Terpidana Mati Danai Bisnis Narkoba

Terpidana Mati Danai Bisnis Narkoba

  Kamis, 15 March 2018 11:00
TAK JERA: Ong, warga Malaysia berusia 70 tahun yang berjalan mengandalkan kursi roda, dikawal ketat dua petugas polisi dan BNN bersenjata lengkap. Ong, terpidana mati kasus narkoba kembali mengendalikan bisnis narkoba di Kalimantan Barat dari dalam selnya. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Uncle Ong, WN Malaysia Kendalikan Penyelundupan Sabu dari Penjara

PONTIANAK - Meski telah dijatuhi pidana mati, Ong Bok Seong alias Uncle Ong, pria 70 tahun asal Malaysia ini masih bisa mengendali peredaran narkotika di Kalimantan Barat. Bahkan, pria tua berkursi roda itu memiliki peranan penting mengatur penyelundupan sabu-sabu sekaligus sebagai penyandang dana.

Fakta ini terungkap saat Direktorat Narkoba Polda Kalbar menggagalkan penyelundupan sabu-sabu seberat lima kilogram asal Malaysia di Jalan Lintas Malindo, Tayan Hulu, Sanggau, Senin (12/3). 

Dari operasi inilah polisi berhasil mengungkap para pelaku. Mirisnya, satu dari enam pelaku saat ini tengah mendekam di balik jeruji besi lembaga pemasyarakatan. 

"Penyelundupan sabu seberat lima kilogram yang ternyata dikendalikan dari lapas. Enam tersangka itu lima WNI dan satu warga Malaysia. Yang dari Malaysia ini umurnya sudah 70 tahun. Sudah dijatuhi pidana mati. Tapi masih bisa mengendalikan narkoba,"  ujar Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono dalam keterangan pers bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), kemarin.

Dikatakan Didi, terungkapnya penyelundupan narkoba ini berawal dari tertangkapnya dua orang pengemudi dump truk, Gajan Terniat alias Gajan dan Waderlison Saragih di Jalan Dusun Simpang Tanjung, Desa Binjai, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau. 

Saat dilakukan penggeledahan, polisi menemukan lima kantong berisi sabu-sabu yang disembunyikan di kursi sopir. "Setelah dilakukan penggeledahan ternyata ditemukan lima bungkusan, isinya sabu seberat lima kilogram," lanjut Didi. 

Setelah itu, polisi berhasil menangkap tersangka lain, Mikraj alias Ran di Kembayan, Kabupaten Sanggau. Pengembangan tidak berhenti sampai di sini. Sabu-sabu seberat lima kilogram tersebut rencananya bakal diserahkan kepada Gunawan alias Apeng, warga Jalan Tritura, Gang Angket Dalam II, Tanjung Raya I. 

Dari informasi itu, polisi berhasil menjebak Gunawan alias Apeng. Apeng ditangkap di sekitar Tugu Alianyang, Jalan Trans Kalimantan, Sungai Ambawang.

Dari penyelidikan terungkap, barang haram itu merupakan pesanan dari seseorang bernama Darmansyah alias Tejo, narapidana Lapas Klas IIA Pontianak yang divonis pidana 9 tahun penjara. "Dari pengakuan tersangka Darmawan, terungkap bahwa Ong Bok Seong alias Uncle Ong sebagai penyandang dana," terangnya. 

Seperti diketahui, Uncle Ong sudah divonis hukuman mati untuk kasus penyelundupan narkoba. Ong kini mendekam di lembaga pemasyarakatan dan tinggal menunggu eksekusi mati.

Sebelumnya, Uncle Ong menyelundupkan 11,2 kilogram sabu-sabu. Ong divonis seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Sanggau yang kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi Kalimantan Barat pada 28 November 2016.

Rusak Generasi Muda

Kapolda Kalbar sangat menyesalkan masih terjadinya penyelundupan narkoba di Kalbar. Menurut Didi, narkoba sangat berbahaya bagi generasi muda. Jika sabu-sabu seberat 5 kilogram itu lolos, maka ada puluhan ribu generasi muda yang hancur masa depannya. “Satu gramnya bisa dikonsumsi 10 orang, maka lima kilogram bisa menghancurkan 50 ribu orang,” katanya. 

Menurut Didi, jika dirupiahkan, satu kilogram sabu dihargai Rp1,5 miliar. “Kalau lima kilo berapa? Coba bayangkan!" katanya. "Untuk itu, saya nyatakan perang melawan narkoba," tutupnya. 

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menyatakan, jalur perbatasan lintas negara, baik darat, laut maupun udara sangat rentan penyelundupan narkoba. Menurutnya, saat ini BNN tengah melakukan operasi di sepanjang pesisir Timur Sumatera. 

Dari hasil operasi tersebut, pihaknya berhasil mengungkap barang bukti yang cukup besar, bahkan hingga ton-tonan.

"Tapi sepertinya sindikat ini beralih kiblat. Yang selama ini menggunakan jalur laut, saat ini mereka menggunakan jalur darat. Nah, yang ini (penyelundupan lewat perbatasan di Kalbar) adalah percobaan. Untuk mengalihkan. Jalur darat akan digunakan," terangnya. 

Ditegaskan Arman, dalam pemberantasan narkoba, terutama memutus mata rantai penyelundupan narkoba, wilayah perbatasan menjadi fukus utama. Selain itu juga fokus pada lembaga pemasyarakatan. Menurutnya, Lapas menjadi bagian dari peredaran narkoba. 

"Tidak hanya di darat tapi juga di laut. Fokus pada LP. karena LP sumber bagian dari sindikat, ada juga berperan sebagai pengendali," tegasnya. (arf)

Badan Narkotika Nasional (BNN) menembak mati seorang bandar narkoba Warga negara Malaysia Ng Eng Aun alias Piter. Piter diduga sebagai pengendali penyeludupan narkoba dari negeri jiran ke Kalbar lewat seorang kurir, Edy alias Haris, melalui jalur tikus di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Sanggau. 

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari menjelaskan, dalam pengungkapan penyelundupan narkoba itu, BNN berhasil mengamankan dua kilogram sabu dan 30 ribu butir ekstasi asal Malaysia. 

"Kemarin sore, anggota gabungan menangkap sekaligus melumpuhkan sindikat narkoba dari Kuching melintasi perbatasan antar negara," ujar Arman Depari, kemarin.

Dikatakan Arman, pengungkapan berwal dari informasi masyarakat terkait adanya upaya penyelundupan narkoba dari Malaysia. Berdasarkan informasi itu,  petugas gabungan BNN dan Bea Cukai kemudian melakukan penyelidikan di lintas Trans Kalimantan. Petugas kemudian mengamankan Edy di Jalan Trans Kalimantan. Edy diamankan saat menumpang mobil Toyota Calya nomor polisi KB 1437 SN.

Dari penangkapan tersangka Edy alias Haris, pihaknya menemukan narkotika jenis sabu kristal dua kilogtam dan ekstasi 30 ribu butir yang disembunyikan bersama barang-barang kelontong. 

"Modusnya mencampur narkoba dengan barang-barang kelontong," kata Arman. 

Arman menambahkan berdasarkan keterangan Edy, diketahui bahwa  yang merintahnya adalah Piter, seorang warga Malaysia. Petugas kemudian menangkap Piter di Hotel Harris Pontianak. Setelah menangkap Piter, pengembangan pun dilakukan di wilayah Siantan, Pontianak Utara. 

Namun, kata Arman, saat pengembangan Piter berupaya melarikan diri dan melawan petugas BNN. Petugas terpaksa mengambil tindakan tegas. 

"Petugas BNN terpaksa melakukan tindakan tegas dan terukur kepada  pelaku Piter," kata mantan Kapolda Kepulauan Riau itu. 

Piter sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan ke rumah sakit, Piter tewas. Saat ini, jenazah Piter berada di RSUD Soedarso Pontianak. 

Menurut Arman, Piter bukan sindikat baru dalam bisnis haram narkoba. menurutnya, Piter sebelumnya juga menyelundupkan sabu seberat 25 kilogram dengan modus yang sama, yakni menyembunyikan narkoba bersama dengan barang-barang kelontong. 

"Saya katakan ini sindikat jaringan Internasional. Asal barang dari Kuching, Malayisa. Kolaborasi dengan warga Indonesia," paparnya.

 (arf)

Berita Terkait