Tak Tahu Pulpen Laduni, Hanya Diajari Tuyul dan Fulus

Tak Tahu Pulpen Laduni, Hanya Diajari Tuyul dan Fulus

  Senin, 3 Oktober 2016 11:36
FOTO RADAR CIREBON

Berita Terkait

CIREBON- Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditangkap polisi setelah terlibat pembunuhan. Tapi, yang heboh tentu bukan kasus pembunuhannya. Yang heboh dari pria asal Probolinggo, Jawa Timur, itu justru soal uang yang dimiliki Dimas Kanjeng. Terutama uang yang dimiliki melalui cara yang tak lazim, yakni proses penggandaan dengan doa-doa tertentu.

Nah, beberapa santri atau pengikuti Dimas Kanjeng di Blok Kapling, Desa Tegalgubug, Kabupaten Cirebon, yakin uang yang ditarik sang guru itu merupakan uang asli. Salah satunya Makhdzlor (62). Meskipun tidak melihat secara langsung proses penarikan uang gaib, namun ia meyakini bahwa proses itu benar-benar terjadi.

Dikatakan, uang yang ditarik oleh gurunya tersebut tidak bisa langsung dipakai karena harus menunggu rentang waktu tertentu yang tidak bisa dipastikan.

“Jadi uang yang ditarik itu asli, cuma masih proses, belum sempurna. Nah untuk sempurna itu butuh waktu. Jadi uangnya harus disimpan, menunggu kehendak Allah. Kalau kata Allah besok, ya besok. Tapi  kalau kata Allah 10 tahun lagi, ya 10 tahun lagi. Tinggal kita nunggunya ikhlas atau enggak, begitu saja,” jelas Makhdzlor saat diwawancara Radar Cirebon (grup JPNN), Minggu (2/10).

Makhdzlor mengaku tidak pernah membeli ataupun mengetahui barang-barang yang konon dijual oleh Dimas Kanjeng, seperti pulpen laduni. Dia mengaku hanya diberi amalan dan bacaan doa yang nantinya diamalkan. Salah satunya selawat tuyul. 

Dikatakan, salawat tuyul hanyalah istilah. Amalan atau bacaannya sedikit, tapi manfaat atau hasilnya banyak.

“Ada juga yang disebut selawat fulus. Ini hanya istilah, bacaannya pun sama,” tuturnya.

Dia juga mengklarifikasi bahwa jumlah santri dari Dimas Kanjeng di wilayahnya tak banyak seperti yang beredar beberapa hari belakangan ini. Meskipun tak mengatakan secara persis angkanya, namun diakuinya bahwa jumlah mereka tidak lebih dari 20 orang.

“Kita ada pengajian rutin setiap malam minggu. Kalau kumpul paling banyak ya tidak lebih dari 20 orang. Itu pun mayoritas keluarga semua,” ujarnya.

Ia dan sejumlah santri pun tak setiap waktu ke Probolinggo. Hanya saat-saat tertentu saja, terutama saat ada istigosah di Padepokan Dimas Kanjeng.

“Ke sana kan perjalannya jauh, butuh biaya dan waktu. Tentunya tidak setiap saat. Hanya kalau lagi ada uang lebih, baru ke sana,” imbuhnya. (dri/jpnn)

 

Berita Terkait