Tawarkan Wisata Hutan Mangrove yang Eksotis

Tawarkan Wisata Hutan Mangrove yang Eksotis

  Selasa, 27 September 2016 09:20
PESONA: Pantai Tengkuyung di Kubu Raya bisa jadi objek wisata alternatif di Kalbar. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pesona Pantai Tengkuyung Desa Nibung

Pantai Tengkuyung, Desa Sungai Nibung, Kubu Raya ini bisa jadi objek wisata alternatif bagi masyarakat Kalimantan Barat. Pantai sepanjang 17 kilometer itu menawarkan berbagai keeksotikannya.

ARIEF NUGROHO, Teluk Pakedai

ADA perasaan takjub ketika speedboat yang kami tumpangi tiba di homestay Pantai Tengkuyung, Desa Sungai Nibung, Senin (19/9). Deburan ombak dan desiran angin laut begitu terasa seakan menyambut kedatangan kami. 

Jembatan dan gertak kayu di tengah deretan pohon mangrove mencuri perhatian saya. Tak sabar rasanya ingin beranjak kursi speedboat dan melintasi gertak kayu di tengah mangrove itu.   

Sementara itu di sisi lain, seorang nelayan baru saja usai memukat ikan di tepian pantai. Kedua tangannya masih memegang jaring, sementara seorang lainnya menyiapkan wadah bakal ikan hasil tangkapan. 

Satu, dua dan tiga. Hanya ada tiga ekor ikan yang tersangkut di jaringnya. Selebihnya puluhan ekor ubur-ubur.

"Sekarang agak susah bang. Biasanya satu kali pukat bisa puluhan ekor yang nyangkut. Sekarang lihat saja sendiri. Banyak ubur-uburnya," ujar Udin.

Udin merupakan nelayan asal desa itu. Namun saat ini, dirinya dan beberapa warga desa sedang sibuk membuat menara pantau di kawasan mangrove tak jauh dari bibir Pantai Tengkuyung. 

Pantai yang terletak di sebelah selatan Desa Sungai Nibung itu kini menjadi tempat wisata baru bagi masyarakat, khususnya warga Kubu Raya dan Pontianak.

Bak sebuah mutiara yang tersembunyi dengan segala keeksotikannya, pantai itu masih terlihat alami dan asri.  Pantai sepanjang kurang lebih 17 kilometer itu memiliki tekstur pantai yang landai. Tak heran jika pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan itu sesekali menjadi pendaratan penyu.

Tidak hanya menawarkan panorama pantai yang indah, Desa Sungai Nibung juga menawarkan wisata hutan mangrove yang tak kalah eksotis. Rimbunnya pohon mangrove menjadi habitat berbagai satwa, kepiting, ikan, kepah, berbagai jenis burung dan jika beruntung, pengunjung akan bisa melihat tingkah primata, seperti Lutung dan Bekantan dari jarak dekat.  

Namun sayang, untuk menuju ke sana tidak mudah. Kurangnya sarana infrastruktur dan transportasi menjadi kendala tersendiri. Maklum, sebanyak 80 persen wilayah Desa Sungai Nibung masuk kawasan hutan lindung.   

Untuk sampai di sana, pengunjung harus menyewa speedboat dari Rasau Jaya menuju Desa Sungai Nibung dengan waktu perjalanan sekitar dua atau tiga jam. Di sepanjang perjalanan, pengunjung akan melihat bentang sungai dengan beragamnya vegetasi sungai Kapuas jelang muara. 

Berjejer pohon khas di sempadan Kalimantan, nipah yang pucuknya mencium paras sungai, ada bakau yang daunnya digoyang angin laut China Selatan. Di sekitar Kapuas terhampar pula lahan gambut dan hutan lebat, sayangnya, degradasi yang hebat selama 20 tahun terakhir mengancam keberadaannya. Termasuk mangrove.

Ribuan tahun silam sumberdaya alam hutan, tanah dan air telah bermuara pada proses kejadiaan kawasan elok ini. Ada pohon cemara, vegetasi bakau dan hamparan pasir nan luas tempat bermain dan menikmati keindahan pesisir Kubu.

Setelah tiba di Desa Sungai Nibung, perjalanan akan dilanjutkan menuju ke pantai melintasi sungai-sungai skunder yang dikelilingi hutan mangrove selama kurang lebih satu jam perjalanan.

Meskipun berada jauh dari hiruk pikuk kota, pengunjung tidak perlu khawatir. Sejak dibuka dan diresmikan menjadi desa ekowisata bahari, Pantai Tengkuyung dilengkapi dengan homestay yang dikelola oleh masyarakat. 

"Di sini yang mengelola masyarakat sendiri," kata Abdul Hadi, Kasi Pemasyarakatan Desa Sungai Nibung.

Menurut pria yang akrab disapa Dul Hadi ini, Desa Sungai Nibung sudah ada sejak tahun 1934. 

"Kampung ini sudah ada, jauh sebelum negara Republik Indonesia berdiri,” lanjutnya.

Sementara ekowisata bahari di Desa Sungai Nibung dimotori oleh Syarif Ibrahim, Kepala Desa Sungai Nibung bersama masyarakat. Dia adalah motivator kunci di balik pendirian pusat ekowisata bahari Desa Nibung yang disokong lembaga keuangan untuk pengembangan pertanian dan perikanan bernama IFAD melalui skema Coastal Community Development Development (CCDP) sejak tahun 2013.

Ibrahim mengatakan bahwa tidak kurang 90 hektare lahan di Sungai Nibung adalah mangrove. Oleh kelompok PSDA telah dibangun perlintasan (track) wisata berupa titian dan bangunan peristirahatan, tiga kamar homestay menghadap ruas sungai Nibung, ada pula lokasi perawatan dan pembesaran penyu di sisi timur. 

Biaya pembangunannya merupakan kontribusi CCDP-IFAD yang difasilitasi oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kubu Raya, warga desa, organisasi masyarakat sipil dan dukungan beberapa pihak termasuk Dinas Perkebunan, kehutanan dan pertambangan Kubu Raya. (*)

Berita Terkait