Target 70 Persen Penderita TBC Terobati

Target 70 Persen Penderita TBC Terobati

  Kamis, 21 March 2019 09:59
TUNTASKAN TBC: Kota Singkawang terus berupaya menuntaskan kasus TBC, mulai dari menemukan hingga mengobati penderita TBC. Har/Pontianak Post

Berita Terkait

SINGKAWANG--Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang terus mencari penderita yang terkena Tuberkulosis (TBC) guna mengejar target eliminasi dari TBC ditahun 2030.  "Eliminasi ini artinya bahwa penyakit TBC dari tahun ke tahun bisa kita kendalikan," kata A Kismed, Rabu (20/3) kemarin. Pihaknya diminta oleh Kemenkes untuk mencari sebanyak-banyaknya kasus TBC yang ada di Kota Singkawang. 

"Untuk tahun 2018, sekira 800 orang yang kita temukan," ujarnya. Adapun langkah-langkah yang telah pihaknya lakukan, adalah mengobati penderita sampai tuntas selama 6 bulan.  "Kita obati penderita sampai betul-betul dinyatakan sembuh dari TBC. Karena, jika tidak tuntas maka proses pengobatannya bisa kembali dari awal dan lain sebagainya," ujarnya.  Menurutnya, penularan TBC sangat rentan melalui udara. "Seperti melalui batuk dan bersin saja bisa menular ke orang lain," ujarnya.

Dia juga menyebutkan, beberapa gejala TBC yang paling utama adalah jika seseorang mengalami batuk berdahak lebih dari dua minggu. Apalagi dahaknya disertai dengan darah.   Kemudian, gejala lainnya seperti nafsu makan berkurang, badan semakin kurus, dada sering sesak dan demam.  "Apabila ada masyarakat yang menemukan atau mengalami seperti itu, segera ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan," pesannya. 

Jika dinyatakan positip terkena TBC, nanti akan diberikan pengobatan selama 6 bulan atau sampai sembuh. "Dan obatnya gratis," ungkapnya.  Bila penderita bisa mengikuti pengobatan secara teratur, katanya, maka penyakit TBC yang dialami bisa disembuhkan. 

Dalam kesempatan yang sama, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Mursalin mengatakan, jika pihaknya ditargetkan untuk mencari penderita TBC sebanyak-banyaknya.  "Jadi bukan makin sedikit kasusnya makin bagus. Karena ditahun 2030 kita diharapkan eliminasi dari TBC. Sehingga, penyakit TBC bisa kita kendalikan," katanya. 

Jadi untuk mencapai di 2030, maka sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 diharapkan semua daerah bisa menemukan kasus TBC sebanyak-banyaknya.  "Untuk di Singkawang, Kementerian Kesehatan menargetkan kita dari 2016-2020 (puncaknya), kita harus menemukan sebanyak-banyaknya," ujarnya. 

Begitu dapat temuan, langsung diobati untuk memutus penularan. Karena, prinsip TBC inikan, kalau ada satu orang menderita TBC dalam setahun, dia bisa menularkan 10-15 orang kalau tidak segera di obati.  "Jadi sekarang konsep pemerintah untuk penemuan penderita TBC itu pasif dan aktif," ungkapnya. 

Pasif yang artinya menunggu dilayanan, namun begitu ada kasus didalam layanan maka secara intensif dilakukan penanganan.  Sedangkan aktif, dinas harus rutin turun ke lapangan dengan menggerakan kader dan petugas guna memberikan penyuluhan kepada masyarakat.  "Jadi kita yang datang ke masyarakat untuk menemukan kasus TBC yang sebanyak-banyaknya," jelasnya.  Menurutnya, target dari Kementerian Kesehatan untuk kasus TBC di Kota Singkawang adalah 70 persen dari perkiraan penderita TBC. 

"Misalkan di tahun 2018 terdapat penderita TBC di Singkawang 364 per 100.000 penduduk. Namun dikarenakan penduduk Singkawang sebanyak 215.000 penduduk, maka diperkirakan penderita TBC di Singkawang ada sebanyak 797 kasus," tuturnya.     Kemudian, dari 797 kasus TBC yang diperkirakan ini, jika disesuaikan dengan target Kemenkes sekitar 70 persen, maka yang harus pihaknya cari adalah sebanyak 559 penderita TBC. "Maka jumlah inilah yang harus kita temukan untuk diobati guna memutus penularannya, sehingga memasuki 2021 kasusnya diharapkan bisa menurun secara perlahan-lahan sampai 2030," katanya. 

Namun, untuk di tahun 2018 kemarin, pihaknya menemukan sebanyak 868 kasus TBC di Kota Singkawang.  Bagi penderita yang sudah positip TBC akan diobati di semua layanan, seperti rumah sakit dan puskesmas ataupun rawat jalan. "Obatnya gratis," katanya.  Selain dalam lingkup pemukiman warga, penularan juga menembus tembok tahanan.  Plt Kalapas Klas II B Singkawang, Walid mengatakan, sebanyak lima orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Singkawang diketahui positip mengidap Tuberkulosis (TBC).

"Terkait dengan lima orang warga binaan yang menderita TBC ini, akan terus kita berikan pengobatan dan pemeriksaan kepada mereka sampai betul-betul dinyatakan negatif dari TBC," katanya. Menurutnya, mereka yang terkena TBC juga sudah di isolasi untuk ditempatkan dalam satu kamar, sehingga tidak digabung dengan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang lain.  Selain itu, pihaknya pun akan rutin mensosialisasikan ke warga binaan pemasyarakatan (WBP) agar selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). 

"Sosialisasi ini terus kita lakukan secara Door to Door dengan mendatangi langsung warga binaan dari kamar ke kamar untuk diingatkan agar selalu menjaga kebersihan," jelasnya.  Bagi warga binaan yang merokok, pesannya, kalau dapat dikurangi untuk merokok di dalam kamar. "Tetapi carilah tempat atau area yang terbuka," pintanya. (har)

Berita Terkait