Tewas Dibekap, Jenazah Pacar Dibuang

Tewas Dibekap, Jenazah Pacar Dibuang

  Jumat, 23 September 2016 09:30
REKA ULANG: Polda Kalbar melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan dengan tersangka Aloysius Fernando, Kamis (22/9) di Jalan Parit Haji Mukhsin 2 Komplek Mega Mas, Kubu Raya, Kamis. Reka ulang tersebut dilakukan atas kasus pembunuhan Marta Priviyana yang merupakan pacar pelaku. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Marta Priviyana merenggang nyawa setelah dibekap menggunakan bantal oleh Aloysius Fernando alias Ando, yang tak lain kekasihnya sendiri, di rumah kontrakan di Jalan Parit Haji Huksin II, Komplek Mega Mas Blok D31, Kubu Raya.

Tersangka yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Tanjungpura Pontianak ini tega menghabisinya nyawa kekasihnya lantaran kesal karena sebelumnya kekasih berteriak-teriak kesakitan akan melahirkan. 

Karena tak ingin perbuatannya diketahui oleh warga, tersangka kemudian membekap wajah korban hingga tewas. Hal itu jelas terungkap dalam reka adegan yang digelar Ditreskrimum Polda Kalbar, Kamis (22/9).

Dalam reka adegan tersebut, tersangka melakukan 32 adegan, mulai dari saat korban mengeluh sakit perut karena diduga akan melahirkan, hingga saat tersangka membuang jenazah korban di perkebunan sawit di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.

Kisah kasih antara tersangka dan korban ini bermula dari perkenalan mereka di facebook pada tahun 2014. Kemudian, setahun berikutnya keduanya menjalin hubungan pacaran. Selanjutnya, diketahui korban hamil sekitar delapan bulan.

Hubungan dua sejoli ini tak berakhir bahagia, justru sebaliknya berakhir dengan hilangnya nyawa. Pada 19 September 2016, sekitar pukul 18.00, korban yang beberapa hari terakhir ini diketahui menginap di rumah kontrakan tersangka mengeluh sakit perut. Kemungkinan karena akan melahirkan.

Korban tak tahan dengan rasa nyeri perut yang dialaminya sehingga berteriak sekeras tenaga. Karena tak ingin diketahui oleh tetangga, tersangka mengambil bantal yang terletak di atas kepala korban. Tak lama setelah itu, tersangka membekap wajah korban hingga akhirnya korban meregang nyawa.

Melihat korban telah meninggal dunia, tersangka mencari mobil rental. Ia berniat untuk membuang jenazah korban. Sekitar pukul 22.00, korban yang sudah tak bernyawa itu langsung dimasukan ke dalam mobil.

Kemudian, untuk mengelabui orang lain, tersangka bertamu ke rumah tetangganya yang berada di depan rumah kontrakan yang sejak setahun lalu ditempati tersebut. Keesokan harinya, sekitar pukul 06.00, tersangka membawa jenazah koban menggunakan mobil rental KB 1198 HY.

Sekitar pukul 13.15, jenazah korban ditemukan tanpa identitas oleh warga di Quary Batu PT SMP Dusun Ampar, Desa Cempedak, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. Oleh warga tersebut dilaporkan ke aparat kepolisian.

Tanggal 20 September 2016, penyidik Sat Reskrim Polres Sanggau berkoordinasi dengan Direktorat Reskrimum Polda Kalbar. Kemudian dilakukan identifikasi terhadap sidik jari korban menggunakan instrument MAMBIS oleh Seksi Indentifikasi/INAFIS Polda Kalbar, kemudian ditemukan identitas korban bernama Marta Priviyana yang beralamatkan di Jalan Alteri Supadio Gang Wijaya, Parit Bugis RT.009/006 Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Dari identitas itu kemudian dilakukan pelacakan ke alamat tersebut. Diketahui, korban memiliki hubungan asmara dengan tersangka Aloysius Fernando alias Ando.

Selanjutnya pada Rabu, (21/9) Tim unit Opsnal Polda Kalbar (Resmob) bersama Satreskrim Polres Sanggau melakukan penangkapan terhadap tersangka di rumah kontrakannya di Jalan Parit Haji Muksin II, Komplek Mega Mas Blok D 31, Kabupaten Kubu Raya, yang juga tempat digunakan tersangka menghabisi nyawa korban. Tersangka ditangkap saat mandi sekitar pukul 14.00.

    "Berdasarkan pemeriksaan tersangka, saksi, dan hasil rekonstruksi, tersangka Ando merupakan tersangka tunggal," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Kombes Pol Krisnandi, kemarin.

Dikatakan Krisnandi, pihaknya menemukan adanya unsur perencanaan. Menurutnya, setiap pelaku tindak kejahatan yang ada kesempatan berpikir, maka di situ ada unsur perencanaan. 

"Unsur perencanaan jelas ada. Karena setiap pelaku tindak kejahatan yang ada kesempatan berpikir, maka di situ ada unsur perencanaan," terangnya.

Disinggung soal motif pembunuhan, kata Krisnandi, tersangka merasa kesal dengan korban karena berteriak-teriak kesakitan akan melahirkan. 

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 340 sub 338 KHUP dengan ancaman pidana mati atau seumur hidup.

Pada Senin, 19 September 2016 menjadi hari yang nahas bagi Marta Priviyana, perempuan kelahiran 17 Januari 1991. Ia dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Aloysius Fernando alias Ando, mahasiswa salah satu universitas negeri di Pontianak. 

Oleh teman-temannya, Ando dikenal sebagai orang yang memiliki sifat tertutup. Seperti diungkapkan Rahmad Sumadi, teman satu kontrakannya. 

Rahmad mengaku mengenal Ando sejak empat tahun lalu. Setahun terakhir, ia pun memutuskan untuk mengontrak rumah bersama satu rekannya yang lain, Irwan Tony Sinaga. 

"Dia cenderung tertutup," kata Rahmad, ditemuai saat menjadi saksi dalam rekonstruksi pembunuhan, Kamis (22/9). 

Menurutnya, meskipun hidup bersama di dalam rumah kontrakan, ketiganya tidak pernah membahas soal hal pribadi. Seperti halnya saat beberapa hari terakhir, Ando membawa pacarnya menginap di rumah kontrakan tersebut.

"Saat kejadian, kebetulan saya tidak ada di rumah. Saya sedang keluar. Dan pulang ke rumah saya langsung masuk kamar. Karena kamar kami masing-masing," kata Rahmad.

Kemudian, ia baru mengetahui ada kasus pembunuhan setalah rumah kontrakannya didatangi polisi dan menangkap Ando. 

"Saya baru tahu saat banyak polisi datang ke sini. Waktu itu Ando sedang mandi dan langsung dibawa polisi," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Vic, warga sekaligus tetangga terdekat tersangka. Peristiwa pembunuhan tragis atas  Marta Priviyana nyaris tak satupun orang yang mengetahui. Vic yang juga mahasiswa di universitas tempat Ando kuliah itu, kebetulan sedang tidak berada di rumah saat kejadian. 

Namun, Selasa (20/9) ia sempat bertemu dengan tersangka tanpa melihat gelagat yang aneh. Pada saat itu, usai membuang jenazah yang pacar, tersangka sempat kumpul dengan beberapa warga lainnya, khususnya tetangga di rumah itu.

"Kami sempat kumpul. Malahan masih sempat minum-minum. dan saya baru tahu setalah polisi datang membawanya," bebernya.

Rabu, 21 September 2016, Aloysius Fernando alias Ando, mahasiswa asal Dusun Pesing Desa Engkahan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau ini dijemput oleh polisi.

Berdasarkan hasil interogasi, ia mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap pacarnya sendiri dengan cara dibekap menggunakan bantal di dalam kamar rumah kontrakannya, di Jalan Parit Haji Muksin II komplek Mega Mas.

Setelah mengetahui korban tewas selanjutnya dibawa pelaku ke arah Simpang Ampat Kecamatan Tayan dan dibuang ditepi Jalan ditumpukan limbah tandan sawit, dengan menggunakan mobil.

Ketua RT 005 RW 009 Dusun Banjar Raya, Desa Sungai Raya Dalam, Wasito mengaku tidak terlalu mengenal tersangka dan korban. Namun selama ia menjadi ketua RT baik pelaku dan korban terkenal baik meski cukup tertutup. “Kalau keduanya lewat pakai motor, paling hanya negur tapi tak pernah berhenti sekadar untuk berkomunikasi dengan warga,” kata Wasito. 

Wasito mengaku tidak pernah mengetahui sudah berapa lama korban, pelaku dan seorang teman lainnya tinggal di rumah kontrakan tersebut. “Kepada saya selaku RT, mereka pun tidak pernah melapor. Saya tahu keberadaannya hanya dari pengurus RT yang lama,” ucapnya. 

Warga lainnya, Viktor, sebelum kasus pembunuhan itu terungkap, di rumah kontrakan korban tidak ada tanda-tanda kejadian seperti pertengkaran. “Jelas saya kaget, rumah saya dengan tempat kejadian sangat dekat. Saya tak menyangka ternyata yang membunuh korban ini teman dekatnya,” ucapnya. (arf/adg)

Berita Terkait