Terkesan Keramahan Warga dan Kagumi Nuansa Keislaman Pontianak

Terkesan Keramahan Warga dan Kagumi Nuansa Keislaman Pontianak

  Jumat, 17 May 2019 11:11
IMAM: Sheikh Muhammad Ali Aldeeb didampingi Maulana (penerjemah) menceritakan awal kedatangannya di Pontianak. MARSITA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Salat Isya dan Tarawih  di malam ke sembilan Ramadan (13/5) di Masjid Ikhwanul Mukminin, Sungai Raya Dalam diimami  Sheikh Muhammad Ali Aldeeb. Suara qori internasional ini begitu indah terdengar. Kefasihannya melafazkan ayat demi ayat Alquran membuat kagum jemaah.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

BARU enam bulan Sheikh Muhammad Ali Aldeeb berada di Pontianak.  Saat tiba di bumi Khatulistiwa ini, putra ke dua dari enam bersaudara ini datang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia pun banyak menerima undangan dari sejumlah masjid mengisi acara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu.

Sheikh Muhammad begitu terkesan dengan keramahan warga dan aktivitas keIslaman di Pontianak yang terasa begitu kental. Menurutnya,  penghormatan umat muslim Indonesia, khususnya Pontianak kepada Alquran begitu tinggi.  Suara mengaji terdengar saat Ramadan, suara azan berkumandang indah. Dari sahur hingga berbuka puasa, kata dia membuatnya terkesan. Menjadi pengalaman baru, seru dan menyenangkan. Suasana ini tidak ditemui di sejumlah negara yang dikunjungi. 

“Ya saya senang dengan masyarakat di sini, penduduknya baik hati,” ucapnya dalam bahasa Arab yang diterjemahkan Maulana, yang biasa mendampinginya saat diminta menjadi imam di sejumlah masjid.

Ramadan pertamanya di Pontianak ini juga tak kalah sibuknya. Pria asal Mesir ini banyak mendapat undangan menjadi imam Salat wajib dan Tarawih dari masjid ke masjid. Suatu kebahagiaan dirasakan ketika keberadaannya di Indonesia bermanfaat.

Sebagai orang yang memiliki latar belakang keilmuan mengkaji Alquran, kemampuan hafalan dan membaca Alquran tak diragukan lagi. Setiap ayat yang dibacakannya mampu menyentuh hati dengan lantunan suara yang indah.

Saat menjadi imam tarawih di Masjid Ikhwanul Mukminin,  ayat-ayat yang dibaca tidak terlalu panjang. Sepertinya menyesuaikan dengan kebiasaan di Pontianak. Dari Salat Isya, Tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir selesai sekitar pukul 20.30 WIB.

Meski keterbatasan bahasa, tak mengurangi semangat Seikh Muhammad untuk berdakwah. Ia didampingi istrinya, Rafita sebagai penerjemah bahasa. Saat ini tinggal di Jalan Tanjung Raya 2, Jalan Yusuf Karim. Kadang ia diminta untuk mengajar ilmu Alquran di Masjid Ikhwanul Muslimin.

Menurut sang istri, Seikh Muhammad ini selama di Mesir sering menjadi qori dalam berbagai acara dan sering tampil diacara televisi. Seikh Muhammad ini juga memiliki kanal youtube yang lebih banyak mengupas tentang Alquran. Ia juga kerap diundang ke negara lain. Sudah enam negara yang ia kunjungi. Pada 22 Mei mendatang, ia dipercaya menjadi imam di Malaysia. (*)

 

Berita Terkait