Tebus Resep Obat ke Apotek-apotek Luar

Tebus Resep Obat ke Apotek-apotek Luar

  Rabu, 7 September 2016 09:35
TUTUP : Apotek Rakyat yang selama ini beroperasi di RSUD Ahmad Diponegoro Putussibau sudah ditutup, sehubungan berakhirnya kontrak dengan rumah sakit tersebut

Berita Terkait

 
Masa kontrak antara RSUD Achmad Diponegoro Putussibau dengan Apotek Rakyat yang dikelola oleh BUMD PD Uncak Kapuas berakhir 1 September kemarin. Berakhirnya kontrak tersebut, secara otomatis operasional Apotek Rakyat ditutup.

 

Musta’an,Kapuas Hulu

 

AKIBATNYA, rumah sakit mulai kualahan menyediakan obat-obatan generik tertentu, terutama bagi pasien peserta BPJS kesehatan. Selama ini, untuk memenuhi kekurangan obat di RSUD Achmad Diponegoro Putussibau, manajemen bekerja sama dengan Apotek Rakyat. Dengan ditutupnya Apotek Rakyat, keluarga pasien terpaksa harus menebus resep obat ke apotik-apotik diluar rumah sakit. Sehingga peserta BPJS kesehatan terpaksa mengeluarkan biaya tambahan yang mestinya obat-obatan itu tak mencari ke apotek diluar.

Menanggapi keluhan masyarakat atas kurangnya persediaan obat-obatan di RSUD, mantan Direktur Perusahaan Daerah (Perusda) PD. Uncak Kapuas Edy Suhita (Akok) menyarankan, supaya kontrak antara Apotek Rakyat dengan RSUD diperpanjang hingga tanggal 31 Desember 2016, sambil menunggu Perbup diterbitkan. Menurutnya, perpajangan perlu dilakukan agar tak terjadi krisis obat.

Pendiri Apotik Rakyat ini menyebutukan, hadirnya Apotik Rakyat milik daerah di rumah sakit untuk membantu rumah sakit. Mengingat selama ini rumah sakit dalam melayani pasien BPJS masih selalu kurang obat-obatan. Selain itu, 80 persen keuntungan dari kerjasama tersebut kembali ke RSUD dan 20 persen milik BUMD.

“Demi Rakyat, sambil menunggu Perbup, kontrak bisa diperpanjang,” ujarnya.

Kepala Bidang Penunjang RSUD Achmad Diponegoro Putussibau, Poltak Tambunan, Selasa (6/9) pagi membenarkan Apotek Rakyat yang selama ini telah membantu rumah sakit dalam menyediakan obat-obatan sudah ditutup.

“Dengan ditutupnya Apotek Rakyat, apa yang ada di rumah sakit itu lah yang diberikan kepada pasien.Rumah sakit bersama para dokter akan mengusahakannya,” paparnya.

Poltak mengatakan, kerjasama yang dilakukan antara RSUD dengan Apotek Rakyat selama ini dalam rangka pemenuhan obat-obatan di rumah sakit. Karena RSUD belum BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Sehingga tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan obat BPJS sesuai yang tercantum dalam formulrium nasional (fornas). “Kerjasama dengan Apotik Rakyat untuk penyediaan obat,” ungkap dia.

Poltak menjelaskan, sesuai aturan, jika obat dalam fornas tersebut ada di rumah sakir, pasien BPJS tidak boleh membeli keluar. Namun karena apotik ditutup, maka semua obat dikelola oleh rumah sakit yang nantinya akan di stock opname, hingga menunggu status RSUD menjadi BLUD berlaku. Jika tidak ada dirumah sakit maka pasien terpaksa menebus resep dokter ke apotek diluar rumah sakit itu.

Menurut Poltak, RSUD sudah ditetapkan sebagai BLUD sejak Januari 2016 lalu, sekarang masih dalam mengurus regulasi-regulasi untuk menjalankan BLUD.

“Rumah sakit ini memang belum siap melayani pasien peserta BPJS. Kecuali status BLUDnya sudah berjalan,” jelasnya.

Tidak hanya RSUD Achmad Diponegoro yang taksiap, rumah sakit lain yangstatusnya belum BLUD juga alamimasalah yang sama.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kapuas Hulu H. Muhammad Sukri membenarkan, ditutupnya Apotek Rakyat karena RSUD tak memperpanjang kontrak.

“Sementara di stop dulu sambil menunggu status BLUD benar-benar berjalan. Masalah kekurangan obat sedang diurus rumah sakit,” terang Sekda. Sambil menunggu efektif status BLUD dan Perbup, kekurangan obat memang menjadi dilema.

Dijelaskan Sukri, jika status BLUD bagi RSUD Achmad Diponegoro Putussibau sudah berjalan efektif, maka pengadaan obat-obatan tidak bergantung dengan pihak ketiga. “Status BLUD sudah, sekarang belum ada regulasi yang mengatur Pengadaan Barang dan Jasa,” jelasnya.

Mesti ada aturan yang harus dipenuhi seperti Perbup yang menyatakan RSUD boleh beli obat langsung,” papar Sekda. (*)

Berita Terkait