Terendah Sepanjang Sejarah

Terendah Sepanjang Sejarah

  Rabu, 7 March 2018 11:00
TURUN: Armie Hammer (kiri) dan Gal Gadot saat menjadi presenter Academy Awards 2018, Senin pagi WIB. Ditayangkan di ABC, jumlah pemirsa yang menontonnya secara live melorot drastis. KEVIN WINTER / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP

Berita Terkait

Rating dan Jumlah Penonton Oscars Turun Drastis

LOS ANGELES – Tidak ada yang meragukan kemegahan dan kemewahan The Oscars 2018 Minggu malam waktu setempat (4/3) atau Senin pagi WIB. Presenternya keren-keren. Mulai Gal Gadot, Tom Holland, Chadwick Boseman, hingga droid Star Wars BB8. Performer-nya pun berasal dari film yang tengah digemari. Ada Gael Garcia Bernal dan Miguel yang membawakan Remember Me. Juga Keala Settle, bintang The Greatest Showman.

Namun, itu semua tidak mampu mengangkat pamor The Oscars di mata penonton televisi. Ditayangkan di ABC, jumlah pemirsa yang menontonnya secara live melorot drastis. Yakni 26,5 juta orang. Turun 20 persen dari tahun lalu yang masih berada di angka 32,9 juta. Sejak jumlah penonton mulai dicatat pada 1974, tahun ini adalah rekor terendah! 

Dari segi rating, juga turun. Tahun ini rating-nya hanya 18,9. Turun sebesar 16 persen dari angka 22,4 yang diperoleh tahun lalu. Itu juga angka paling rendah. Biasanya, tayangan langsung The Oscars mendapat rating di atas 21.   

Itu tentu bukan semata salah pihak Oscars. Secara umum, penonton televisi memang menurun. Grammy Awards saja, yang bertabur penampilan musisi papan atas, hanya ditonton 19,8 juta orang, terendah dalam 9 tahun terakhir. ”Habit orang nonton TV sudah bergeser,” tutur Preston Beckman, konsultan media, seperti dikutip Los Angeles Times. 

Saat ini anak-anak muda lebih suka melihat film atau serial dari layanan streaming daripada menghabiskan empat jam untuk menonton seremoni awards. Apalagi, momen-momen terbaiknya nanti tetap dapat ditonton di YouTube. Saat ini Oscars memang bisa dinikmati via streaming, tapi melalui saluran khusus yang hanya disediakan bagi pelanggan ABC. 

Selain perkara habit itu, ada satu faktor lagi yang menurut Beckman berkontribusi terhadap turunnya jumlah penonton. Yakni film yang masuk nominasi. 

Rekor penonton Oscars terbanyak dicapai pada 1998. Yakni 55.249 juta viewer. Itu adalah saat Titanic mendominasi musim awards dengan 11 nominasi. Artinya, masuknya film-film laris sebagai nomine bisa mendongkrak minat penonton. 

”Kalau di Oscars tahun depan Black Panther masuk nominasi Film Terbaik, rating tayangan bakal naik,” cetus Beckman. Box office film Marvel yang dibintangi Chadwick Boseman dan Lupita Nyong'o itu nyaris mencapai USD 900 juta alias Rp12,37 triliun.

Di sisi lain, nomine tahun ini jauh dari kata populer. Dua contender terkuat, The Shape of Water dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, belum tayang di berbagai negara. Perolehan The Shape of Water di seluruh dunia hanya USD 126,8 juta (setara Rp1,74 triliun). Sedangkan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri yang tayang sejak November lalu baru mengumpulkan USD 131,3 juta atau setara Rp1,81 triliun.

Ada faktor lain lagi. Banyak analis menyebut nuansa Oscars yang terlalu politis membuat banyak orang malas menonton. Bukan rahasia lagi, Hollywood dikuasai kubu liberal. Belakangan para aktor sering membawa agenda ”serius” di acara penghargaan. Kecenderungan itu menguat setelah Donald Trump menjadi presiden AS. 

Tahun ini kecenderungan tersebut ditandai dengan kembali terpilihnya Jimmy Kimmel sebagai host. Di acaranya, Jimmy Kimmel Live!, host 50 tahun itu sering mengkritik kebijakan Trump. Benar saja, dalam The Oscars Minggu lalu, Kimmel kembali menyentil pemerintah.  

”Kita tidak membuat film seperti Call Me by Your Name untuk dapat uang, kan? Kita membuatnya untuk menggoda Mike Pence. Benar?” ucap Kimmel dalam monolog pembukanya lalu. Pence sempat mendapat kecaman karena komentar yang tidak berpihak kepada kaum LGBT. (adn/c11/na)

Berita Terkait