Takut Diretas, Batasi Jangkauan Pengiriman Data Nuklir

Takut Diretas, Batasi Jangkauan Pengiriman Data Nuklir

  Kamis, 29 November 2018 10:47
Muhammad Subekti Bikin Aplikasi Sistem Monitoring Reaktor Nuklir Online (Simor) | Foto : Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Berita Terkait

Fasilitas reaktor nuklir perlu diawasi secara terus-menerus selama beroperasi. Pengawasan oleh manusia tidak luput dari potensi kealpaan. Melalui aplikasi Simor (Sistem Monitoring Reaktor Nuklir Online), Muhammad Subekti berupaya menghadirkan sistem pencegahan gangguan lebih dini.

M. HILMI SETIAWAN, Tangerang Selatan

DI DEPAN deretan layar monitor, Muhammad Subekti tampak serius menjelaskan pengoperasian simulasi reaktor nuklir digital di kompleks Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Serpong, Tangerang Selatan (19/11). Tamunya saat itu adalah rombongan dari Tsing Hua University, Tiongkok.

Mereka datang jauh-jauh dari Tiongkok untuk melihat fasilitas nuklir milik Batan. Ada juga penjajakan kerja sama. Setelah sekitar 30 menit, diskusi yang terlihat gayeng itu selesai. Semuanya keluar dari ruangan yang menempel dengan lobi gedung ’’80’’ Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) Batan itu.

Sejurus kemudian, Bekti –nama panggilan Muhammad Subekti– mengajak ke ruang kerjanya di lantai 2. Ruangan itu tidak begitu luas. Di sudut dekat pintu sudah bergerombol mahasiswa magang duduk mengitari meja besar. Di tengahnya ada sejumlah perangkat pemantauan reaktor nuklir dan beberapa komputer.

’’Beginilah keseharian kami,’’ kata Bekti sambil membuka laptopnya. Dia kemudian menunjukkan aplikasi pemantauan reaktor nuklir secara online karyanya. Untuk pengoperasiannya, laptop milik Bekti harus tersambung dengan jaringan wifi khusus. Butuh beberapa waktu untuk menyambungkannya.

Setelah aplikasi beroperasi, pria kelahiran Madiun, 18 Juli 1973, itu menjelaskan kegunaannya. Tampilan aplikasi Simor masih terlihat kaku. Ada beberapa panel parameter atau indikator. Dilengkapi gambar tabung reaktor dengan slang saluran yang menjulur ke beberapa titik.

Bekti mengatakan, sejumlah grafis indikator menunjukkan beberapa kondisi pada sebuah reaktor nuklir. Mulai kondisi temperatur, tekanan, posisi batang kendali, hingga radiasi yang dipancarkan. Berdasar informasi dari kondisi aspek-aspek tersebut, aplikasi Simor bisa menunjukkan apakah sebuah reaktor nuklir sedang sehat atau tidak.

Aplikasi Simor mendapatkan data kondisi tersebut dari fasilitas reaktor nuklir. Data tersebut dikirimkan secara nirkabel dengan menggunakan fasilitas internet. ’’Untuk sementara, jangkauannya 300 meter,’’ kata dia. Karena menggunakan fasilitas internet, sebenarnya tidak ada kendala jarak. Kondisi reaktor nuklir Batan di Serpong bisa saja dipantau dari Amerika Serikat. Namun, faktor keamanan data menjadi pertimbangan utama dalam pengoperasian Simor. Keamanan pengiriman data fasilitas nuklir yang menggunakan internet harus dipastikan. Jangan sampai di tengah jalan datanya diretas. Kemudian, oleh si peretas, dijadikan pintu masuk untuk mengoperasikan fasilitas nuklir seenaknya. Dengan tujuan merusak. Contoh kasus peretasan fasilitas nuklir pernah dialami Iran pada 2014. Di tahun yang sama, reaktor nuklir Korea Selatan juga sempat diretas.

Bahkan, untuk internal Batan sendiri, implementasi peranti lunak Simor harus melalui diskusi berbulan-bulan. Inti diskusinya, Bekti harus bisa menjamin keamanan data fasilitas nuklir. Data operasional reaktor yang dikirim dari gedung Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) harus bisa dijamin keamanannya. Meski, pengiriman data dari gedung reaktor ke gedung PTKRN hanya berjarak 100-an meter.

Akhirnya, setelah mendapat persetujuan, aplikasi Simor diterapkan. Data operasional reaktor nuklir di gedung RSG-GAS dikirim ke komputer Bekti. Kemudian, secara otomatis diolah oleh aplikasi Simor. Data tersebut meliputi temperatur, tekanan, posisi batang kendali, dan pancaran radiasi.

Sebelum menerima data tersebut, aplikasi yang dibuat Bekti sudah dibekali dengan kecerdasan buatan. Namanya adalah Auto-Associative Neural Networks (AAN). Kecerdasan buatan itu dikembangkan sendiri oleh Bekti. Dengan bekal kecerdasan buatan tersebut, aplikasi Simor bisa menyimpulkan apakah pengoperasian reaktor nuklir bermasalah atau normal.

Untuk urusan suhu, misalnya, aplikasi tersebut akan menganalisis temperatur yang berjalan normal atau tidak. Misalnya, ada di kisaran 21 derajat Celsius sampai 51 derajat Celsius. Kemudian, ada perubahan daya sekitar 25 persen, tetapi temperaturnya naik secara signifikan. Nah, pada kondisi itu, indikator yang menunjukkan anomali akan berkedip-kedip. Secara otomatis juga aplikasi Simor akan menganalisis penyebabnya. Apakah pada perangkat pompa atau peranti lain. Jadi, hebatnya aplikasi Simor karya Bekti tersebut, tidak hanya mengetahui ada kondisi tidak normal secara dini. Tetapi, juga mampu menganalisis potensi penyebabnya.

Dengan demikian, petugas atau operator reaktor nuklir bisa mendapatkan peringatan dini dengan cepat. Selain itu, memperoleh hasil analisis titik kerusakan dengan cepat. Dengan demikian, bisa secepatnya dilakukan penanganan atau perbaikan.

Suami Atin Liswandani itu mengatakan, informasi peringatan dini merupakan unsur penting dalam fasilitas reaktor nuklir. Dia mencontohkan kerusakan fasilitas reaktor nuklir di Three Mile Island (TMI), Amerika Serikat, pada 28 Maret 1979. 

Bekti menceritakan, kecelakaan nuklir di TMI tersebut diawali adanya anomali. Namun, anomali tersebut tidak diketahui sejak awal. Kemudian, fasilitas reaktor nuklir kolaps. ’’Terjadi pelelehan di reaktor,’’ ungkapnya.

Dengan aplikasi Simor, operator nuklir bisa mengetahui gejala tidak normal jauh sebelum terjadi kerusakan parah. Dengan demikian, mereka memiliki waktu yang cukup untuk melakukan perbaikan. (*/c10/oni)

 

 

 

Berita Terkait