidoarjo. Tempat tinggal Anton hanya berjarak dua kamar. Yakni di Blok B No 2.

 Machfud menyebut Ainur bersekolah di tempat lain. Dia tidak di-homeschooling-kan seperti dua adiknya, Faisa dan Huda. “Anak itu (Ainur) bersekolah. Nggak kaya anak yang lainnya. Dia ikut neneknya,” paparnya.

Berdasar data yang dihimpun di lapangan, keluarga Anton dinilai warga sangat tertutup. Saat ditanyai soal dimana sekolah Ainur, warga mengaku tidak tahu sama sekali. “Sama sekali nggak tahu. Itu orangnya tertutup,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya. 

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menjelaskan bahwa aparat kepolisian terus bergerak memburu para terduga teroris. ”Sampai ke akar-akarnya,” kata dia ketika diwawancarai di Mabes Polri, Jakarta, kemarin. Setiap informasi langsung ditindaklanjuti dan didalami. Mereka melakukan langkah itu guna meminimalisir potensi ancaman serupa yang terjadi di Surabaya.

Berdasar informasi yang dia terima sampai kemarin sore, jumlah terduga teroris yang ditangkap masih 13 orang. Seluruhnya masih satu jaringan dengan Dita Oeprianto yang meledakan bom di tiga gereja bersama keluarganya. ”Semua grup JAD Surabaya dipimpin oleh Dita,” terang pria yang akrab dipanggil Setyo itu. Dia pun memastikan kembali bahwa seluruh terduga teroris itu saling berkaitan.

Sebagai pimpinan JAD di Surabaya, Dita bersama anggotanya, Tri Murtiono memang sudah bersiap untuk melaksanakan bom bunuh diri. Tidak heran, selang sehari pasca Dita bersama keluarganya meledakkan bom, Tri menyusul. Dia menyerang Mapolrestabes Surabaya. Di samping berperan sebagai pimpinan JAD Surabaya, Setyo menuturkan bahwa Dita turut serta dalam perakitan bom. ”Yang merakit bom Dita,” imbuhnya. 

Namun demikian, tidak semua proses perakitan dilaksanakan di rumah Dita. Berdasar data dan fakta yang diperoleh aparat kepolisian di lapangan, sejumlah barang bukti ditemukan terpisah. Termasuk bahan baku untuk membuat bom serta bom yang sudah selesai dan siap diledakkan. Dari rumah Dita misalnya. Di antara barang bukti yang diamankan, petugas turut menemukan bahan baku yang bisa dipakai untuk membuat bom.

Serupa, petugas kepolisian juga mendapati sejumlah barang bukti serupa di kediaman Anton Ferdianto. Mulai cairan kimia sampai bom siap ledak. Barang bukti yang sama juga ditemukan di tempat tinggal terduga teroris ASW, Abu Haidar alias Widodo, TM, dan Budi Satrijo. Nama terakhir tidak lain adalah terduga teroris yang mau tidak mau harus ditembak mati oleh petugas. Dari data yang diterima Setyo, Budi juga punya peran khusus.

Menurut pati Polri asal Semarang itu, Budi mendapat tugas mengumpulkan dana. ”Perannya adalah penampung dana yang digunakan kelompok JAD Surabaya,” imbuh Setyo. Peran tersebut dijalankan Budi sesuai arahan Dita. Belum diketahui pasti sumber dana yang ditampung oleh Budi. Sebab, sampai saat ini petugas yang bekerja di lapangan masih terus mendalami sejumlah data. ”Mungkin dari anggotanya,” tambah dia.

Polisi pun sedang mendalami jumlah pasti anggota JAD Surabaya. Selain itu, penelusuran juga dilakukan untuk mengetahui dengan jelas aktivitas pengajian yang bisa diikuti oleh anggota JAD Surabaya. ”Masih didalami,” imbuh Setyo. Yang pasti, kata dia, masih ada terduga teroris yang berkaitan dengan peledakan bom bunuh diri di Surabaya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). ”Teman-teman masih bergerak di beberapa wilayah,” tambahnya. (mir/edi/syn/)

Berita Terkait