Terbakar, KRI Rencong Tenggelam

Terbakar, KRI Rencong Tenggelam

  Rabu, 12 September 2018 10:00

Berita Terkait

JAKARTA – Tepat sehari pasca peringatan HUT ke-73 TNI AL, salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik matra laut mangalami musibah. Selasa pagi (11/9) KRI Rencong 622 terbakar. Beruntung tidak satu pun prajurit yang tengah bertugas di atas kapal tersebut menjadi korban. Namun, kapal cepat rudal (KCR) buatan Korea Selatan (Korsel) itu tidak dapat diselamatkan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama, Gig J. M. Sipasulta menyampaikan, saat terbakar kapal perang tersebut tengah melaksanakan tugas operasi Bawah Kendali Operasi (BKO) Gugus Keamanan Laut Komando Armada III. ”Di sekitar Perairan Sorong kurang lebih 20 mil dari dermaga Komando Armada III,” ungkap pria yang lebih akrab dipanggil Gig itu.

Api dipastikan berasal dari ruang gas turbin. Gig menyebutkan, api itu muncul setelah proses pemanasan gas turbin macet.  "Sekitar pukul 07.00 WIT kapal melaksanakan pemanasan Gas Turbin (GT), dimulai dengan start APU. GT sempat hidup dan kemudian mati. Saat diperiksa pada  kontrol GT indikator tidak ada kelainan. Akan tetapi pada saat dicek ke ruang GT tiba-tiba muncul api," terangnya.  

Melihat adanya kebakaran, upaya pemadaman langsung dilakukan. Namun, api tetap membesar. Sambil tetap berupaya mengatasi kebakaran yang terjadi, komandan KRI mengarahkan kapal mendekat ke daratan terdekat dan lego jangkar dekat Pulau Yefdoif di perairan Sorong. 

Kobaran api yang semakin membesar membuat kapal black out (listrik mati total) bersamaan dengan api yang merambat mendekati gudang amunisi. Untuk menghindari korban jiwa karena rawan ledakan, Komandan KRI memerintahkan seluruh anggota meninggalkan kapal.

"Pada saat proses kebakaran terjadi, Komandan KRI Rencong-622 tetap berupaya melaksanakan penyelamatan kapal sesuai prosedur  yang berlaku, juga melaporkan dan berkordinasi terus dengan komando atas tentang kondisi yang dihadapi di lapangan," tutur Laksamana Gig.

Namun, imbuh dia, dengan berbagai upaya penyelamatan yang dilaksanakan, kebakaran makin membesar dan tidak dapat lagi ditanggulangi. "Akhirnya kapal tidak dapat terselamatkan lagi dan tenggelam pada posisi lego jangkar," kata dia.

Menyikapi musibah ini, TNI AL akan membentuk tim untuk melaksanakan penyelidikan lebih lanjut. Gig memastikan, perkembangan informasi terkait kebakaran kapal perang yang pernah bertugas dalam berbagai operasi itu akan disampaikan. Namun, mereka butuh waktu untuk mendapat data dan informasi lengkap. 

Sementara itu, seluruh prajurit yang selamat dari kebakaran sudah berada di markas Komando Armada III. ”Saat ini sudah dievakuasi,” imbuhnya.

Menurut Direktur Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, kebakaran KRI Rencong 622 yang terjadi tidak jauh dari markas Komando Armada III patut menjadi catatan dan perhatian. Sebab, markas itu merupakan pangkalan baru milik TNI AL. ”Pengembangan armada harus dibarengi peningkatan kemampuan alutsista dan personel,” ujarnya. 

Ia merespon positif niat TNI AL untuk membentuk tim guna mencari data informasi lebih terperinci soal kebakaran kapal perang tersebut. Menurutnya, tim dapat menyelidiki kemungkinan adanya sabotase, ketidakdisiplinan pemeliharaan, maupun kelalaian personel. Tiga potensi itu dinilai layak ditelusuri. Sebab, kebakaran kapal perang bukanlah perkara sederhana. 

Berdasar catatan milik Khairul, KRI Rencong 622 punya peran yang cukup signifikan. Bersama KRI Mandau 621, KRI Badik 623, dan KRI Keris 624, kapal perang itu merupakan KCR yang tercepat di antara kapal cepat lain milik TNI AL. ”Banyak berperan dalam operasi-operasi keamanan perairan kita,” jelasnya. Karena itu, kehilangan KRI Rencong 622 juga harus cepat ditindaklanjuti oleh matra laut. 

Meski masih ada tiga kapal perang sejenis, TNI AL tetap perlu memikirkan pengganti KRI Rencong 622. Tentu saja bukan sekadar pengganti, melainkan harus lebih hebat dari kapal tersebut. ”Indonesia perlu kembali serius dalam upaya pengembangan teknologi kapal patroli cepat,” ungkap dia. Sebab, kapal-kapal tersebut sangat dibutuhkan untuk memastikan keamanan laut tanah air. (syn)

Berita Terkait