Tegaskan ISIS Masih Berbahaya, Jenderal AS Ingin Pasukan Bertahan

Tegaskan ISIS Masih Berbahaya, Jenderal AS Ingin Pasukan Bertahan

  Selasa, 12 February 2019 09:14
NYATAKAN MENANG: Presiden AS Donald Trump saat berbicara di Departemen Luar Negeri AS 6 Februari lalu, di Washington DC. Trump telah menyatakan kemenangan atas ISIS dan yakin para ekstrimis akan kehilangan semua wilayah mereka yang tersisa di Suriah dalam waktu sekitar satu minggu. BRENDAN SMIALOWSKI / AFP

Berita Terkait

WASHINGTON – Pengumuman resmi Donald Trump terkait dengan kekalahan ISIS dijadwalkan terjadi minggu ini. Namun, optimisme Presiden AS itu tak sejalan oleh sejumlah pejabat militer. Salah satunya, Joseph Votel, komandan militer AS di Timur Tengah.

Menjelang pensiun, pemimpin Komando Tengah Tentara AS tersebut sempat memberikan pesan mengenai bahaya ISIS di Timur Tengah. ’’Mereka memang terpencar. Tapi, kepemimpinan dan komponen penting seperti petarung dan fasilitator masih ada,’’ tegas Votel dalam tur perpisahan di Timur Tengah sebagaimana dilansir CNN.

Pesannya kembali menegaskan bahwa keberadaan militer AS di Syria masih penting. Persis seperti kesaksian Direktur Intelijen Negara Dan Coats di hadapan kongres minggu lalu. Meskipun, dia mengaku bahwa kekuatan angkatan bersenjata AS memang berhasil mendesak organisasi yang dipimpin Abu Bakar Al Baghdadi tersebut. ’’Tentu saya bangga dengan koalisi yang membantu Syrian Democratic Force (SDF) dalam peperangan sulit itu,’’ ujarnya.

Saat ini koalisi gabungan AS memang sedang melakukan serangan di markas ISIS yang terakhir di Syria Timur. Menurut Jubir SDF Mustafa Bali, sudah ada 41 titik yang dipegang di Provinsi Deir-el-Zour. Minggu (10/2) kelompoknya bergerak menuju Baghouz, desa terakhir yang disandera ISIS.

Namun, Votel merasa berat hati untuk mencabut semua kekuatan di Timur Tengah. Meskipun, dia tak bisa melawan perintah Trump sebagai commander in chief militer AS. ’’Prosesnya mungkin akan berjalan dalam hitungan minggu. Bergantung situasi di lapangan,’’ ungkapnya kepada Reuters.

Pria 60 tahun itu merasa lebih legawa jika peralatan militer berat yang ditarik lebih dulu. Menurut dia, tindakan tersebut akan mengurangi pengeluaran pemerintah AS. Namun, keberadaan tentara AS tetap diperlukan untuk menekan ISIS.

Tentu saja, Trump tak peduli dengan pendapat Votel. Hingga Minggu, suami Melania Trump itu masih merasa girang bahwa tentara AS bakal mengakhiri operasi militer yang berjalan empat tahun. Sesuai dengan perkiraannya pekan lalu.

’’AS sebentar lagi akan menguasai 100 persen wilayah ISIS di Syria. Apakah Anda percaya itu?’’ ujarnya melalui Twitter. Pesan tersebut menyentil CNN. Memang, Trump sering berkonfrontasi dengan media yang dijulukinya sebagai enemy of the state alias musuh negara itu.

Pengumuman tersebut bisa jadi dasar kuat bagi sang taipan untuk menarik seluruh tentara dari Syria. Juga bisa jadi anak tangga untuk menarik tentara di daerah konflik lain: Afghanistan. Dua negara itu adalah sasaran kebijakan Trump sejak Desember lalu.

Kemarin Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Pat Shanahan melakukan kunjungan tiba-tiba ke Afghanistan. Dia datang untuk melihat langsung kemajuan negosiasi perdamaian dengan Taliban. ’’Kaum Afghan yang harus memutuskan masa depan mereka. AS hanya mediator,’’ ujarnya menurut Associated Press.

Pada kesempatan lain, utusan AS untuk perundingan perdamaian Zalmay Khalilzad menyatakan bahwa kesepakatan bisa dicapai Juli nanti. Bulan itu Afghanistan dikabarkan melalui pemilihan presiden. Perdamaian tersebut nanti bisa jadi alasan Trump untuk kembali menarik putra-putri AS dari sana.

Votel sempat mengaku resah jika personel di sana ditarik sampai ke akar. Menurut dia, Taliban masih mampu untuk menumbangkan pemerintah. Hal itu terbukti pada insiden serangan di markas militer pemerintah Afghanistan di Provinsi Kunduz. Serangan tersebut membunuh lusinan tentara.

’’Jangan sampai AS melewatkan potensi ancaman. Di Afghanistan juga ada kelompok ISIS-Khorasan yang sebagian besar disokong dari imigran Pakistan,’’ tegasnya saat bersaksi di depan kongres. (bil/c22/dos)

Berita Terkait