Tazki, Konsisten Akapela, Sasar Generasi Milenial Muslim

Tazki, Konsisten Akapela, Sasar Generasi Milenial Muslim

  Kamis, 6 June 2019 10:45
TAMPIL: Selama lima belas tahun Tazki konsisten dengan akapela di setiap penampilannya.

Berita Terkait

Pelan tapi pasti, kini nasyid menjadi media dakwah milenial muslim., salah satu nasyid yang tetap eksis selama lima belas tahun di Pontianak. Tampil secara akapela, bermusik Islami membuat Tazki membuka diri dengan berbagai musisi.

Syahriani Siregar

“Dem..dem..dem..dem..dem..crik..crik crik..jebs..jebs..jebs”. Iringan suara akapela yang berasal dari personel Tazki bersahut-sahutan mengiringi lagu shalawat yang dibawakan oleh vokalisnya. Di setiap penampilan, grup nasyid  yang beranggotakan lima orang ini tidak pernah menggunakan alat musik, namun bermodal suara yang dikeluarkan dari masing-masing personel menjadi indah saat didengarkan, bak suara musik aslinya. Ada bass, drum, kecrik dan lainnya yang ditirukan melalui mulut personel yang sudah sering berlatih.

Terbentuk di tahun 2004, semula Tazki merupakan grup nasyid ekstrakurikuler Rohis di SMAN 3 Pontianak. Seiring berjalannya waktu kini Tazki telah berkembang menjadi grup nasyid mandiri dan telah lima belas tahun berkarya dengan formasi personel yang silih berganti. Sudah tujuh kali berganti personel kini Tazki beranggotakan Edo Pradana Prasitha, M. Morin Noviansyah, Thoriqin, Edwar Ashari dan Khairin Akbar Putra.

Saat itu, akapela sempat tren dan menjadi salah satu aliran musik yang tidak menggunakan alat musik apapun. Grup Snada menjadi pionir grup nasyid Indonesia yang membawakan musiknya dengan akapela. Sempat hits dengan Neo Shalawat, musik Snada menjadi idola pelajar dan mahasiswa kala itu, termasuk Tazki yang menjadikannya inspirasi.

“Sebenarnya waktu sekolah dulu kami tidak ada alat musik seperti rebana, gendang, dan lainnya. Walaupun ada kami selalu pinjam atau sewa. Nah, sebenarnya keterbatasan itulah yang membuat kami memilih akapela,” kenang Edo.

Selain keterbatasan alat, Tazki yang kala itu hanya grup nasyid sekolah juga terkendala dengan transportasi. “Pergi lomba jauh-jauh sampai ke Siantan, angkut alat-alat musik yang besar pakai motor, ternyata capek juga,” ujarnya, terkekeh. Akhirnya, tak sampai dua tahun pakai alat musik, Tazki belajar akapela bersama para seniornya, dan bertahan hingga sekarang.

Tak banyak grup nasyid lokal yang bisa menjaga eksistensinya selama belasan tahun dengan akapela. Namun Tazki membuktikannya. Suasana kekeluargaan dan selalu terbuka antarpersonel menjadi kunci kekompakannya. Tazki juga dikenal selalu kompak berbusana di setiap kegiatan.

“Ciri khas Tazki memang selalu pakai seragam. Di setiap kegiatan, kami selalu gunakan seragam untuk nampil dan jalan-jalan. Bahkan untuk tidur dan berenang kami ada seragamnya,” ujar Edo terbahak.

Diakui Edo kedekatan personel juga bukan sekadar pribadi saja tapi juga hingga ke keluarga seperti orang tua dan istri masing-masing. Tak hanya itu, antarpersonel juga sering sharing masalah kerjaan, rumah tangga dan travelling bareng. “Kalau masalah kerjaan intinya saling merangkul, satu orang Tazki skill 20 persen, kalau berlima kan jadi 100 persen,” jelas Edo.

Tak ingin terbatas pada kalangan tertentu saja, Tazki membuka diri ke semua kalangan, terutama anak muda. Tak harus berbaju muslim, terkadang Tazki tampil mengenakan kaos dan kemeja di even-even tertentu. Tampil di kafe bersama para musisi lokal lain juga sering dilakukan Tazki. Meski dengan gaya berbeda Tazki tetap konsisten bershalawat.

“Dakwah dengan cara yang lebih universal. Tidak hanya di masjid, di manapun kan kita bisa berdakwah. Walaupun di kafe, tetap kami bawakan nasyid,” jelas Edo.

Sering dipertemukan di berbagai even bersama musisi lain, memberi ruang bagi Tazki untuk semakin membuka diri. Meski beda gaya, namun tidak ada rasa canggung dan jarak bagi Tazki. Semua berkarya dan membawakan lagu dengan genrenya masing-masing. Sebut saja Cofternoon dengan lagu cintanya, Manjakani dengan senandung alamnya, Puck Mude dengan lagu satirnya serta Kamil Onte dengan khas Melayunya. Tazki tetap konsisten dengan shalawatnya. Semua bersatu dalam perbedaan.

Keterbukaan diri yang dilakukan Tazki juga diterima baik oleh publik. Projek kolaborasi bersama musisi lokal terus berlanjut. Lagu Anak Dare Tue (2018) merupakan salah satu karya kolaborasi Tazki dan Kamil Onte yang sempat hits beberapa waktu lalu. Lebaran tahun ini, Tazki juga ikut menggarap single Lagu Lebaran yang merupakan projek kolaboratif musisi Pontianak.

Momen Lebaran juga dijadikan Tazki untuk silaturahmi bersama keluarga besar. “Lebaran jadi momen kemenangan kumpul bareng keluarga besar Tazki setelah lelahnya kami mengisi job Ramadan,” tutup Edo. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait