Terdengar Dentuman sebelum Tenggelam

Terdengar Dentuman sebelum Tenggelam

  Selasa, 17 November 2015 13:48

Berita Terkait

SURABAYA – Penyebab tenggelamnya KM Wihan Sejahtera di Teluk Lamong kemarin (16/11) masih menjadi perdebatan. Ada dugaan bahwa kapal yang berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Labuan Bajo itu menabrak bangkai kapal. Spekulasi lain, penataan muatan kendaraan di kapal tersebut tidak imbang sehingga kapal miring dan akhirnya tenggelam.

Dugaan terjadinya tabrakan dengan bangkai kapal justru diyakini banyak penumpang. Sebab, sesaat sebelum kapal itu miring, mereka mendengar suara dentuman yang sangat keras. ”Ada bunyi jedum dari lambung kapal,” ujar Densi Darius Jebaru yang membantu membunyikan alarm kapal sebelum tenggelam kemarin.

Selain itu, sebuah video amatir yang merekam detik-detik kapal tersebut miring menunjukkan ada lubang seperti sayatan logam pada bagian lambung kanan kapal. Video itu direkam Komandan KM Perkutut dari Polair Polda Jatim Iptu Antonius Trias.

Namun, Syahbandar Utama Pelabuhan Tanjung Perak Rudiana menepis dugaan tersebut. Dia memastikan sudah dilakukan pengerukan, termasuk bangkai kapal, sebelum Teluk Lamong dioperasikan. Begitu juga terumbu karang yang tidak akan tumbuh di dasar laut berlumpur di kawasan tersebut. ”Untuk memastikan penyebab kapal tenggelam, kami dibantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),” tambah Rudiana.

Justru dia berpendapat, ada pergeseran muatan yang mengakibatkan poros kapal tidak seimbang. Penataan kendaraan diduga sebagai penyebab kuat terjadinya pergeseran itu. Dampaknya adalah efek domino yang mengakibatkan kapal makin miring. ”Sekali lagi, kami masih selidiki penyebabnya. Kami juga memeriksa data manifes dengan data yang ada di lapangan nanti,” terangnya.

Tenggelamnya kapal Wihan Sejahtera memang berlangsung cukup cepat. Para saksi mata menyebutkan, kapal jenis ro-ro itu mulai miring hingga terlihat lambung bagian bawahnya hanya dalam waktu sekitar 15 menit. Mulai suara dentuman terdengar pukul 09.00 hingga kapal sudah tak terlihat lagi pukul 09.40.

Saat kapal miring, para penumpang panik. Apalagi ketika alarm dibunyikan dan imbauan untuk menuju lokasi evakuasi diumumkan. Pihak pelabuhan menerima laporan tragedi itu pukul 09.25. Saat kapal-kapal penolong tiba, posisi KM Wihan sudah miring 90 derajat dengan penumpang yang kebingungan.

Mengetahui kapal penolong datang, para penumpang yang sudah diberi tahu langsung mengenakan pelampung dan berkumpul di dek paling atas untuk menunggu bantuan. 

Proses evakuasi berjalan menegangkan. Sebab, penumpang harus meniti tali tambang di bagian lambung kiri kapal sebelum terjun ke laut untuk diangkut kapal lain. Sebagian korban dibawa ke markas Polair Polda Jatim. Ada juga yang langsung dilarikan ke RS PHC. Setelah itu, mereka dikembalikan ke Gerbang Surya Nusantara untuk didata.

Rudiana mengatakan, berdasar data sementara, ada 154 penumpang dan 25 awak yang bisa dievakuasi.  Sementara itu, 62 unit kendaraan yang diangkut KM Wihan karam bersama kapal yang dibuat pada 1995 itu.

Kemarin pihaknya bersama Pelabuhan Indonesia memberikan instruksi bagi kapal lain agar tidak melewati lokasi tenggelamnya KM Wihan Sejahtera. Mereka juga telah menghubungi Polair Polda Jatim dan perusahaan PT Tri Lintas Samudra untuk koordinasi lebih lanjut.

”Koordinasi ini dilakukan untuk mempermudah penyelidikan, santunan, serta ganti rugi yang akan diberikan perusahaan,” kata Rudiana.

 

 

Jumlah Penumpang Simpang Siur

JUMLAH penumpang KM Wihan Sejahtera yang tenggelam di Teluk Lamong kemarin (16/11) sempat membuat bingung. Kepala Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak menyebut 150 orang. Namun, upaya evakuasi menghasilkan angka 179 orang. Lebih parah lagi, angka tersebut tidak sesuai dengan surat persetujuan berlayar dari Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak.

Berdasar surat tersebut, Wihan Sejahtera diketahui tiba di Pelabuhan Tanjung Perak pada Senin dini hari (16/11).  Kapal itu menurunkan 44 penumpang dan beberapa kendaraan. Selanjutnya, kapal tersebut berlayar lagi menuju Labuan Bajo dengan tujuan terakhir Ende. Muatan kapal hanya tertulis 27 jiwa. Selebihnya adalah kendaraan yang diangkut di kapal tersebut.

Surat persetujuan berlayar itu diterbitkan kemarin pukul 06.00. Petugas yang bertanda tangan bernama Anang. Di surat tersebut juga dijelaskan nama nakhoda Asep Hartono. 

Kepala Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak Rudiana Muchlis belum memastikan jumlah penumpang di kapal tersebut. Data yang tercatat mencapai 150 orang. Penumpang yang diselamatkan lebih dari jumlah itu. ”Ada penumpang yang berada di dalam kendaraan,’’ katanya.

Terkait surat persetujuan berlayar yang hanya menyebut 27 penumpang, Rudi tidak membantah. Namun, dia menjelaskan bahwa angka itu belum termasuk penumpang di dalam truk. Misalnya, ada 43 truk yang diangkut kapal tersebut. Rudi mengasumsikan minimal dua penumpang berada di dalam truk itu. Dengan begitu, terhitung sedikitnya 86 penumpang tidak masuk dalam surat persetujuan berlayar.

Penjelasan itu jauh dari normatif yang selama ini diberlakukan. Sumber di syahbandar menjelaskan, jumlah jiwa adalah seluruh penumpang yang naik kapal. Lalu, jumlah kendaraan adalah unit yang diangkut dalam kondisi kosong. Apabila ada sopir atau kernet, mereka tercatat sebagai jumlah penumpang.

Karena itu, dasar surat persetujuan berlayar yang menyebut 27 jiwa diartikan ada 27 penumpang di kapal tersebut. Jumlah itu belum termasuk awak buah kapal yang tertera 25 orang. 

Rudi menegaskan, peristiwa tersebut masih dalam penyidikan. Dia belum bisa memastikan jumlah penumpang yang sebenarnya. Termasuk penyebab kecelakaan. ’’Kepastian itu muncul setelah penydidikan berlangsung,’’ jelas dia.

Terkait evakuasi badan kapal, Rudi mengatakan, ada rencana untuk mengangkat dan meminggirkannya. Tujuan utamanya mempermudah penyidikan. Selain itu, mengamankan arus pelayaran barat Surabaya. (riq/c6/fat)  

Berita Terkait