Tak Takut Ungkap Kebenaran

Tak Takut Ungkap Kebenaran

  Selasa, 27 September 2016 09:28

Berita Terkait

Ayah Tjhai Chui Mie, Cong Kim Chong, pernah menjabat sebagai Ketua RT. Setiap ada urusan surat menyurat, ia membantu mengurusnya. Dari sinilah perempuan yang akrab dipanggil Chui Mie ini mengetahui bahwa mengurus surat menyurat sulit. Inilah yang melatarbelakanginya terjun ke politik dan menjadi anggota legislatif di Kota Singkawang. 

Oleh: Agus Pujianto

Chui Mie terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Cong Kim Chong dan ibunya Tjai Lin Ngo. Perempuan kelahiran 27 Februari 1972 ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. 

Saat itu, orangtua Chui Mie punya usaha kecil-kecilan, sebut saja home industri minyak kelapa. Di sini, Chui Mie banyak membantu pekerjaan ayahnya. Maklum, saudara Chui Mie semuanya perempuan.

“Saya dulu penjual minyak kelapa. Sambil sekolah, bantu orangtua jualan minyak kelapa. Setelah itu kerja juga di toko bagian admin, sekitar delapan tahun,” kata perempuan berusia 43 tahun ini ketika bertandang ke Graha Pena Pontianak Post, Sabtu (24/9).

Chui Mie dididik mandiri oleh kedua orangtuanya sejak kecil. Cong Kim Chong mendidik anak-anaknya penuh dengan motivasi. Saat berada di meja makan pun, sang ayah kerap mengajarkan anak-anak perempuannya agar mau bekerja keras, jujur dan tekun sebagai bekal hidup. Ada pula selingan cerita sejarah Presiden RI pertama, Soekarno saat menikmati menu makanan.

“Didikan orangtua dulu tidak secanggih sekarang. Dulu saya siang kerja, sekolah terus malam harus makan satu meja bersama keluarga. Pasti kumpul, jarang makan sendiri,” sebut Chui Mie.   

Pada kesempatan makan bersama itulah, Cong Kim Chong menanamkan budi pekerti dan etos kerja. “Ayah mengajarkan kami bagaimana bekerja keras jujur tekun dan sebagainya jika ingin jadi orang. Kita jadi seseorang itu tidak gampang, mesti ada perjuangan agar bisa jadi orang,” katanya berkisah. Hingga sekarang, wejangan ini tetap ia pegang.

Ayahnya juga mengajarkan jika ingin menjadi seseorang yang berhasil, harus ada proses yang dilewati. “Selagi kamu normal, kamu akan melewati itu semuanya, bahwa sebuah hasil, membutuhkan proses. Yang namanya kerja, ikut aturan main, itu sudah pasti. Dan ini yang selalu diajarkan pada kami,” katanya menambahkan. 

Chui Mie juga diajarkan untuk tidak pernah takut mengungkapkan kebenaran dan siap menanggung konsekuensi setiap perbuatan.

Setelah beranjak dewasa, Chui Mie menikah dengan Lim Hok Nen. Kendati sudah menjadi ibu rumah tangga bagi suami dan anaknya, dia mencuri waktu untuk kuliah di Universitas STIE Mulia, Singkawang lulusan tahun 2011. Dari sini, karir politiknya dimulai.

Ditambah lagi sang ayah pernah menjadi ketua RT dan Chui Mie membantu mengurus surat menyuratnya. Dari sini, dia tahu jika ternyata mengurus surat menyurat sulit. Ini juga yang melatarbelakanginya terjun ke politik.

Sebenarnya, tahun 2004 silam, dia sudah mulai ikut terjun di dunia politik. Hanya saja, belum total. Dia mengaku hanya sekadar memenuhi kuota keterwakilan perempuan. “Kemudian saya ikut pencalonan lagi, jadi suara terbanyak jadi ketua dewan,” katanya.

Chui Mie pun pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Singkawang periode 2009 hingga 2014. Karirnya di politik cukup mulus. Dia banyak belajar bersama seniornya, termasuk di antaranya mantan Wali Kota Singkawang, Hasan Karman. Selama menjabat di pucuk pimpinan legislatif, dia banyak melihat banyak aduan masyarkat. Terlebih urusan surat menyurat.

Dia beranggapan, seharusnya proses perizinan segala hal bisa dipermudah. 

“Jadi sekarang kalau misalnya ikut membuat aturan, jangan sampai mempersulit masyarakat. Aturan itu jangan lihat siapa dia, tapi bagaimana mempermudah masyarakat siapapun dia, agamanya apa sukunya apa kita permudah masyarakat, agar semua urusan gampang dan masyarakat bisa lebih enak bisa investasi dalam apa saja, kita bisa membantu pemerintah. Kerja lebih enak juga,” ungkapnya.

Chui Mie juga menilai seharusnya semua peraturan yang dibuat pemerintah, harus bersentuhan langsung dengan masyarakat. “Jadi kita harus melihat sesuatu itu lebih ke masyarakat umum,” ujarnya.

Sebelum terjun ke politik, Chui Mie sering ikut kegiatan sosial di sejumlah organisasi.  Hingga saat ini, dia juga masih tercatat menjabat ketua di dua yayasan yakni Majelis Tao Indonesia (MTI) dan Perkumpulan Hakka Singkawang. **

Berita Terkait