Tamu Bawa Masakan Kambing, Tuan Rumah Sediakan Es Sirup

Tamu Bawa Masakan Kambing, Tuan Rumah Sediakan Es Sirup

  Rabu, 22 May 2019 09:23
SILATURAHMI: Direktur Lingkar Perdamaian Ali Fauzi (empat dari kiri ) dan rombongan mantan narapidana terorisme mengunjungi Lapas Delta untuk melakukan silaturahmi dan menggelar buka puasa bersama di lapas tersebut (20/5). Boy Slamet/jawa Pos

Berita Terkait

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Napiter dengan Yayasan Lingkar Perdamaian 

Para narapidana terorisme dan tamu mereka yang merupakan mantan teroris bergurau tentang makanan serta bertukar kabar soal keluarga dan teman. Silaturahmi serupa dijalin yayasan yang dipandegani Ali Fauzi di lapas lain. 

MAYA APRILIANI, Sidoarjo 

DENGAN nada bercanda, Ali Fauzi mengingatkan para narapidana terorisme (napiter) yang hadir di aula. ”Jangan maksa buka dengan makanan kambing. Daripada darah tinggi nanti,” kata direktur Yayasan Lingkar Perdamaian itu. 

Seketika semua yang hadir di aula Lapas Kelas I Surabaya (Porong) kemarin sore (20/5) tergelak. Betapa tidak, hampir semua makanan yang tersaji di hadapan mereka berbahan dasar daging kambing. 

”Semua kambing, kecuali ini,” kata Hisyam alias Umar Patek, salah seorang napiter, sembari menunjuk kerupuk di depannya. Semua kembali tergelak. 

Suasana hangat dan penuh tawa memang mendominasi buka puasa bersama tersebut. Silaturahmi yang telah terjalin lama antara para napiter dan ke-23 mantan teroris yang tergabung di Yayasan Lingkar Perdamaian jadi kian erat.

Ada empat napiter yang hadir kemarin sore. Tiga di antaranya adalah Asep Jaya alias Aji alias Dahlan alias Yahya, Samsudin alias Fatur, dan Ismail Fahmi Yamsehu. Ketiganya dipidana seumur hidup karena kasus kerusuhan Ambon. 

Satu lainnya adalah Umar Patek. Mereka berempat merupakan napiter yang telah menyatakan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kemeriahan terlihat sejak sebelum magrib. Ada yang menata makanan di meja. Menyajikan minuman dan buah di karpet hijau. Sebagian lagi berbincang santai. Membentuk beberapa kelompok kecil di sisi kiri ruangan. 

Sepanjang acara, para napiter dan Ali Fauzi dkk berbincang sangat akrab. Sesekali terdengar gelak tawa. Perbincangan mereka seputar aktivitas yang dilakukan selama ini. Kabar keluarga dan teman yang mereka kenal. 

Ali mengatakan, berbagai masakan yang dia bawa kemarin sengaja dimasak khusus untuk acara tersebut. Daging kambing diolah dalam beragam menu masakan. Ada gulai, kari, dan daging kambing goreng. Bagi yang tidak mengonsumsi kambing, disediakan juga ayam goreng. 

Bagi Umar, berbagai masakan itu berkah. Sebab, napiter yang divonis penjara 20 tahun tersebut penggemar menu kambing.  

Dia juga bahagia karena bisa menyajikan minuman spesial bagi para tamunya. Es sirup susu yang menyegarkan. Meskipun, awalnya Umar enggan mengatakan bahwa minuman berwarna pink itu buatannya. 

”Saya cuma ngambil gelas saja,” ucap dia, lalu tersenyum. 

Menjelang berbuka, Umar beranjak dari duduknya. Meninggalkan rombongan yang bersiap untuk buka bersama dengan duduk berhadapan di karpet. 

Sekitar lima menit kemudian, terpidana kasus Bom Bali I itu kembali ke aula. Membawa dua plastik yang berisi tumpukan gelas. Dengan cekatan dia menata gelas di atas karpet. Diisi dengan es berwarna merah muda yang sangat dingin. 

Barulah kemudian Umar buka rahasia tentang resep es bikinannya. Menurut dia, membuat es itu mudah saja. Cukup dengan mencampurkan sirup dan susu kental manis. 

Sirup yang dia gunakan rasa cocopandan. ”Nggak ada nama khusus. Ya es sirup saja,” kata Umar, lantas tersenyum. 

Tak hanya jago membuat es, Umar yang sudah mendapat remisi enam bulan itu juga piawai membuat sate. Banyak yang mencari sate ayam buatannya. 

Dalam acara buka puasa kemarin pun, awalnya Umar ingin menyajikan sate buatan tangannya. Tapi, Ali dan rombongan telah menyediakan makanan. Sate pun urung disajikan. 

”Nanti (sate ayam, Red) tidak dilirik,” ujar Umar, bercanda. 

Bukan hanya Umar yang menikmati sajian kambing. Ismail pun begitu bahagia karena bisa bertemu dengan menu kesukaannya. Maklum, di lapas dia jarang bertemu dengan masakan kambing.

Ismail sampai nambah makan dua kali. Kali pertama, dia khusus menyantap nasi dan gulai kambing. Di kesempatan kedua, mantan anggota polisi itu menikmati kambing goreng yang tampilannya memang menggoda. 

”Ada menu daging, tapi daging sapi,” katanya tentang menu harian di lapas. 

Sekarang menu di lapas diakui Ismail enak-enak. Berganti-ganti tiap hari. Ada ayam, telur, ikan segar, dan daging. Tidak ada lagi ikan asin.

Tak sekadar membawa makanan, Ali dan teman-teman juga membawa buah tangan yang berupa kurma, sarung, dan amplop untuk napiter. Mereka menggalang dana untuk membantu para napi dan keluarga. 

Tiap bulan para anggota Yayasan Lingkar Perdamaian urunan. Nominalnya beragam. Mulai Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Yang memiliki pekerjaan lebih mapan bisa memberi hingga Rp 500 ribu. 

Dana tersebut digunakan, salah satunya, untuk menjalin silaturahmi dengan para napiter. Bukan hanya di Lapas Porong, tapi juga di Nusakambangan dan penjara lain. Misalnya Lapas Lamongan. Termasuk untuk istri dan anak-anak napi. 

Acara buka puasa tersebut merupakan kali ketiga. ”Rutinitas tiap tahun untuk jalin silaturahmi. Menjaga ukhuwah dan merajut perdamaian,” tutur Ali. 

Menurut dia, kedatangannya dan eks teroris lain bertujuan berempati. Memberikan dukungan. Khususnya bagi yang belum mendapatkan grasi dan remisi seperti Fatur, Asep, dan Ismail. 

”Kami aktif melakukan advokasi untuk mereka yang memang sudah benar-benar kembali ke NKRI,” ujarnya.

Dalam lapas, mereka bertiga pun sudah berubah. Perubahan itu ditunjukkan melalui beragam kegiatan yang bermanfaat. Misalnya, Fatur aktif berkebun. Di dalam blok F, dia menanam beragam tanaman. Misalnya, jagung dan sayur-sayuran. Saat ini dia mengembangkan tanaman melalui metode hidroponik. 

Sementara itu, Asep masih aktif menulis. Dari dalam bui, dia sudah meluncurkan sebuah buku. Adapun Ismail piawai budi daya lele di kolam dekat blok yang dia tempati. 

Kepala Lapas Kelas I Surabaya Suharman menyambut positif kegiatan Ali Fauzi dkk. Dia berharap mereka bisa menularkan hal-hal baik kepada warga binaan. Terutama para napiter. ”Kegiatan rutin seperti ini patut didukung,” katanya. 

Saat ini di Lapas Porong ada enam napiter. Jumlah tersebut paling banyak jika dibandingkan dengan penjara lain di Jawa Timur. Total napiter di wilayah Jatim saat ini 31 orang. Tersebar di 16 lapas. Dengan jumlah yang beragam. 

Di Lapas Porong, masih ada dua napiter yang tidak ikut buka puasa bersama. Mereka kemarin bertemu dengan Syaifuddin Umar alias Abu Fida yang ikut dalam rombongan. Pria yang dikenal sebagai motivator ulung itu berpesan kepada napiter agar menjaga silaturahmi. ”Berteman dengan siapa saja,” katanya. 

Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas I Surabaya (Porong) Bambang Sugianto yang selama ini mendampingi napiter menyatakan bahwa pihak lapas senantiasa membimbing para napi. Deradikalisasi terus dilakukan. 

Bukan hanya pihak lapas yang berperan. Tapi juga pihak lain: pemerintah, tokoh masyarakat, dan keluarga. ”Empat pilar harus saling berkaitan,” katanya. (*/c11/ttg)

Berita Terkait