Tarif Interkoneksi Seluler Tertunda

Tarif Interkoneksi Seluler Tertunda

  Sabtu, 3 September 2016 09:30

Berita Terkait

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) memutuskan membatalkan pemberlakuan tarif baru interkoneksi antaroperator seluler yang seharusnya mulai berlaku Kamis (1/9). Keputusan diambil karena PT Telekomunikasi Indonesia keberatan.

Sesuai Surat Edaran Ditjen Pos dan Informatika Nomor 1153/M. KOMINFO/PI.0204/08/2016 tertanggal 2 Agustus 2016, tarif baru interkoneksi seharusnya berlaku mulai 1 September 2016. Namun, setelah surat edaran itu terbit, Telkom dan Telkomsel mengajukan keberatan kepada pemerintah dengan alasan tarif baru interkoneksi tersebut merugikan pihaknya.

Dua operator itu belum bersedia melengkapi dokumen penawaran interkoneksi(DPI). Dokumen tersebut berisi skema, tarif, dan layanan interkoneksi operator seluler yang diharapkan. Operator yang menyerahkan DPI ke Kominfo adalah XL, Indosat, Smartfren, dan Hutchison Tri Indonesia.

”Saat ini dokumen penawaran interkoneksi (DPI) belum lengkap terkumpul. Karena itu, penyelenggara dipersilakan menggunakan acuan yang lama,” jelas Plt Kepala Biro Humas Kominfo Noor Iza dalam keterangan resminya Kamis (1/9).

Untuk penundaan kedua, Kominfo beralasan, rapat dengar pendapat kedua antara Menkominfo Rudiantara dan Komisi I DPR yang sedianya dilaksanakan Selasa (30/8) tersebut tertunda.

Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah mengakui, pihaknya belum bersedia mengirimkan DPI sebelum mendapatkan jawaban secara tertulis perihal surat keberatan Telkomsel yang ditujukan kepada Menkominfo.

Telkomsel menyambut pembatalan tarif baru sehingga pihaknya akan tetap menggunakan biaya interkoneksi lama yang telah disepakati dalam perjanjian dengan operator lain. Acuan itu berlaku sejak 2014 sesuai pasal 18 Peraturan Menkominfo Nomor 8 Tahun 2006. ”Tarif ritel yang murah tidak cukup bagi pelanggan, harus diimbangi dengan kualitas jaringan yang baik dan merata,” ujarnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Taufik Hasan menilai, operator bisa menggunakan ketentuan lama atau ketentuan baru. ”Sifatnya B-to-B (business-to-business). Solusi hanya bisa ditetapkan setelah semua operator sepakat dan itu menunggu semua DPI terkumpul. Mungkin minggu depan,” jelasnya.

Taufik berharap tidak terjadi persaingan yang tidak sehat karena perbedaan penggunaan acuan tarif. Sebab, tarif yang berbeda berdampak baik untuk pelanggan. Dia meminta seluruh operator berkompetisi secara sehat, kooperatif, dan tetap bekerja sama. ”Terutama dalam interkoneksi. Kalau tidak, bisa rugi sendiri,” ucapnya.

Pengamat telekomunikasi Doni Ismanto menilai, tarif interkoneksi antara operator dan Telkom diperkirakan menggunakan tarif lama. Sementara itu, Indosat dan XL diperkirakan menggunakan tarif baru. ”Regulator absen dan membiarkan hukum rimba terjadi,” katanya. (gen/c5/noe)

Berita Terkait