Tes Gagal Penuhi Kuota, Dari 100.460 Pendaftar Hanya 14 Persen Lolos

Tes Gagal Penuhi Kuota, Dari 100.460 Pendaftar Hanya 14 Persen Lolos

  Senin, 6 June 2016 09:30

Berita Terkait

JAKARTA – Rekrutmen pendamping profesional 2016 yang dimotori Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) masih jauh dari harapan. Betapa tidak, di antara 100.460 pendaftar, hanya 14.092 orang atau 14 persen yang dinyatakan lolos tes tulis. Angka itu masih jauh dari kuota yang dibutuhkan Kemendes, yakni 19.096 orang.

Sesuai tahapan, rekrutmen pendamping desa gelombang kedua tersebut sampai pada tahap ujian tulis. Tes tersebut dilaksanakan di 33 provinsi, minus DKI Jakarta. Di setiap provinsi, tahapan itu di-handle tim seleksi (timsel) yang beranggota tujuh orang. Mereka terdiri atas 3 akademisi perguruan tinggi, 2 dari Kemendes PDTT, dan 2 dari satuan kerja (satker) pemerintah provinsi. 

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT Taufiq Madjid mengatakan, jumlah peserta yang lolos itu belum mencakup Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Papua Barat. Rencananya, tiga provinsi tersebut baru melaksanakan tes tulis pada Rabu lusa (8/6). ”Penetapan hasil tes tulis ada di daerah,” ujarnya. 

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, banyaknya peserta yang tidak lolos itu disebabkan mepetnya jadwal seleksi tulis dengan pengumuman yang diterima. Akibatnya, banyak peserta yang berhalangan hadir dalam tes tersebut karena terkendala transportasi.

Disinggung soal itu, Taufiq menepisnya. Dia memastikan bahwa di antara 100.460 peserta yang telah mendaftar, hampir semuanya mengikuti tes tulis. Mengenai penyebab banyaknya peserta yang tidak lolos, Taufiq punya pendapat lain. Dia menyebut keputusan itu murni kewenangan timsel di masing-masing provinsi. ”Pelaksananya bukan kami (Kemendes PDTT, Red), tapi timsel,” kilahnya. 

Menurut Taufiq, faktor kemampuan dalam menyelesaikan tes menjadi salah satu penyebab banyaknya peserta tidak lolos. Pada tahap tersebut, para peserta harus menjawab 50 soal yang diberikan timsel dengan passing grade 60 persen. ”Tes tulis ini diikuti seluruh peserta (100.460, Red). Kemungkinan memang banyak yang tidak lolos saat mengikuti tes tulis,” tegasnya. 

Taufiq mengakui, kuota pendamping profesional terancam tidak tercukupi meski mendapat tambahan dari tiga provinsi: NTT, Papua, dan Papua Barat. Pihaknya pun berencana segera membahas kekurangan itu bersama stakeholder. Menurut dia, opsi mengadakan tes tulis lanjutan sangat mungkin dilakukan untuk mengisi kekurangan tersebut. ”Sejauh ini belum ada keputusan,” tuturnya singkat.

Lebih lanjut, Taufiq mengimbau seluruh peserta yang berkeberatan dengan hasil tes tulis untuk mengajukan protes ke timsel di masing-masing provinsi. Pihaknya menegaskan, lolos atau tidaknya peserta itu ditentukan daerah, bukan Kemendes PDTT. ”Kami rasa timsel sangat akuntabel karena melibatkan perguruan tinggi di masing-masing provinsi,” jelasnya. 

Secara terpisah, anggota Komisi V DPR Syarif Abdullah Alkadrie menyebutkan, banyaknya peserta yang tidak lolos itu patut dipertanyakan. Bila yang lolos hanya 14.092 orang, kata dia, itu berarti ada lebih dari 80 ribu peserta yang tidak mampu menjawab soal. ”Apakah memang karena soalnya yang salah atau sumber daya manusianya yang memang tidak bisa menjawab (soal, Red),” kritik sekretaris Fraksi Nasdem di DPR tersebut. 

Syarif akan melihat secara keseluruhan pelaksanaan rekrutmen pendamping profesional tersebut. Dia akan mempelajari penyebab banyaknya peserta tidak lolos itu dengan menelusurinya ke setiap daerah. ”Yang jelas, SDM peserta dan soal yang diberikan harus sesuai,” tandasnya. (tyo/c7/agm)

Berita Terkait