Target Tanpa Titik Api Tahun Ini

Target Tanpa Titik Api Tahun Ini

  Selasa, 29 March 2016 09:39

Berita Terkait

PONTIANAK - Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Brigjen Pol Arief Sulistyanto  menargetkan zero titik api di wilayah hukumnya pada tahun 2016 ini. 

Menurut Arief, pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi lain, baik TNI, Manggala Agni BKSDA Kalbar maupun masyarakat serta membentuk 1.720 pleton siaga api di tiap desa di Kalimantan Barat. “Tahun 2016 ini, saya targetkan zero titik api dan tidak ada penindakan hukum. Karena saya berharap mampu melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya, Senin (28/3).

Untuk mencapai target zero titik api tersebut, pihaknya dan instansi terkait akan mengupayakan semaksimal mungkin melakukan pencegahan agar tidak ada titik api. Salaha satunya dengan membangun sinergisitas dengan instansi lain dalam menekan seminimal mungkin titik api sepanjang 2016 ini.

Selain itu, menurut Arief pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kodam XII Tanjungpura dan menyatakan kesiapannya untuk memobilisasi prajurit dalam melakukan sosialisasi pencegahan pembakaran hutan dan lahan dan lain sebagainya.

Kapolda Kalbar menambahkan, kendala yang mereka hadapi, yakni tidak memiliki sarana dan prasarana untuk memadamkan api, sehingga pihaknya sudah mengajukan kepada Presiden Joko Widodo untuk pengadaan mesin robin.

"Mesin robin dan selangnya, akan digunakan untuk memadamkan kebakaran ketika masih kecil, sehingga bisa menekan titik api yang ada," katanya.

Sementara itu, untuk langkah-langkah penegakan hukum, yakni menekan seminimal mungkin langkah tersebut, dengan lebih mengedepankan langkah-langkah pencegahan.

Seperti halnya dilakukan di beberapa wilayah, salah satunya di Desa Punggur Kabupaten Kubu Raya. Tahun 2015 lalu, kata Arief, Desa Punggur merupakan salah satu kawasan yang paling parah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bahkan area yang terbakar mencapai 100 ha lebih. “Dan kemarin, tim gabungan, yang terdiri dari Polri, TNI dan Manggala Agni ini menyusuri ke lokasi yang sama. Karena memang pada saat itu ada informasi titik api di sana,” kata Arief.

Diakui Arief, pada saat melakukan pemantauan di Desa Punggur, khususnya di Parit Kodim, tim sempat diadang oleh 30 orang warga yang mengaku sebagai kelompok tani. Namun, setelah dilakukan negoisasi  yang cukup alot dan diberikan pemahaman tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan, akhirnya Tim terpadu berhasil masuk menuju lokasi titik api untuk melakukan memadamkan api bersama warga.

“Memang kemarin sempat dihadang oleh 30 orang. Tapi itu hanya kesalahpahaman saja. Karena mereka fikir, tim akan melakukan penangkapan terhadap warga yang melakukan pembakaran lahan,” ungkap Arief. 

Menurut Arief, kelompok tani pembakar lahan sempat bersitegang mereka menyampaikan bahwa membakar lahan kurang dari dua hektar kenapa dilarang dan apa solusi yang ditawarkan pemerintah supaya masyarakat tiďak lagi membakar lahan dalam mengolah tanahnya.

Solusi yang ditawarkan peleton patroli desa,  yang tergabung dalam Tim  adalah adanya Rekayasa Tehnologi pertanian Tricodherma yang bisa merubah rumput dan ranting bisa membusuk dan menjadi pupuk tanpa harus dengan membakar.

Karena yang ahli dibidang pembuatan trico dherma adalah dari Dinas Pertanian,maka tim gabungan Peleton patroli Desa akan datang kembali menjumpai para kelompok tani untuk memberikan solusi bertani yang ramah lingkungan tidak harus dengan membakar. (arf)

Berita Terkait