Tawon Teror 5 Kabupaten/Kota, Belasan Orang Tewas

Tawon Teror 5 Kabupaten/Kota, Belasan Orang Tewas

  Senin, 7 January 2019 14:57

TAWON kini telah menjadi hewan peneror yang mematikan. Teror tawon ini terjadi di sejumlah daerah di eks Karesidenan Surakarta. Tak main-main, sedikitnya 14 orang tewas terkena sengatan tawon sepanjang 2018.

Petugas pemadam kebakaran (damkar) pun bergerilya menggelar operasi tangkap tawon (OTT). Dalam setahun saja, lebih dari 600 kejadian serangan tawon ditangani petugas damkar di sejumlah wilayah.

Sukoharjo menjadi daerah yang paling menonjol terkait kasus sengatan tawon. Sepanjang Januari-Desember 2018, petugas damkar setempat telah memusnahkan 315 sarang tawon, baik di atap rumah warga, perkebunan, atap sekolah, dan lainnya.

Sepanjang tahun itu juga, sudah ada enam warga tewas terkena sengatan tawon jenis Vespa Affinis. Kasus terakhir menimpa warga Puri Gentan Asri I B5, Desa Gentan Kecamatan Baki, Sukoharjo Mukti Ali, 57. Ia tewas tersengat tawon ketika sedang membersihkan sarang tawon di rumahnya pada pertengahan Desember tahun lalu. Meski sempat dirawat, namun nyawanya tidak tertolong setelah dirawat di rumah sakit selama satu hari.

Tetangga korban Joko Indriyanto mengatakan, awalnya korban mau memusnahkan sarang tawon di plafon teras rumahnya. Namun, saat naik itu korban tidak sengaja menyentuh rumah tawonnya. Akhirnya, ratusan tawon yang ada di rumah tersebut menyebar dan menyerang Mukti Ali.

Tetangga yang melihat korban dikeroyok tawon berusaha menolong. Namun, saat diturunkan kondisi tubuhnya sudah dalam keadaan lemas. ”Setelah itu dia dilarikan ke rumah sakit. Dirawat semalam, ternyata nyawa Pak Mukti tidak tertolong. Akhirnya meninggal,” papar Joko.

Sebelumnya, pada awal 2018, Mitro Wiyono, 80, warga  Dusun Puluhan Desa Lawu Kecamatan Nguter Sukoharjo juga meninggal setelah disengat ribuan tawon. Saat itu, Mitro sedang mencari daun pisang di kebun. Dia tidak sadar bila di lokasi itu ada sarang tawon. Yakni berada di pohon belimbing setinggi 2 meter. 

Ketika mengumpulkan daun pisang tersebut, ribuan tawon menyerangnya. Mitro sebenarnya sudah berusaha lari menghindari serangan tawon. Namun, karena jumlahnya mencapai ribuan, dia tetap tak berdaya. 

Mitro kemudian pulang ke rumah dengan keadaan sakit. Dia mengalami luka memar memerah pada bagian muka, leher, tangan, dan punggung. Dia mengaku badannya panas dan gemetar. Mitro sempat dibawa ke bidan desa dan diberi obat. Namun, sesampai di rumah kondisinya kian memburuk dan akhirnya mengembuskan nafas terakhir beberapa jam kemudian.

Kepala Bidang (Kabid) Damkar Satpol PP Sukoharjo Margono mengungkapkan, kasus kematian karena sengatan tawon sudah kesekian kali terjadi di wilayahnya. Rata-rata korban meninggal setelah sehari atau beberapa jam dirawat di rumah sakit. 

Bahkan, petugas pun menjadi supersibuk melayani permohonan pemusnahan sarang tawon. Ukuran sarang tawon bervariasi, namun rata-rata bisa mencapai seukuran kepala orang dewasa. Sehingga warga biasa menyebut tawon endas (kepala, Red).

 “Memang kebanyakan sarang yang dimusnahkan berukuran sekepala manusia. Permintaan pemusnahan sarang tawon ini hampir merata di wilayah Sukoharjo,” ujar Margono.

Dalam memusnahkan sarang tawon tersebut, petugas menggunakan pakaian standar keamanan. Hal itu untuk menghindari sengatan tawon hingga berakibat kematian. Selain itu, petugas juga membawa kresek besar untuk menampung sarang tawon.

 ”Kalau rasa waswas memang ada. Tapi karena sudah tugas kami, maka kami siap membantu masyarakat. Karena efek dari sengatan tawon juga berbahaya,” terang Margono.

Selain menyerang manusia, serangan tawon juga meneror hewan ternak. Diakui Margono, dia memang belum mencatat jumlah hewan ternak yang mati tersengat tawon. Namun, seingatnya ada beberapa ekor kambing yang sudah menjadi korban keganasan tawon.

”Permintaan warga untuk pemusnahan sarang tawon sepanjang 2018 juga meningkat tiga kali lipat dibanding 2017,” papar dia.

Sengatan tawon juga menjadi teror bagi warga Klaten. Sepanjang Januari-Desember 2018, tercatat 207 kejadian sengatan tawon. Dari jumlah itu, ada lima korban meninggal dan satu ekor kambing tewas. Kemudian, pada Januari tahun ini tim OTT Damkar Klaten mencatat sudah ada lima kejadian penanganan sarang tawon.

Salah satu kasus sengatan tawon yang cukup tragis terjadi di awal tahun hingga mengakibatkan korban meninggal. Korban Marini Karno Mulyono, 70, harus menyerah dengan keganasan tawon Vespa Affinis yang menyerangnya saat dia tengah nyekar ke permakaman desa di Kelurahan Ketitang Kecamatan Juwiring, Klaten.

Kejadian yang sama juga menimpa kakek asal Dusun Jogodayah, RT 06/ RW 01, Desa Kalikotes Kecamatan Kalikotes, Klaten Bardiman, 67. Kakek malang ini meninggal dunia usai disengat ratusan lebah pada November 2018. Bedanya, Bardiman diserang kawanan tawon saat sedang membakar sampah dedanunan kering di kebun, tepat di bawah pohon manga yang dihinggapi sarang berukuran diameter 40 cm dan tinggi 50 cm. 

“Kondisi bapak memang tidak memungkinkan untuk lari menyelamatkan diri karena sudah tua. Hingga akhirnya bapak hanya bisa pasrah saat sekujur tubuhnya menyengatnya,” jelas Alfi, 36, anak pertama korban.

Saat coba diselamatkan warga, korban tetap saja disengat tawon meski sudah berpindah tempat. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi masih sadar. Meski dari bagian leher hingga kepala terdapat bekas sengatan lebah yang mulai menghitam.

Korban lantas masuk ke RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro untuk mendapatkan perawatan secara intensif. Tapi sayang setelah tiga jam mendapatkan perawatan Badirman menghembuskan nafas terakhirnya. 

Bagian Pendataan dan Dokumentasi Tim OTT Damkar Klaten Edy Setyawan menuturkan, karena banyaknya laporan warga, membuat pihaknya setiap hari terjun untuk melakukan OTT. ”Dalam sehari kami bisa sampai tujuh titik sekaligus. Rata-rata dalam  penanganan memakan waktu hingga dua jam tergantung posisi sarang tawon,” jelas Edy,

Paling sulit penanganan sarang tawon yang berada di rumah warga. Pasalnya petugas harus ekstra hati-hari untuk meminimalkan kerusakan bangunan saat OTT. Di samping itu, guna meminimalkan terjadinya sengatan kepada warga yang lebih luas lagi dilakukan penanganan menggunakan blower. Alat ini sangat berguna untuk menyedot seluruh tawon yang berterbangan di sekitar sarang. Hal ini dilakukan juga untuk memudahkan tim dalam penanganan saat mengambil sarang. 

“Penanganan tawon dilakukan berdasarkan skala prioritas. Mulai dari sarang tawon di rumah warga dan yang lingkungan banyak anak-anak. Jika tidak segera ditangani dikhawatirkan tawon membahayakan warga sekitar,” jelasnya.

Selain di Sukoharjo dan Klaten, kasus serangan tawon dengan jumlah yang lebih kecil terjadi pula di Wonogiri, Sragen, dan Kota Solo. Di Wonogiri dan Sragen, korban sengatan pun ada yang meninggal.  

Terbaru, sekitar sebulan yang lalu,  Ngatinem, 55, warga Dusun/Desa Tenggak Kecamatan Sidoharjo, Sragen meninggal setelah disengat tawon usai mencari rebung di kebun. Menurut ketua RT setempat Muhammad Husnul Azis, Ngatinem mencari rebung di barongan atau rerimbunan pohon bambu tidak jauh dari rumahnya. Usai mendapatkan rebung, tiba-tiba muncul kerumunan tawon usuk, lalu menyerang dan menyengat Ngatinem. 

“Kawanan tawon usuk itu membuat rumah di gundukan yang ada di rerimbunan pohon bambu. Mungkin merasa rumahnya terusik kemudian tawon keluar,” terang Azis.

Kawanan tawon usuk itu menyerang tangan dan tubuh Ngatinem yang sontak langsung berlari menyelamatkan diri. Tapi ternyata kawanan tawon itu masih tetap mengikuti Ngatinem sampai rumah. Bahkan ada yang sampai masuk ke dalam pakaian. 

“Para tetangga datang menolong dan ternyata di tubuhnya ada lima tawon usuk yang menyengat sampai tawonnya mati dan menempel di tubuh,” jelasnya.

Setelah kejadian itu, Ngatinem sempat diperiksakan ke bidan desa dan minum obat. Keesokan harinya juga diperiksakan lagi dan kemudian istirahat di rumah. Ngatinem diketahui telah meninggal saat beberapa jam kemudian ada saudaranya yang datang menjenguk. 

Di Wonogiri, nasib nahas justru menimpa seorang pencari madu, Adi Cipto Purwanto, 28, pada awal Desember lalu. Dalam kesehariannya, warga Dusun Duwet Desa Pasekan Kecamatan Eromoko itu memang mencari tawon gung untuk diambil madunya. Namun, pada hari itu, ia justru harus meregang nyawa.

Kapolres Wonogiri AKBP Uri Nartanti Istiwidayati melalui Kapolsek Eromoko Iptu Anom Prabowo mengatakan, korban meninggal akibat terjatuh setelah tersengat tawon gung. ”Sebelumnya ada temannya yang memanjat pohon kelapa disengat tawon. Kemudian, gantian korban yang memanjat, lalu tersengat tawon dan terjatuh. Tapi, karena tidak diotopsi, belum tahu apakah meninggal karena jatuh atau tersengat tawon,” kata Anom.

Menurut Anom,  tiga hari sebelumnya masih di wilayah Eromoko juga ada yang tersengat tawon gung dan opname di rumah sakit. “Tiga hari lalu juga ada, pencari rumput disengat satu tawon di lengannya, lalu ditepok tawonnya mati,” papar Anom. 

Di Solo, teror tawon pernah menyerang warga dan para pengendara bermotor yang melintas di Jalan Ir. Sutami, tepatnya di selatan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bhakti, Jurug Kecamatan Jebres. Serangga dengan nama latin Xylocopa Latipesini menyerang penumpang bus dan dua anak yang sedang mengendarai sepeda motor.

“Busnya parkir tepat di samping pohon (tempat sarang tawon, Red). Tawon langsung masuk ke dalam bus. Tidak tahu kemarin ada yang terdampak atau tidak,” kata Robin Sunarto, 32, pedagang asongan di sekitar TMP Kusuma Bhakti.

Di hari lain, Justicio Reyfaden Angga Triyanto, 13 dan Catur Sakti Yogi Mahendra, 14, diserang tawon saat melintas di sekitar TMP Kusuma Bhakti menggunakan sepeda motor. Dalam kondisi panik, Justicio dan Catur berusaha menghindari kejaran tawon. Nahas, sepeda motor yang mereka kendarai malah menabrak halte berjarak sekitar 100 meter dari TMP Kusuma Bhakti.

Catur mengalami luka akibat sengatan tawon di bagian paha kiri, punggung, kepala, serta mengeluh pusing dan sesak nafas. Sedangkan Justicio tersengat di bagian punggung, kepala, kaki, dan tangan serta mengeluh demam. Mereka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Kustati.

Merespons kejadian tersebut, keesokan harinya petugas damkar Surakarta langsung menyemprotkan busa ke arah sarang tawon. Ribuan tawon langsung berhamburan. Banyak juga yang berjatuhan karena lemas.

Kepala Dinas Damkar Surakarta Gatot Sutanto mengatakan, sarang tawon dalam kondisi rusak, berlubang pada bagian bawahnya. Dia menduga, penyebabnya sarang dilempar batu oleh warga. “Saya harap tidak ada lagi yang melakukan itu karena bisa membahayakan keselamatan mereka sendiri,” katanya.

Ditambahkan Gatot, fenomena serangan tawon mulai merebak di Kota Bengawan sejak awal 2018. Petugas pun gencar menggelar OTT. Kebanyakan terjadi di permukiman warga. ”Kalau korban sebenarnya banyak. Tapi, yang laporan ke kami sedikit,” pungkas Gatot. (yan/ren/din/kwl/atn/wa/bun/ria)