Terganggunya Saraf ke Tujuh

Terganggunya Saraf ke Tujuh

  Jumat, 12 Oktober 2018 09:59

Berita Terkait

Bell’s Palsy 

Bell’’s palsy bukan tergolong penyakit baru. Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui penyakit saraf ini. Padahal, penderitanya tak hanya orang dewasa, melainkan juga remaja. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan di bagian wajah.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Sering kali keluhan yang datang dianggap bagian dari stroke ringan karena sama-sama bersifat mendadak. Namun kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini membuat rumor seputar Bell’s palsy terus berkembang. Banyak yang salah mengartikan gejala antara keduanya.

Donatus Budiono, akrab disapa Budi, pernah terkena Bell’s palsy lebih dari 10 tahun lalu. Tanpa gejala apapun, tiba-tiba mulutnya mencong. Mata sebelah kanannya juga tidak dapat berkedip. 

“Saya masih bisa bicara, tetapi tidak sempurna. Wajah sebelah kanan tidak bisa bergerak,” ujar Budi.

Saat mandi, Budi harus menutup mata kanannya dengan tangan agar tidak masuk air.  Salah seorang teman yang berprofesi dokter merekomendasikan Budi untuk berobat ke dokter saraf. Kemudian dia pun mendapat obat.

Selain ke dokter, Budi juga menjalani pengobatan alternatif berupa penyinaran sebanyak dua kali. Kemudian, dia mencoba akupuntur. “Akupuntur sebanyak dua kali dan ada perubahan. Sekitar sebulan, saya sembuh. Dan disuruh banyak mengunyah permen karet agar mulut berolahraga,” ujar pria berusia 42 tahun ini.

Dokter spesialis saraf, Hanartoaji Anggana Pribadi yang biasa disapa Aji mengatakan Bell's palsy adalah gangguan saraf yang menyebabkan kelumpuhan satu sisi wajah. Dalam hal ini yang terganggu adalah saraf ke tujuh atau nervus fascialis.

Gejalanya seperti mulut mencong, kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna, dan keluar air liur dari mulut. Semuanya ini terjadi di satu sisi wajah yang terkena.

“Penyebab yang telah diketahui disebabkan oleh proses inflamasi (peradangan) dan infeksi virus jenis tertentu. Adapun penyebab proses inflamasi itu sendiri belum diketahui dengan pasti,” ujar Aji.

Bell’s palsy berbeda dengan strke. Pada stroke, jika melibatkan kelumpuhan saraf wajah, pada umumnya kelumpuhan yang terjadi hanya mengenai wajah bagian bawah saja. Dalam hal ini terdapat mulut mencong, tetapi tidak ada gangguan pada kelopak matanya. Pada beberapa kasus stroke di batang otak gejala kelumpuhan saraf wajah yang terjadi mirip seperti Bell's palsy, tetapi disertai pula dengan gangguan saraf yang lain seperti pandangan ganda, kelumpuhan sesisi tubuh, dan lain-lain.

Pada beberapa kasus Bell's palsy dapat pulih tanpa pengobatan. Namun, sampai 30 persen kasus pemulihan yang terjadi tidak sempurna. 

“Oleh karena itu penting untuk diperiksakan ke dokter saraf pada masa awal terjadinya gejala,” kata Aji.

Dokter di Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang ini menambahkan pada dasarnya siapapun dapat terkena Bell’s palsy, baik pria maupun wanita. Mayoritas berusia 15 hingga 60 tahun. 

“Belum ada cara tertentu yang efektif untuk mencegah penyakit ini. Penanganan sedini mungkin setelah terkena akan menurunkan risiko kecacatan yang terjadi,” tuturnya. **

Berita Terkait