Tiga Bersaudara Lumpuh, Karena Kekurangan Gizi

Tiga Bersaudara Lumpuh, Karena Kekurangan Gizi

  Senin, 26 March 2018 11:00
TERBARING: Roni Hendrikus (16 tahun) diberi minum oleh ayahnya di RSUD Ade M Djoen, Sintang. Roni menderita Malnutrisi dan Kekurangan Energi Protesin (KEP). Dua adiknya, juga mengalami hal serupa. AGUS PUJIANTO/KAPUAS POST

Berita Terkait

Nasib buah hati pasangan Srimancong dan Ana Seleh tak seberuntung anak dari keluarga lainnya. Putra sulungnya tidak tumbuh dengan kondisi fisik normal sehingga tidak bisa beraktivitas apapun. Sementara dua saudaranya lagi, menunjukan gejala yang sama. 

 

MATA Roni Hendrikus hanya bisa berkedip. Mulutnya menganga. Kadang mengatup. Tapi tidak sering. Dia tak banyak berbicara. Hanya ketika dia ingin mengutarakan sesuatu. Misal ketika lapar. Suaranya terdengar lirih, juga parau. Seperti tersendat di tenggorokan. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh putra sulung Srimancong dan Ana Saleh ITU. Tidak lebih. Untuk menggerakkan jemari saja, sulit. Dia lumpuh. 

Kondisi tubuhnya sangat memperihatinkan. Kedua tangannya menekuk kaku. Otot pundak, pergelangan tangan hingga kedua kakinya mengerut menjadi kecil. Pengerutan menjadikan tulangnya merapat dan tak bisa digerakkan. Posisinya badan tegak dan kedua kakinya menghadap ke belakang. Begitupula dengan lengan tangannya. Jarinya juga tertekuk tak bisa diluruskan.  

Badan bocah 16 tahun ini sangat kurus hingga terlihat tulang rusuknya. Hanya tampak tersisa kulit yang membalut tulang. 

Ketika ditemui di ruang selasar penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade Muhammad Djoen Sintang, Roni hanya bisa berkedip menyambut kami. Sementara Srimancong –ayahnya – sedang mengupas kulit buah apel dengan sebilah pisau. Sudah lima hari ini Roni dirawat inap dengan lengan tangan tertusuk jarum infus. 

Roni tidak sendiri dirawat di rumah sakit. Kedua adiknya Marianus (10) dan Ape Rio (6) juga ditusuk jarum infus. 

Orangtua mana yang tak sedih melihat anaknya tergolek tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Terlebih dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Namun, Cong - sapaan akrab ayah Roni - berupaya tetap tegar menyembunyikan kesedihannya itu dengan tetap tersenyum di hadapan anak- anaknya. Begitupula dengan Ana Seleh, istrinya. 

Dengan sabar, warga Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau ini menyuapi anaknya dengan buah apel yang telah dikupas. Cukup lama bagi Roni mengunyah apel yang sudah dipotong kecil itu, apalagi makan sambil baring. Dia pun sempat tersedak. 

Ruangan tempat Roni dirawat terpisah dengan kedua saudaranya. Ape Rio dan Marsianus dirawat di ruang anak, lantai dua. Sementara Roni di lantai dasar. Kedua suami istri itu pun berbagi tugas merawat ketiga putranya. 

Marsianus, adik nomor dua roni, baru berusia 10 tahun. Sementara Aprilio si bungsu dari tiga bersaudara enam tahun. Keduanya juga mengalami gejala yang sama dengan Roni. Namun, kondisi fisiknya keduanya belum seburuk Roni yang seluruh anggota tubuhnya lumpuh serta kaku. Saat ditemui di ruang terpisah, kedua bersaudara ini baru bangun tidur. Mereka tergeletak di bawah ranjang. 

"Panas tidur di atas (ranjang) mereka maunya di bawah," celetuk Ana Saleh.

Kondisi Marsianus belum separah Roni. Kedua tangannya, masih berfungsi. Daging ditubuhnya juga berlebih. Namun, pergelangan kakinya sudah menunjukan tanda yang sama dengan apa yang sudah dialami roni. Kakinya mulai menekuk ke belakang. " Dia tidak bisa lagi berjalan," ungkap Ana. 

Sementara Ape Rio, putra bungsu Ana, juga sudah menujukkan gejala yang sama seperti yang dialami oleh kedua saudaranya. Kakinya lemah. Untuk berdiri saja sulit. Namun, dua dari tiga bersaudara ini masih bisa berinteraksi dengan sekitarnya. Beberapa kali Marsianus bermain dengan pasien balita di sampingnya dengan kedipan mata. Sementara si bungsu, hanya diam tenang. Dia bangun tidur. 

Mulai Umur Lima Tahun

Masa depan dan harapan pasangan suami istri asal Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau ini seakan pupus setelah ketiga putranya berusia lima tahun. Disaat anak sepantarannya menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar, anak pasutri ini harus menghadapi ancaman penyakit yang bakal merenggut masa depannya. Putra sulungnya, sama sekali tidak bisa beraktivitas.

Roni dan Marsianus berjuang agar penyakit yang dideritanya bisa disembuhkan. Sementara Ape Rio berjuang agar tidak terlambat seperti saudaranya. "Mereka (Roni-marsianus) sudah terlambat. Yang bungsu gejalanya sudah ada. Mudah mudahan tidak terlambat," kata Ana lirih. 

Ana, juga suaminya tak dapat menyembunyikan wajah kesedihannya melihat kondisi ketiga putranya. Semua, berawal dari usia anaknya beranjak lima tahun. 

Saat usia Roni baru empat tahun, kondisinya baik baik saja. Seperti anak pada umumnya. Dia bisa bermain bersama anak sebayanya. Kondisi yang sama juga dialami dua saudara kandungnya. 

Namun, semuanya berubah setelah ketiga putranya menginjak usia lima tahun. Urat saraf mulai menyerang disekujur kaki membuat putra sulungnya tak mampu berdiri. 

"Sejak umur lima tahun. Awalnya bisa jalan, seperti anak pada umumnya. Jalannya semakin hari semakin lemah.Setelah itu langsung lumpuh," kata Srimancong ayah Roni mengenang masa keceriaan Roni sebelum sarafnya terganggu hingga anggota tubuhnya kaku. 

Hidup Roni berubah seketika. Masa kekanakannya raib setelah saraf ototnya tidak bekerja dengan baik. Pendidikannya semasa di PAUD terenggut. "Rencana mau daftarkan masuk SD, tapi ndak jadi," kata lelaki berusia 45 tahun ini.

Pada usia tujuh tahun, tubuh Roni benar- benar lumpuh. Lambat laun, terjadi pengerutan pada persendian kaki, tangan hingga bahunya. Hingga saat ini, semua organ tubuhnya kaku. Badannya kurus. 

Menerima kenyataan pahit menimpa anak sulungnya, pasutri yang berprofesi sebagai petani sudah berupaya membawa anaknya ke dokter. Semula dibawa ke Puskesmas Nanga Taman. Kemudian dibawa juga ke RSUD Sekadau. "Dokter bilang kena saraf. Hanya itu," kata Cong.

Keadaan yang sama, juga dialami kedua saudara Roni. Kondisi tubuh dua bersaudara itu juga terserang sarafnya saat berumur lima tahun. Meski kondisi keduanya lebih baik dari saudara sulungnya, namun mereka juga sulit untuk berdiri. Untuk duduk saja, Marsianus harus diangkat Ana. 

Ana, juga suaminya bingung dengan kenyataan yang diderita ketiga putranya. Padahal, riwayat keluarga, tidak ada satupun yang mengalami lumpuh. Bahkan, Ana menyebut, ketiga putranya itu juga rutin imunisasi. 

Kedua orangtua Roni, bukan warga berkecukupan. Pasangan Suami Istri (pasutri) ini hanya seorang petani. Hasil dari torehan getah karetnya, jauh dari kata cukup untuk 

biaya pengobatan ketiga anaknya. Belum lagi, harga getah perkilogramnya, tidak sebanding dengan satu kilo gram beras. “Sehari paling hanya dapat lima kilo,” aku Cong.

Derita Roni dan dua saudaranya tidak dapat tertangani dengan baik akibat kondisi ekonomi. Hidup putranya itu banyak dihabiskan di rumah. Ana dengan penuh kesabaran dan keikhlasan merawat serta memenuhi setiap kebutuhan ketiga putranya dan menyaksikan bagaimana anggota tubuh anaknya menggkerut lalu kaku. Sementara ayahnya mengumpulkan rejeki dari torehan getah. Jika ada waktu luang, Ana pergi ke sawah. “Ini aja bingung, padi belum dipanen. Kemarin pergi mendadak. Cuma bawa baju dua helai,” aku perempuan berusia 32 tahun itu. 

Pasutri itu berusaha tegar menghadapi kenyataan hidup putranya. Tidak banyak yang diharapkan selain kesembuhan. Saat ini, hanya si Sulung yang diharapkan agar kondisinya tidak seperti putra pertamanya. 

“Kami pasrah dan berusaha untuk mengobati. Yang kecil, mumpung masih belum terlambat kami jaga terus kakinya. Supaya tidak nekuk waktu tidur juga agar tidak dimiringkan,” sebut Ana. 

Kasubag Humas RSUD Ade M. Djoen Sintang Nursyamsiah menyebut, pasien atas nama Roni Hendrikus yang dirawat di ruang penyakit dalam didiagnosa mengalami malnutrisi dan KEP. 

Malnutrisi lebih umum diartikan sebagai kekurangan gizi. Sementara KEP singkatan dari Kurang Energi Protein. “Pasien Roni Hendrikus diagnosa Manultrisi dan KEP. Marianus dan Ape Rio hemiparese DD AFP. Sudah dilakukan cek feses (kotoran) masih menunggu hasil dari Propinsi,” tulis Nusyamsiah melalui pesan Whatsapp, Minggu (25/3). 

Hemiparese dalam sejumlah literasi diartikan istilah medis untuk menggambarkan kondisi adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh atau ketidakmampuan untuk menggerakkan tubuh pada satu sisi. 

Nursyamsiah belum bersedia menjelaskan secara medis diagnosa ketiga putra pasangan Ana Seleh dan Srimancong. Begitupa dengan dampak dari Malnutrisi dan KEP yang menyebabkan anggota tubuh Roni lumpuh dan kaku. 

“Untuk lebih jelasnya kami masih menunggu hasil pemeriksaan penunjang. Untuk kewenangan penjelasananya ada yang ahlinya,” sebut Nusyamsiah. (Agus Pujianto)

Berita Terkait